<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088</id><updated>2012-02-16T18:00:30.716-08:00</updated><category term='reportase'/><category term='resensi'/><category term='event'/><category term='(anti)-konsumerisme'/><category term='cerpen'/><category term='tentang kita'/><category term='modern'/><category term='diskusi'/><category term='artikel'/><category term='esai'/><title type='text'>Komunitas Literasi Idefix - Makassar</title><subtitle type='html'>Perpustakaan Komunitas, Media Tanding, Keluarga Kecil dan Setumpuk Film.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-1401083301614681368</id><published>2010-01-27T06:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T06:52:21.317-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Malas: Hak Dasar Manusia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.jalasutra.com/images/buku/1807090846hak%20untuk%20mls.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 219px; height: 308px;" src="http://www.jalasutra.com/images/buku/1807090846hak%20untuk%20mls.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resensi Buku "Hak Untuk Malas" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Judul&lt;/span&gt; :&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;Hak untuk Malas&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penulis :&lt;/span&gt; Paul Lafargue&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dimensi&lt;/span&gt; : 18 x 13 cm, 74 hlm.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penerbit&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:&lt;/span&gt; Jalasutra, 2008&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peresensi&lt;/span&gt; : Rikki Rikardo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali aku melihat buku ini, aku bersyukur bahwa pada akhirnya sebuah teks klasik penting akhirnya beredar di Indonesia. Apa yang patut diperhatikan dari buku tipis ini adalah bahwa ini buku Marxis, walaupun rata-rata para Marxis yang kukenal di Indonesia (sengaja) melupakan pentingnya teks terpenting dari menantu Karl Marx ini. Ada banyak alasan mengapa Karl Marx dan Friedrich Engels tampaknya menghindari argumen seperti yang diajukan di buku ini dalam tulisan-tulisan mereka. Pada 1840, saat mereka berdua melangkah pada sosialisme, gerakan pekerja “menderita” karena termakan skema utopia tanpa memahami bagaimana mereka harus berjalan ke arah tujuan tersebut. Perlu diperhatikan bahwa baik Marx ataupun Engels sama sekali tidak menentang utopia, seperti gambaran tatanan dunia yang dikemukakan Thomas Moore. Tetapi sebagai praktisi, keduanya merasa bahwa terdapat sebuah gap besar antara visi mengagumkan William Weitling, Charles Fourier dan Robert Owen serta beberapa lainnya, dengan kenaifan yang diderita oleh para pemikir besar tersebut dalam perjalanannya menuju ke sana. Atas hal tersebut, Engels menelurkan buah pikirannya dalam Anti-Duhring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon Engels atas pemikiran para sosialis utopis sangat jelas–tak ada utopia yang berguna sama sekali, kecuali penulisnya paham kelompok mana dalam masyarakat yang dapat membawa masyarakat ke arah cita-cita tersebut. Dalam konteks ini, Marx dan Engels dapat dikatakan hanya menelurkan teori transisional. Kontras dengan Rosa Luxemburg, apa yang dianggap penting oleh Marx dan Engels saat itu adalah cara untuk mencapai tatanan masyarakat baru tersebut, bukan apa yang harus dilakukan saat tiba di sana. Atmosfir yang sama juga menghinggapi gerakan pekerja semenjak saat itu. Marx memang memberi jejak tentang masyarakat masa depan tersebut dalam pasase Ideologi Jerman dan Perang Sipil di Perancis. Kemudian, di pertengahan kecamuk Revolusi Oktober 1917, Lenin merumuskan masa depan negara setelah para pekerja berhasil melakukan pemberontakan. Pamfletnya, Negara dan Revolusi, memprediksikan bahwa revolusi akan menghapuskan aparatus koersif dari negara. Tanpa ketidakadilan tak akan eksis kelas sosial, dan tanpa kelas sosial apa perlunya lagi ada polisi? Tapi sekali lagi, tak ada literatur yang eksis kala tersebut, termasuk dalam bentuk fiksi, yang membantu para pekerja untuk dapat memikirkan bagaimana masyarakat pasca-kapitalis dapat berjalan. Mungkin absennya diskusi mengenai hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa sangat sedikit kaum radikal yang mampu melakukan langkah yang penuh imajinatif dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absennya teks-teks utopis dalam tradisi Marxis membantu menjelaskan tentang mengapa buku Lafargue mengenai kemalasan ini menjadi penting. Dalam dua decade terakhir di abad ke-19, buku Lafargue menjadi satu dari beberapa buku paling popular yang dijual pada saat berlangsungnya Internasional Kedua. Pertama kali dipublikasikan sebagai sebuah serial tulisan dalam koran L’Égalité (Kesetaraan), Le droit à la pareses hadir sebagai buku tipis pada 1881, dan dicetak ulang pada 1883, 1898 dan 1990. Merujuk pada keterangan Alexandre Bracke, seorang sosialis, pamflet sosialis yang paling banyak diterjemahkan setelah Komunis Manifesto adalah karya Lafargue ini–yang bahkan telah diterjemahkan lebih dahulu ke dalam bahasa Rusia sebelum Manifesto. Hak untuk Malas adalah sebuah teks klasik penting yang telah tersebar dan dibaca secara luas pada masanya, tetapi Lafargue sendiri justru seakan dilupakan dalam lingkar-lingkar kelompok radikal dewasa ini. Tetapi dengan terbitnya teks ini, yang apabila memang dapat beredar dan dipelajari di lingkar-lingkar radikal, akan hadir diskusi menarik mengenai apa relevansi teks Lafargue khususnya di Indonesia saat ini, ratusan tahun dari semenjak pertama kali dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja: Sebuah Kegilaan yang Aneh&lt;br /&gt;Hak untuk Malas adalah sebuah karya jenius. Di sini Lafargue bermain-main dengan kegusaran dan sarkasme yang sebelumnya tak pernah ia gunakan dalam tulisantulisannya. Struktur pertamanya mirip dengan kalimat pertama dalam Manifesto Komunis, “Sesosok hantu tengah bergentayangan di Eropa–hantu Komunisme”. Bedanya, Lafargue menekankan bahaya yang mengerikan dan perlu dihindarkan, dalam kalimat pembukanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu khayalan aneh merasuki kelas pekerja di bangsa-bangsa di mana peradaban kapitalis mencengkeramkan kekuasaannya. Khayalan ini selalu membawa serta rangkaian kesengsaraan individual dan sosialnya yang selama dua abad telah menganiaya umat manusia yang berduka. Khayalan ini adalah kecintaan kepada kerja, yang didesakkan bahkan sampai habisnya kekuatan vital individu serta cucucucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh negatifnya, Lafargue mengambil kerja tujuhpuluh jam seminggu yang dipraktekkan di Perancis akhir abad ke-19. “Bekerjalah, bekerjalah kaum proletar, untuk meningkatkan kemakmuran sosial dan kemiskinan individualmu. Bekerjalah, bekerjalah agar, karena menjadi lebih miskin, kalian bisa punya lebih banyak alasan untuk bekerja dan menjadi sengsara. Begitulah hukum produksi kapitalis yang tak bisa ditawar-tawar.”(hal.25). Dalam posisinya, Lafargue menganjurkan agar waktu luang terus diperbesar–bukan tipe waktu luang industri yang kita kenal sekarang yang hanya digunakan untuk mereproduksi energi pekerja agar dapat dihisap keesokan harinya tentu saja. “Proletariat haruslah membiasakan diri untuk tidak bekerja, kecuali hanya tiga jam&lt;br /&gt;sehari, dan menyediakan seluruh waktu lainnya siang dan malam untuk bersantai dan berpesta.” (hal.31-32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang juga menonjol dalam karya Lafargue adalah digunakannya sumber-sumber klasik dan bahkan juga sumber yang lebih tua, di mana keluangan dilihat sebagai sebuah kebaikan tertinggi, bukannya kerja permanen. Bahkan kitab suci juga menjadi salah satu sumber acuannya seperti dalam kalimat “Perhatikan bunga bakung di ladang, bagaimana bunga-bunga itu tumbuh: mereka tidak bekerja keras, juga mereka tidak berputar” (hal.9-10); atau juga mengutip Genesis “Jehovah, sang dewa yang berjenggot dan pemarah, memberikan contoh utama kepada para penyembahnya tentang kemalasan yang ideal; setelah bekerja selama enam hari, ia beristirahat untuk selamanya.” (hal.10). Lafargue juga mengutip Antipatros, Cicero, Arcadian, Venus, Herodotus, Brutus, Tarquin, Plato, Xenophon, Plutarch, Lycurgus dan Daedalus. Ia juga membanggakan peradaban Yunani kuno yang mengidolakan keluangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Yunani di era kebesarannya memandang jijik terhadap kerja: hanya budak-budak mereka yang diperbolehkan bekerja: orang bebas hanya mengenal latihan/olahraga untuk tubuh dan pikiran. Maka di era inilah orangorang seperti Aristoteles, Phidias, Aristophanes, bergerak dan bernafas dalam masyarakat. Inilah masa ketika sejumlah kecil pahlawan di Marathon melibas kelompok-kelompok besar Asia, yang segera akan ditundukkan oleh Alexander. Para filsuf zaman kuno mengajarkan kemuakan terhadap kerja, bahwa ia merupakan kemerosotan manusia bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pasase tersebut dapat dilihat bahwa Lafargue amat memahami teks-teks dari era klasik, di mana ia memberi bukti bahwa apa yang ia utarakan dalam bukunya sesungguhnya telah diyakini manusia-manusia yang hidup sebelum masanya. Bahwa etika kerja yang diperkenalkan secara buas oleh industri bukanlah sesuatu yang alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan, apabila Lafargue tampaknya memiliki tendensi rasialis terhadap yahudi, itu dapat dilihat dalam konteks waktu di mana di abad ke-19 saat berbicara mengenai kapitalis, maka yang paling terkenal dan paling mudah adalah dengan menunjuk seorang yahudi, atau dalam kasus ini, Rothschild. Juga saat Lafargue tampak sering menyerang Kristen, perlu dipahami bahwa etika kapitalisme memang bertaut erat dengan etika Protestan seperti bagaimana kerja akan menjauhkan seseorang dari pikiran-pikiran yang apabila tidak disibukkan oleh kerja akan mengarah pada dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paragraf akhir buku ini, Lafargue mengingatkan kita pada hasrat Aristoteles bahwa mesin akan berguna untuk memberikan waktu luang bagi manusia, “bahwa jika setiap alat bisa dengan sendirinya menjalankan fungsinya yang sesuai, sebagaimana mahakarya Daedalus bergerak sendiri, atau seperti tripod-tripod Vulcan yang mengatur dirinya sendiri secara spontan untuk kerjanya yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja, misalnya, alat-alat pemintal bisa menenun sendiri, maka mandor di bengkel kerja tidak akan memerlukan pembantu lagi, begitu pula majikan para budak.” (hal.73). Paul Lafargue sepenuh hati menyokong visi teknologi masa depan di mana penemuan teknologi akan dapat digunakan untuk memberikan waktu luang lebih banyak bagi manusia. “Namun demikian, kejeniusan filsuf-filsuf besar kapitalisme tetap didominasi oleh prasangka tentang sistem upahan, yakni yang terburuk dari segala perbudakan. Mereka belum juga mengerti bahwa mesin adalah penyelamat umat manusia, sang dewa yang akan melepaskan manusia dari kerja kasar dan kerja upahan, sang dewa yang akan memberi manusia waktu luang dan kebebasan.” Untuk hal ini, mari kita berseru, Amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Buku dan sebuah Program?&lt;br /&gt;Bagian menarik historis dari buku ini terletak pada momen di mana ia dipublikasikan. Sepanjang sejarah gerakan radikal, kita dapat melihat betapa beberapa teoritisi berusaha kembali pada nilai-nilai sayap kiri, sebuah “Marxisme klasik” yang berkembang akibat kegagalan Rusia. Frasa “Marxisme klasik” sendiri dipopulerkan pertama kali oleh seorang revolusioner Polandia, Isaac Deutscher, yang menjadi pendukung Trotsky di pengasingan dan kemudian menjadi salah satu inspirator bagi gelombang Kiri Baru yang meletup di era 1960-an. Deutscher sangat antusias pada Marxisme di era Lafargue. Tidak banyak yang sesungguhnya akrab dengan para Marxis di era Internasional Kedua. John Rees juga mengutuk lemahnya daya imajinasi, pemikiran dialektis yang meradang di antara generasi era tersebut, termasuk khususnya Karl Kautsky. Memang sulit untuk memasukkan Lafargue dalam perdebatan mengenai hal ini semenjak signifikansinya kurang kuat dan kehadirannya sangat kontradiktif: utopianisme Lafargue berdiri melampaui perspektif para revolusioner di masanya. Malah sebenarnya dapat dikatakan bahwa esensi Marxisme yang tetap hidup–metoda dialektika–justru terdapat dalam teks yang ia hasilkan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana relevansi dari teks Lafargue tersebut? Apabila kerja dihapuskan lantas apa yang terjadi? Itu banyak menjadi pertanyaan. Tapi dalam pandanganku, jawaban yang diimplikasikan oleh teks Lafargue akan mengarah pada jawaban tradisional Marxian. Orang-orang akan terus melakukan proses produksi setelah terjadinya revolusi, tetapi kerja tersebut akan menjadi berbeda dari “kerja” yang kita kenal saat ini. Tak akan ada lagi kelas penguasa dan tak ada lagi kelas yang dikuasai. Tak seorangpun dipaksa bekerja di mana hasilnya dinikmati oleh orang yang tak melakukan kerja apapun. Secara fundamental, visi kerja akan berubah. Produksi juga akan menyurut menjadi produksi hanya apa-apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Puluhan tahun lalu, Paulo Freire menulis mengenai pendidikan sebagai sebuah proses emansipasi diri. Baru baru ini, sebuah konsep mengenai “bermain” mulai banyak diketengahkan. Saat seorang pendidik menggunakan kata ini, apa yang mereka maksudkan adalah pola pembelajaran yang dikembangkan oleh anak-anak dalam tahun-tahun kehidupan pertamanya. Kata ini juga yang seharusnya dapat diterapkan dalam proses kerja pasca revolusi, di mana aturan-aturan dikembangkan oleh individu dan kelompok, tanpa paksaan eksternal. Persis seperti saat anak-anak belajar dengan cara bermain-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, bagiku apa yang diajukan oleh Paul Lafargue tentang sebuah masa depan di mana kerja semakin sedikit, adalah apa yang seharusnya tertanam dalam visi masyarakat masa depan para radikal, terutama para aktivis pekerja. Tentu saja, aku tidak berpura-pura naif saat melihat bahwa teknologi penghemat waktu yang telah banyak ditemukan saat ini tidak pernah berakibat pada semakin pendeknya waktu kerja–sesuatu yang tak sempat dilihat eksistensi luasnya oleh Paul Lafargue. Tapi apa yang dikemukakan oleh Lafargue tentang bahwa tidak seharusnya manusia menghabiskan waktu untuk bekerja, adalah sesuatu yang harus menjadi panduan kita semua apabila kita benar-benar mengharapkan sebuah dunia masa depan yang indah. Kini, mari kita siarkan kabar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-1401083301614681368?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/1401083301614681368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=1401083301614681368' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1401083301614681368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1401083301614681368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2010/01/malas-hak-dasar-manusia.html' title='Malas: Hak Dasar Manusia'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-5870911412107603021</id><published>2010-01-27T06:41:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T06:48:18.711-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Merunut Error Peradaban Melalui Sebuah Novel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://khatulistiwa.net/images/product/359f6405598e92b0b45181cea0b62a01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 238px;" src="http://khatulistiwa.net/images/product/359f6405598e92b0b45181cea0b62a01.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Resensi "Ishmael" karya Daniell Quinn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Ishmael&lt;br /&gt;Penulis : Daniel Quinn&lt;br /&gt;Dimensi : 18 x 13 cm, 74 hlm.&lt;br /&gt;Penerbit : Fresh Book, 2008&lt;br /&gt;Peresensi : Rikki Rikardo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HARAP jangan berpikir bahwa aku sedang bercanda. Aku sekadar memberitahukan fakta bahwa Ishmael bukanlah keturunan dewa—bahkan juga bukan seorang nabi. Ia tak menghadirkan keajaiban-keajaiban, tak membangkitkan siapapun dari kematian, tidak mengusir setan manapun. Dan ia tidak memperlihatkan pada kita jalan yang benar untuk hidup, walaupun secara personal aku percaya bahwa ia telah memperlihatkan pada kita satu-satunya cara yang dapat kita harapkan untuk bertahan hidup sebagai sebuah spesies.”&lt;br /&gt;Kutipan di atas diambil dari alternate-ending buku—yang tidak dicantumkan dalam terbitan formalnya dikarenakan penerbit pertamanya di luar sana (Bantam Books) merasa bahwa epilognya sama sekali tidak berkesan untuk mengakhiri sebuah novel. Tetapi kurasa dapat membantu para calon pembacanya tentang apa isi novel berjudul Ishmael ini. Terus terang terbitnya buku ini dalam terjemahan bahasa Indonesia sangat membuatku bersemangat. Pertama, karena aku telah seringkali membaca resensi mengenai buku ini dalam majalah-majalah anarkis import. Kedua, aku berhasil mendapatkan file lengkapnya dari internet, tetapi kita semua tahu betapa melelahkannya membaca tulisan sepanjang sebuah buku langsung di layar monitor. Ketiga, mengingat mayoritas publik di Indonesia—termasuk juga kebanyakan dari kita—yang tak mampu memahami bahasa Inggris, maka terjemahan yang baik dari Fresh Book ini amat sangat membantu.&lt;br /&gt;Buku ini berkisah tentang seekor gorila bernama Ishmael yang mampu bercakap-cakap secara telepatik dengan manusia. Sang tokoh utamanya, yang juga menjadi narator dalam novel ini, berangkat menjelajahi pemahaman akan hidup di atas Bumi dari sebuah kegelisahan yang sederhana: ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah yang terjadi dalam hidup ini, tetapi ia tak mampu menjabarkan ataupun menemukan apa kesalahan tersebut. Melalui pertemuan dan percakapannya dengan sang gorila tersebutlah, pemahaman demi pemahaman akan hidup ini mulai dirunut, sehingga ia mulai dapat menata puzzle kebingungannya menjadi sebuah rangkaian kenyataan yang besar dan tampak jelas letak kesalahan yang telah dilakukan oleh manusia di atas Bumi. Seperti juga yang diucapkan oleh Ishmael, “Para revolusioner di waktu-waktu yang lampau selalu gagal meraih kebebasan, karena mereka tak mampu menemukan jeruji yang mengurung mereka. Untuk menjadi bebas, engkau harus mampu menemukan jeruji yang mengurungmu dan kemudian menghancurkannya.”&lt;br /&gt;Dari percakapannya pula kita turut dibawa memahami bagaimana batu peradaban pertama kali diletakkan di atas darah dan mayat kaum pemburu-peramu yang hidup tanpa negara, aturan hukum baku, sistem jual-beli, tanpa elit pemerintah dan kekuasaan militeristik.&lt;br /&gt;Aku tak akan memberitahukan isi novel ini secara lebih jauh—aku tahu bahwa hal itu hanya akan merusak kenikmatan para pembaca yang saat membaca resensi ini belum membacanya—seperti memberitahukan kejutan yang akan terjadi dalam sebuah film yang sedang kita tonton. Dengan demikian, pendek kata, novel ini sangat berbau antropologis, menjelajahi kembali perjalanan manusia selama ia bercokol di atas muka Bumi. Pada akhirnya dapat melihat bahwa kesalahan (atau keterlanjuran?) yang telah dilakukan manusia yang lantas berujung pada kapitalisme modern dan kolonisasi jiwa raga. Kelemahan utama para marxis dan juga banyak anarkis saat ini, adalah bahwa mereka tak mampu berpikir keluar dari logika era Pencerahan (Renaissance) yang mengagung-agungkan rasio, kemajuan dan mengesampingkan kritik atas peradaban. Maka bagi para anarkis yang mulai menyadari dan merasa tak cukup hanya berkutat dengan teori-teori tentang kelas dan penindasan kapitalisme, novel ini akan sangat membantu. Tidak heran bahwa novel ini menjadi pujaan para anarkis antiperadaban, dan dianggap sebagai karya klasik yang layak baca. Tetapi di sisi lain, saat novel ini menegaskan bahwa peradaban adalah sesuatu yang menjadi akar permasalahan dan harus diruntuhkan untuk meraih kebebasan, Daniel Quinn sang penulis justru berkata di satu waktu, “Aku bukanlah seorang luddite ataupun unabomber.” Kita tahu bahwa luddite dan unabomber adalah para revolusioner radikal yang juga melihat bahwa peradaban harus diruntuhkan. Maka terlepas dari novel ini, menjadi amat menyedihkan saat Quinn berkata demikian—terlebih lagi dalam buku beberapa tahun berikutnya yang berjudul Beyond Civilization, di mana ia berkata bahwa peradaban tak perlu diruntuhkan, kita cukup pergi meninggalkannya.&lt;br /&gt;Mengingat kritiknya atas peradaban yang menakjubkan, pengetahuannya atas tatanan masyarakat praperadaban yang mengagumkan, usulan rencana aksinya yang sekadar meningalkan peradaban tersebut jelas sangat mengecewakan. Tetapi juga mungkin kita memang tak perlu mengaitkan sang penulis dengan hasil karyanya. Mungkin lebih baik apabila kita melupakan siapa dan bagaimana pemikiran Daniel Quinn sesungguhnya dan mengambil buku ini sebagai sebuah mahakarya anarkistik yang inspiratif—dan berhasil mendapatkan penghargaan sebagai pemenang Turner Tomorrow Fellowship Award. Aku hanya berkata, nikmati Ishmael, lupakan Daniel Quinn. Sebagai saran tambahan, apabila bisa ditemukan di rental-rental film atau pasar film bajakan, ambil Instinct, apabila engkau belum pernah melihatnya. Film yang diperankan oleh Anthony Hopkins tersebut dibuat berdasarkan novel Ishmael.&lt;br /&gt;Terakhir, Fresh Book memang tampaknya cukup serius menangani buku-buku terbitan mereka. Terlihat dari desain sampul yang cukup menarik dan terjemahan yang juga cukup baik—setelah aku membandingkan dengan versi bahasa Inggrisnya (walaupun ada kesalahan penulisan yang cukup fatal dalam bagan di halaman 205 yang berbeda dengan bagan di halaman 206, di mana di halaman pertama ditulis 2000 SM tetapi di halaman baliknya ditulis 2000 M—seharusnya keduanya adalah 2000 SM). Lepas dari kesalahan tersebut, usaha Fresh Book ini patut diapresiasi dengan baik, apalagi saat di halaman awalnya mereka menulis: “Tidak dilarang memphotocopy atau menggandakan sebagian atau keseluruhan isi buku ini sejauh demi kepentingan nonkomersial dan dalam jumlah yang terbatas.” Menarik. Korporasi Gramedia yang memonopoli penerbitan dan jalur-jalur distribusi buku di Indonesia, mana mau menuliskan pernyataan seperti ini—sayang sekali, karena atas adanya monopoli tersebutlah salah satunya maka buku penting seperti Ishmael ini sulit didapatkan selain di beberapa kota tertentu saja. []&lt;br /&gt;Rikki Rikardo|rikki.rikardo@apokalips.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-5870911412107603021?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/5870911412107603021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=5870911412107603021' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/5870911412107603021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/5870911412107603021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2010/01/merunut-error-peradaban-melalui-sebuah.html' title='Merunut Error Peradaban Melalui Sebuah Novel'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-9179300746998348458</id><published>2010-01-27T06:37:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T06:53:10.981-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='modern'/><title type='text'>Narasi Besar Manusia Modern</title><content type='html'>Tinjauan Marcuse, Fromm, dan Maslow tentang Karakter Masyarakat Kapitalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinyalemen bahwa dunia modern bukanlah sebuah hal yang beres, dapat kita lihat dari fenomena atas karakter manusia-manusia (modern) yang hidup dan menganutnya. Jika menelusuri kehidupan masyarakat modern, kita akan berlabuh pada beberapa dermaga pikiran-pikiran berupa koreksi mendalam atas hakikat kehidupan yang universal dalam abad modern ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernitas yang paling modern sekalipun tidak memberikan sebuah kemajuan komprehensif dan progresif pada kehidupan manusia. Ia hanya memberikan stimulan, dimana profit dapat bergairah untuk memperbaharui diri, dengan bersandar pada logika cacat yang dipakai menjadi rantai penyambung sistem kehidupan. Benar yang dikatakan Publius Syrus di tahun 42 SM, bahwa uang adalah satu-satunya yang menggerakkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Marcuse dan Manusia Satu Dimensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai dari Herbert Marcuse, yang mempopulerkan apa yang disebutnya sebagai One Dimensional Man. Manusia Satu Dimensi adalah karakter manusia yang keseluruhan hidup dan kesehariannya hanya berkutat pada persoalan bagaimana mencari dan mengeruk profit, keuntungan, uang dan materi. Seluruh dimensi yang ada dalam diri manusia seperti sosial, budaya, spritual, dan lainnya diserap ke dalam sebuah dimensi tunggal yang pada intinya mereproduksi kesadaran yang sengaja dikonstuksi oleh kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industrialisasi, sebagai ciri khas kapitalisme, termasuk beberapa varian yang lebih spesifik di dalamnya, telah menstimulasi karakter dan imbas dari mode produksi masyarakat. Inilah yang disebut Marcuse bahwa manusia yang keseluruhan hidupnya terkonstruksi untuk memikirkan bagaimana mencari, mendapatkan dan menumpuk keuntungan semata. Selain itu, Manusia Satu Dimensi mengalami kondisi kejiwaan yang konsumtif. Mereka sama sekali tidak berdaya, tidak mempunyai alternatif, bahkan pesimistis serta sulit memberikan penilaian kritis atas fenomena yang menjerat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marcuse menyebut bahwa sebagai mitos, yakni sebagai jalan menuju kesejahteraan (khususnya di dunia ketiga), industrialisasi ternyata hadir pula sebagai ancaman yang menggurita dan mencengkeram masyarakat. Kapitalisme melalui program-programnya telah menyihir manusia menjadi objek yang hanya dipandang sebagai penyuplai keuntungan/profit. Kapitalisme telah merobek-robek struktur sosial yang ada, yang diwarnai keintiman dan manusiawi, yang kemudian diganti dengan sistem sosial yang represif, persaingan, mekanistik, dan penuh dengan buaian ilusi materialistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martabat manusia betul-betul dihinakan. Yang kemudian hanya terukur dan dinilai sebatas angka nominal. Manusia hanya dipandang sebagai alat produksi konsumen, yang mengabdi pada mitos produktivitas. Sebagai pekerja, manusia tidak lagi dapat menyelediki makna dan esensi kerja-kerja mereka. tetapi lebih memilih menuntaskan ‘bagian-bagian kerja’ sebagai hal yang tidak terpisah dari standarisasi efisiensi, produktivitas, serta akreditasi atas penilaian-penilaian kerja mereka. ini tidak lain dalam rangka mengumpulkan ‘poin’ di mata pemegang sistem untuk menjaga stabilitas ekonomi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pribadi-pribadi Penjual Diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Erich Fromm lebih dalam menguraikan bahwa dalam masyarakat kapitalis, karakter manusia dikonstruksi sedemikian rupa. Yang menghasilkan pribadi-pribadi dengan krisis luar biasa. Sebagaimana kita ketahui, Fromm mensintesakan kritik Marxian dengan teori-teori tentang psikoanalisa Freud. Sehingga penjabarannya tentang psikoanalisa sosial sangat tajam dan maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebut Fromm yakni fenomena ketika manusia pada masyarakat kapitalis telah mendeklarasikan diri sebagai manusia yang tidak punya independensi, makhluk hidup yang bergerak dan ‘berfikir’ serupa mesin, serba otomatis. Inilah yang disebutnya Automaton. Individu kehilangan hakikat dirinya sendiri, namun secara sadar dirinya ia anggap dirinya bebas dan  hanya tunduk pada dirinya sendiri saja. Atau kurang lebih tenggelam dalam khayal tentang kejayaan individualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dampaknya? Krisis kepribadian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis yang begitu parah ini lebih lanjut menghantarkan manusia menjadi, seperti diistilahkan Fromm, sebagai Marketing Personality Orientation. Atau karakter manusia komoditi. Sebuah karakter manusia yang hanya memikirkan bagaimana agar dirinya laku dijual kepada pembeli, bahkan dalam nilai yang rendah sekalipun. ‘Pembeli’ dapat berupa majikan, atasan, atau bos dalam lingkungan kerja pabrik, kantor, birokrasi pemerintahan, atau sektor informal sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia komoditi tercurahkan untuk selalu menjual diri, sebagaimana menjadikan dirinya sebagai komoditi dalam sistem kapitalisme yang menaunginya. Orang yang berkepribadian Marketing Personality Orientation, bila ditanya, “Who Are You?” akan menjawab: “I’m as you desire me”. Saya adalah apa yang Anda kehendaki. Sehingga individu tersebut akan selalu menjelma menjadi barang dengan mengemas diri semenarik mungkin untuk dapat terbeli oleh calon pembeli. Terbeli dalam makna kiasan maupun harfiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sinkronisasi dan relevansi yang begitu kuat dalam pikiran Marcuse dan Fromm. Marcuse menjelaskan bahwa sistem modal adalah sistem yang menopang rasionalitas teknologi dan pengetahuan serta mekanisme pasar yang represif, dimana membentuk sebuah sistem sosial yang menindas. Yang memaksa individu-individu untuk menjadi ‘sekrup’ yang harus membentuk dan menyesuaikan dirinya agar pas dan sesuai dengan ‘mesin raksasa’ tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya menurut Fromm adalah individu dalam masyarakat kapitalis harus menurut dan mengikut pada aturan-aturan yang sengaja dibuat sedemikian rupa untuk tetap menjaga stabilitas modal. Sehingga manusia akan selalu bertindak berdasarkan order, perintah atau pesanan. Bukannya bertindak pada keyakinan, pemikiran atau keinginan diri sendiri. Para pekerja tidak bertindak sesuai dengan pemikirannya, tetapi berdasarkan apa yang digariskan oleh pimpinannya, media massa akan membentuk opini dan mengarahkan konsumen menurut selera pasar, berdasarkan keinginan penyokong. Ilmuwan tidak meneliti berdasarkan nalar pengetahuannya tetapi berdasarkan pesanan sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Krisis Diri adalah Krisis Akan Aktualisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keadaan krisis ini diamati Abraham Maslow, psikolog humanistik, yang olehnya disebut sebagai fenomena Self Actualization Crisis. Teori psikologi motivasi dari Maslow menjelaskan perkembangan kebutuhan manusia mulai dari yang paling dasar seperti makanan, hingga kebutuhan tertinggi yakni aktualisasi. Pada masyarakat kapitalis, manusia telah mengalami depresi yang mengejutkan terkait dengan krisis aktualisasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang selalu bertindak berdasarkan motif untuk mengaktualkan diri, yang tidak didasarkan pada kebutuhan sejati, namun berkembang oleh prilaku dan konsekuensi sosial yang melanda dirinya. Apa yang melanda manusia modern tidak lain karena bentuk-bentuk kehidupan telah sedemikian rupa menghalangi manusia dalam beraktualisasi dengan wajar dan normal. Implikasi yang serius dari itu membawa kita pada orientasi untuk mensejajarkan diri dengan mitos-mitos kehidupan modern, yang sangat ketat dengan pencitraan dan personifikasi kapital. Para sarjana beraktualisasi diri dengan gelar kesarjanaannya, untuk mendapatkan kompensasi sosial. Bukan justru dengan mengaktualisasikan ilmunya. Orang-orang juga lebih memilih makan di restoran-restoran bergengsi untuk meraih sesuatu, yang sebenarnya hanyalah berupa ilusi dunia modern. Keadaan ini menggambarkan masyarakat kapitalis tengah dihantam sebuah gelombang personalitas secara massal, dimana partisipasi dan demokrasi dalam keseluruhan dimensi kehidupannya disajikan secara palsu (pseudo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maslow menguliti karakter masyarakat kapitalis yang berada dalam kebimbangan psikis. Dimana pemenuhan akan aktualisasi menjadi hal yang bombastis sifatnya. Dan hanya berkaitan dengan kamuflase belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme tidak hanya menyediakan barang atau jasa sebagaimana yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tetapi juga sebaliknya, kebutuhan masyarakatlah yang terkonsolidasi secara massif. Atau dengan kata lain, apa yang diciptakan kapitalisme bukan semisal krim pemutih, atau shampoo anti ketombe dan pelurus rambut. Yang diproduksinya justru kebutuhan  akan kulit yang putih, dimana pada ‘ruang-ruang konsumsi’ itulah aktualisasi adalah sesuatu yang sifatnya terpacu. Dalam ruang-ruang konsumsi, aktualisasi justru bagian dari eksistensi manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah tinjauan psiko-sosio-analisa tentang karakter masyarakat dalam kapitalisme lanjut. Semoga ini cukup membantu untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya kehidupan manusia modern yang kita jalani sekarang. Hanya ada dua pilihan secara kimiawi: larut atau menjenuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uravnilovka, Februari 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-9179300746998348458?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/9179300746998348458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=9179300746998348458' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/9179300746998348458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/9179300746998348458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2010/01/narasi-besar-manusia-modern.html' title='Narasi Besar Manusia Modern'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-2081413498607551947</id><published>2010-01-27T06:29:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T06:37:18.528-08:00</updated><title type='text'>Shoplifting : Manifestasi Gila dalam Masyarakat Gila</title><content type='html'>&lt;p&gt; Integer metus ante, dapibus vitae volutpat varius, pellentesque eget enim. Curabitur consectetur auctor elementum. Vestibulum ut justo at tortor vulputate euismod a sit amet libero. Vivamus dignissim pulvinar justo quis pellentesque. Pellentesque et velit a eros eleifend lacinia. Vestibulum mauris arcu, rutrum vel accumsan vel, scelerisque in nisi. Morbi eu lacus erat, at fringilla nisi. Maecenas non enim at urna pellentesque porttitor. Aenean scelerisque, est et sodales sodales, nunc nisi bibendum tellus, at lobortis nibh sapien ac justo. Morbi consequat neque et massa suscipit in sagittis urna hendrerit. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Duis tempus suscipit sem in consequat. Cras pulvinar lacinia arcu, non fringilla nisl adipiscing et. Phasellus consectetur sapien non ante molestie mattis. Vestibulum ultricies quam in orci ornare sed dapibus dolor venenatis. Proin consequat, neque at varius tristique, orci lorem dignissim tellus, ac semper felis felis sit amet est. Ut volutpat tempor vehicula. Aliquam lobortis urna auctor lorem consequat non rhoncus metus lacinia. Etiam augue metus, porttitor in commodo non, laoreet ac nibh. Praesent posuere tempus magna ut fringilla. Cras a tellus enim, sit amet pretium leo. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Morbi molestie fermentum faucibus. Praesent nisl orci, porttitor ac elementum non, congue eu sapien. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nam pulvinar dictum enim, vel pharetra felis iaculis a. Proin luctus, sem eget tristique pulvinar, nisl felis iaculis sapien, et pharetra lacus libero nec nunc. Sed adipiscing leo sit amet dui euismod cursus. Morbi quis tortor vel risus tempus pretium. Duis sed iaculis purus. Aenean consequat pellentesque dapibus. Duis aliquet, nibh eu vulputate aliquam, massa massa mollis purus, ut egestas lectus sapien vel felis. Vestibulum fringilla pellentesque auctor. Aliquam tempus tincidunt condimentum. Vivamus eu dui nisl. Fusce quis nunc tortor, vitae bibendum mi. Nullam risus nunc, malesuada vel dictum eget, placerat quis nulla. Etiam tincidunt pharetra sapien eget convallis. Nulla quis risus vitae risus iaculis malesuada. Pellentesque eleifend condimentum mattis. Donec sit amet justo nunc. Aenean egestas, leo et dignissim cursus, dui mi porta magna, eget semper ante velit sit amet lacus. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Curabitur in accumsan enim. Morbi suscipit laoreet nunc, quis elementum sem ultrices in. Donec tempus, lectus sit amet suscipit suscipit, arcu dolor interdum massa, vel placerat nunc lectus volutpat tortor. Sed eget orci consectetur quam viverra dictum. Donec ultricies, ligula non porttitor ornare, elit orci accumsan massa, at imperdiet justo lacus vel lectus. Suspendisse potenti. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Praesent sem nisi, varius vitae venenatis non, ornare a nisi. Vivamus sit amet est arcu, sed consectetur lectus. Fusce adipiscing bibendum arcu ut vulputate. In ipsum diam, porta eget porttitor eget, fermentum porttitor felis. Praesent fermentum libero vel risus iaculis elementum. Praesent tempor, leo sed pellentesque volutpat, nisi elit placerat est, sit amet tristique dui justo sed nulla. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nulla urna metus, auctor sit amet luctus eu, aliquet non mauris. Sed et molestie quam. Integer et dignissim odio. Quisque dapibus adipiscing feugiat. Vestibulum accumsan euismod neque, venenatis lobortis nibh fermentum ultrices. Maecenas ut orci at lectus vestibulum tristique ut vel velit. Nulla mauris libero, dapibus a dictum at, pellentesque et neque. Nunc condimentum sollicitudin neque quis dapibus. Fusce sem elit, iaculis nec egestas nec, vulputate a tortor. Nunc tristique, lectus a feugiat pharetra, tellus risus semper libero, et pellentesque magna mauris posuere neque. In eu sapien non velit placerat ultricies. Quisque ornare auctor justo, at elementum nisi laoreet in. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aenean at odio ut massa aliquet eleifend. Vivamus eget fermentum mi. In vehicula sagittis eros eu feugiat. Fusce ut nisl purus, et gravida turpis. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi tempor porta massa, et sagittis ligula laoreet ut. Ut non turpis felis. Quisque ultricies consectetur lorem, eu imperdiet urna consequat non. Pellentesque lorem massa, cursus vel viverra ut, semper et quam. Pellentesque ut nunc nec nisl aliquet blandit. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-2081413498607551947?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/2081413498607551947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=2081413498607551947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/2081413498607551947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/2081413498607551947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2010/01/shoplifting-manifestasi-gila-dalam.html' title='Shoplifting : Manifestasi Gila dalam Masyarakat Gila'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-435022721794242358</id><published>2010-01-27T06:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T06:29:45.152-08:00</updated><title type='text'>Berkontribusi?</title><content type='html'>&lt;p&gt; Integer metus ante, dapibus vitae volutpat varius, pellentesque eget enim. Curabitur consectetur auctor elementum. Vestibulum ut justo at tortor vulputate euismod a sit amet libero. Vivamus dignissim pulvinar justo quis pellentesque. Pellentesque et velit a eros eleifend lacinia. Vestibulum mauris arcu, rutrum vel accumsan vel, scelerisque in nisi. Morbi eu lacus erat, at fringilla nisi. Maecenas non enim at urna pellentesque porttitor. Aenean scelerisque, est et sodales sodales, nunc nisi bibendum tellus, at lobortis nibh sapien ac justo. Morbi consequat neque et massa suscipit in sagittis urna hendrerit. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Duis tempus suscipit sem in consequat. Cras pulvinar lacinia arcu, non fringilla nisl adipiscing et. Phasellus consectetur sapien non ante molestie mattis. Vestibulum ultricies quam in orci ornare sed dapibus dolor venenatis. Proin consequat, neque at varius tristique, orci lorem dignissim tellus, ac semper felis felis sit amet est. Ut volutpat tempor vehicula. Aliquam lobortis urna auctor lorem consequat non rhoncus metus lacinia. Etiam augue metus, porttitor in commodo non, laoreet ac nibh. Praesent posuere tempus magna ut fringilla. Cras a tellus enim, sit amet pretium leo. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Morbi molestie fermentum faucibus. Praesent nisl orci, porttitor ac elementum non, congue eu sapien. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nam pulvinar dictum enim, vel pharetra felis iaculis a. Proin luctus, sem eget tristique pulvinar, nisl felis iaculis sapien, et pharetra lacus libero nec nunc. Sed adipiscing leo sit amet dui euismod cursus. Morbi quis tortor vel risus tempus pretium. Duis sed iaculis purus. Aenean consequat pellentesque dapibus. Duis aliquet, nibh eu vulputate aliquam, massa massa mollis purus, ut egestas lectus sapien vel felis. Vestibulum fringilla pellentesque auctor. Aliquam tempus tincidunt condimentum. Vivamus eu dui nisl. Fusce quis nunc tortor, vitae bibendum mi. Nullam risus nunc, malesuada vel dictum eget, placerat quis nulla. Etiam tincidunt pharetra sapien eget convallis. Nulla quis risus vitae risus iaculis malesuada. Pellentesque eleifend condimentum mattis. Donec sit amet justo nunc. Aenean egestas, leo et dignissim cursus, dui mi porta magna, eget semper ante velit sit amet lacus. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Curabitur in accumsan enim. Morbi suscipit laoreet nunc, quis elementum sem ultrices in. Donec tempus, lectus sit amet suscipit suscipit, arcu dolor interdum massa, vel placerat nunc lectus volutpat tortor. Sed eget orci consectetur quam viverra dictum. Donec ultricies, ligula non porttitor ornare, elit orci accumsan massa, at imperdiet justo lacus vel lectus. Suspendisse potenti. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Praesent sem nisi, varius vitae venenatis non, ornare a nisi. Vivamus sit amet est arcu, sed consectetur lectus. Fusce adipiscing bibendum arcu ut vulputate. In ipsum diam, porta eget porttitor eget, fermentum porttitor felis. Praesent fermentum libero vel risus iaculis elementum. Praesent tempor, leo sed pellentesque volutpat, nisi elit placerat est, sit amet tristique dui justo sed nulla. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nulla urna metus, auctor sit amet luctus eu, aliquet non mauris. Sed et molestie quam. Integer et dignissim odio. Quisque dapibus adipiscing feugiat. Vestibulum accumsan euismod neque, venenatis lobortis nibh fermentum ultrices. Maecenas ut orci at lectus vestibulum tristique ut vel velit. Nulla mauris libero, dapibus a dictum at, pellentesque et neque. Nunc condimentum sollicitudin neque quis dapibus. Fusce sem elit, iaculis nec egestas nec, vulputate a tortor. Nunc tristique, lectus a feugiat pharetra, tellus risus semper libero, et pellentesque magna mauris posuere neque. In eu sapien non velit placerat ultricies. Quisque ornare auctor justo, at elementum nisi laoreet in. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aenean at odio ut massa aliquet eleifend. Vivamus eget fermentum mi. In vehicula sagittis eros eu feugiat. Fusce ut nisl purus, et gravida turpis. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Morbi tempor porta massa, et sagittis ligula laoreet ut. Ut non turpis felis. Quisque ultricies consectetur lorem, eu imperdiet urna consequat non. Pellentesque lorem massa, cursus vel viverra ut, semper et quam. Pellentesque ut nunc nec nisl aliquet blandit. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-435022721794242358?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/435022721794242358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=435022721794242358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/435022721794242358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/435022721794242358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2010/01/berkontribusi.html' title='Berkontribusi?'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-2731569199868563166</id><published>2010-01-27T06:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T06:27:23.625-08:00</updated><title type='text'>Idefix Revivalis</title><content type='html'>&lt;p&gt; Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Aliquam commodo eros a libero sodales eu viverra magna luctus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Sed auctor, velit eget mattis fermentum, urna diam malesuada leo, sit amet pulvinar lectus mi et tortor. Vestibulum mattis sodales lectus, id elementum lectus pharetra ac. Aliquam vel purus non ipsum suscipit elementum. Donec nulla urna, interdum id gravida vitae, ullamcorper eget leo. Aliquam ultricies sagittis mauris sit amet fermentum. Praesent erat augue, dignissim facilisis eleifend eget, gravida non purus. Mauris luctus mattis sollicitudin. Nam tristique lobortis bibendum. Aenean a urna non velit pharetra congue eu sit amet lacus. Curabitur viverra sem vel neque placerat id faucibus sem mollis. Nunc eget arcu sed erat viverra ultricies. Donec lectus lectus, placerat eget gravida eu, vestibulum sed lectus. Vestibulum luctus lobortis nunc eu facilisis. Suspendisse potenti. Morbi hendrerit, elit in pharetra vulputate, ipsum dui tempus nisl, non facilisis mauris eros nec tortor. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Donec id magna eu nibh fermentum mollis. Pellentesque facilisis laoreet fringilla. Integer at porta est. Nunc in sapien ut ipsum tempor rhoncus. Suspendisse porta libero vel quam luctus adipiscing. Curabitur interdum semper luctus. Phasellus dictum velit nec metus rutrum ac rutrum diam lacinia. Vestibulum sed nunc sit amet nulla ultrices volutpat scelerisque nec metus. Etiam tincidunt ligula et felis mattis tristique tempor purus egestas. Suspendisse ornare malesuada molestie. Duis faucibus consectetur mauris, at luctus lectus tempor a. Donec vitae felis vitae sem scelerisque vulputate. Praesent lorem sem, vehicula vitae cursus eget, adipiscing eu orci. Donec a porta tortor. Morbi a mi velit, ullamcorper accumsan massa. Mauris nulla justo, congue eu tristique sit amet, ornare a libero. Proin mattis nisl erat, ut ullamcorper eros. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Integer metus ante, dapibus vitae volutpat varius, pellentesque eget enim. Curabitur consectetur auctor elementum. Vestibulum ut justo at tortor vulputate euismod a sit amet libero. Vivamus dignissim pulvinar justo quis pellentesque. Pellentesque et velit a eros eleifend lacinia. Vestibulum mauris arcu, rutrum vel accumsan vel, scelerisque in nisi. Morbi eu lacus erat, at fringilla nisi. Maecenas non enim at urna pellentesque porttitor. Aenean scelerisque, est et sodales sodales, nunc nisi bibendum tellus, at lobortis nibh sapien ac justo. Morbi consequat neque et massa suscipit in sagittis urna hendrerit. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Duis tempus suscipit sem in consequat. Cras pulvinar lacinia arcu, non fringilla nisl adipiscing et. Phasellus consectetur sapien non ante molestie mattis. Vestibulum ultricies quam in orci ornare sed dapibus dolor venenatis. Proin consequat, neque at varius tristique, orci lorem dignissim tellus, ac semper felis felis sit amet est. Ut volutpat tempor vehicula. Aliquam lobortis urna auctor lorem consequat non rhoncus metus lacinia. Etiam augue metus, porttitor in commodo non, laoreet ac nibh. Praesent posuere tempus magna ut fringilla. Cras a tellus enim, sit amet pretium leo. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Morbi molestie fermentum faucibus. Praesent nisl orci, porttitor ac elementum non, congue eu sapien. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-2731569199868563166?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/2731569199868563166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=2731569199868563166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/2731569199868563166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/2731569199868563166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2010/01/idefix-revivalis.html' title='Idefix Revivalis'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-703793598043790151</id><published>2009-08-05T11:10:00.004-07:00</published><updated>2009-08-05T11:48:47.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sudahkah Kau Menjadi Cool Hari ini?</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/SnnMoSZc4SI/AAAAAAAAADc/QaX76Mb16ec/s1600-h/The___Benefits___Of_Being_Cool_by_Wasted_Stalker.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 186px; height: 248px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/SnnMoSZc4SI/AAAAAAAAADc/QaX76Mb16ec/s320/The___Benefits___Of_Being_Cool_by_Wasted_Stalker.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5366545423494078754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"  &gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="trebuchet ms" style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 63.0pt 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Istilah keren atau cool, dari akarnya di Afrika hingga pada budaya anak muda sekarang ini, selalu menjadi suatu perilaku yang identik dengan ekspresi pemberontakan, postur yang me- nentang, serta ketaktertundukkan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Selama pada era 60-an, di tengah revolusi kultural terbesar di era ini, korporasi memutuskan bahwa keren bisa menjadi sesuatu yang sangat menguntungkan. Di Amerika dan Eropa, anak-anak muda dengan spontannya tumpah-ruah di jalanan dan mengorganisir festival serta protes antiperang. Dan korporasi mulai mengejar budaya tandingan untuk mendapatkan penanda yang eye-catching serta ekspresi gayanya untuk dimasukkan ke dalam kampanye pasar mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Dengan demikian, dimulailah dua arus keren, antara keren yang otentik dengan keren yang palsu dan komersil. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Thomas Frank di bukunya, Conquest of Cool, setahap demi setahap keren telah “menjadi sentral bagi kapitalisme untuk memahami dirinya sendiri dan menjelaskannya ke publik”. Di salah satu kudeta kultural paling hebat zaman ini, agen periklanan menemukan cara “bagaimana mengkonstruksi mesin-mesin kultural yang akan merubah alienasi dan keputusasaan menjadi konsen.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: left;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Empat puluh tahun setelah pengambilalihan keren oleh korporasi, kita mendapati diri kita, sekali lagi, di dalam sebuah era di mana gejolak politis dan kultural sedang naik-naiknya. Pemanasan global membuat kita ngeri, sebuah epidemi mood disorder menyerang kepercayaan diri kita, sebagaimana perang melawan teror seakan-akan menjadi pintu bagi Perang Dunia IV. Ketidaknyamanan kita akan diri sendiri semakin menjadi-jadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Mendadak, orang terbangun dalam sebuah alam mimpi korporasi bertema keren. Kita mulai menyadari bahwa sejak kita masih bayi yang merangkak di sekitar televisi, kita telah dibohongi, diindoktrinasi, dan diberitahu hari demi hari, bahwa kita dapat menemukan kebahagiaan melalui konsumsi. Miliaran orang antri di depan kasir mall-mall, semua memimpikan impian yang sama, impian konsumeristik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: left;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Sekarang kabut mulai memudar. Kita mulai menyadari ke mana keren gadungan ini akan menghantar kita: bukan menuju pada kebahagiaan serta kesejahteraan seperti yang terdapat di iklan-iklan, namun menuju sinisme, perusakan lingkungan, dan sebuah masa depan saling memakan yang brutal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: left;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Perkataan lumrah praktisi periklanan “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;" lang="IN"&gt;nyway, nobody’s get hurt&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;” terdengar seperti kata-kata yang dilontarkan oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;seseorang yang imbisilis, ignorant, dan skizofrenik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: left;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Inilah momen yang ”mungkin” menentukan di mana kekerenan kapitalis dapat runtuh dan kekerenan otentik dapat&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;bangkit kembali. Dan setelah melewati beberapa dekade di alam liar, kami mulai menyadari apa yang sebenarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;dikatakan oleh momen ini. Clive Hamilton —penulis Growth Fetish and Affluenza— menorehkannya di artikel yang&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;muncul “&lt;i style=""&gt;What’s Left? The Death of Social Democracy&lt;/i&gt;, (2006)” ia menyebutkan bahwa “problem utama masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;industrial modern bukanlah ketidakadilan, melainkan alienasi … tugas politik progresif sekarang ini bukanlah untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;mencapai persamaan, melainkan pembebasan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: left;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: justify;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;Jangan berpikir tentang bagaimana kita dapat melihat gejalanya. Lupakan keruwetan politik identitas. Lepaskan dirimu dari perjuangan tentang persamaan dan keadilan sosial dengan gaya lamanya—sudah seberapa muak kita dengan LSM, partai politik, dan para spesialis yang selalu menjanjikan perubahan! Kita harus membebaskan diri dari cengkraman kapitalisme yang menentukan hidup dan pola pikir kita. Mulailah hidup tanpa waktu-mati. Kembalikan kekerenan otentik dari bawah ke atas, dan yang lain akan menyusul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; font-family: verdana; text-align: left;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:10;" lang="IN" &gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Untuk Mereka Yang Liar. []&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-703793598043790151?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/703793598043790151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=703793598043790151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/703793598043790151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/703793598043790151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2009/08/sudahkah-kau-menjadi-cool-hari-ini.html' title='Sudahkah Kau Menjadi Cool Hari ini?'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/SnnMoSZc4SI/AAAAAAAAADc/QaX76Mb16ec/s72-c/The___Benefits___Of_Being_Cool_by_Wasted_Stalker.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-1238970505860176863</id><published>2009-06-22T08:09:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T08:17:25.483-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Inuyasha Mengkritik ‘Bunuh Diri Kelas’</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/Sj-gWvTH4vI/AAAAAAAAADU/l5dsFCsELBs/s1600-h/Inuyasha.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 247px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/Sj-gWvTH4vI/AAAAAAAAADU/l5dsFCsELBs/s320/Inuyasha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350171194853679858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;aru banget nonton film kartunnya Inuyasha. Serial movienya di salah tv swasta yang sering memutar acara khusus anak-anak. Walaupun sih pangsa pasar anak-anak tapi program diputar paling sering saya nyalakan ditengah ketidakinginanku menonton tv. Kembali ke pembahasan tentang Inuyasha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut temanku yang hampir setahun hidup di negeri sakura, mengikuti pertukaran pelajar. Dalam bahas Jepang, kata “Inu” memiliki arti “Anjing”. Jadi, Inuyasha adalah seorang siluman anjing yang hidup di masa lalu. Namun karena suatu kutukan yang didapatkannya, Inuyasha bukanlah seorang siluman sejati. Ia hanyalah manusia setengah siluman yang masih memiliki perasaan sebagai sorang manusia. Salah satu cara untuk menjadi siluman sejati adalah dengan merebut “Shikon No Tama”-batu kristal keramat—milik Kikyo, seorang pendeta wanita. Dalam pertarungannya dengan Kikyo, Inuyasha akhirnya mengalami kekalahan yang menyakitkan. Sehingga akhirnya tersegel selama 50 tahun di bawah pohon keramat. Lebih buruk lagi, pertempurannya dengan Kikyo mengakibatkan Shikon No Tama itu hancur berkeping-keping.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada Lanjutan ceritanya, seorang gadis bernama Higurashi Kagome dari masa modern secara tidak sengaja terbawa ke zaman di mana Inuyasha berada. Kagome pun melepaskan segel Inuyasha dan membebaskannya. Setelah bebas, Inuyasha pun menjalani hukuman untuk mengumpulkan kembali pecahan Shikon No Tama, dibantu oleh Kagome. Maka, dimulailah petualangan Inuyasha untuk mengumpulkan pecahan Shikon No Tama yang telah dikuasai oleh banyak siluman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menceritakan Inuyasha sih tidak ada beda dengan baca komik jika tidak dihubungkan dengan dunia modern ini. Mencari relevansi antara alur cerita dari anime Inuyasha dengan peradaban yang kita lalui hari ini. Kalau kisah klasik Inuyasha itu diceritakan pada masa Heian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Zaman Heian (794 - sekitar 1185) adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang berlangsung selama 390 tahun, Dalam cerita pada masa yang dilalui inuyasha ada dua kelas yang bertarung sepanjang masa yakni Siluman dan manusia. Hari ini masa yang kita lalui menurut Karl Marx, sejarahnya aadalah pertentangan kelas antara borjuasi dan proletar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau Marx mengambarkan bahwa kelas Majikan itu adalah kelas pengisap yang ingin mengusasi dunia. Sedangkan kelas pekerja mereka yang selama ini ditindas dari buruknya tatanan sosial hari ini. Dari gambaran yang dilalui oleh Inuyasha bahwa siluman itu bisa digambarkan sebagai Borjuasi sedangkan manusia deskripsinya sebagai proletar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tokoh Inuyasha ini yang menjadi sangat menarik karena adalah manusia setengah siluman. Dia memiliki kesaktian seperti siluman kebanyakan, pun hasratnya sebagai manusia juga ada. Kalau dalam peradaban kali ini Inuyasha merupakan kelas menengah (mungkin buruh kerah putih, atau mahasiswa) yang mendapat akses dari kemudahan dari tatanan yang dikuasai oleh Borjuasi. Misal kalau Inuyasha dalam tatanan kapitalisme hari ini itu buruh kerah putih yang mendapat kemudahan akses ekonomi dari keadaan yang dia jalani. Bahkan kalau dia mahasiswa, dia akan mendapatkan akses informasi yang lebih. Kalau Inuyasha pada masa sekarang dan berjuang membela kaum proletar maka dari istilah gerakan kiri inuyasha akan dianggap “bunuh diri kelas”. Pertanyaannya kembali, apakah ada itu bunuh diri kelas? Kalau kembali ke pembahasan Inuyasha, maka jawaban bahwa dia juga tidak meninggalkan dirinya sebagai seekor siluman sedangkan dia juga tidak berniat melakukan pembebasan terhadap umat manusia dari kendali siluman. Inuyasha hanya mempunyai hasrat untuk bertarung dengan lawan yang lebih kuat. Kalau dalam dalam peradaban modern bisa disebut hasrat dekonstuktif. Apakah yang dilakukan Inuyasha itu tidak bermanfaat? Ternyata tidak, pertarungan Inuyasha dengan kekuatan siluman demi memenuhi hasratnya ternyata membebaskan manusia dari pengekangan yang dilakukan oleh siluman. Walau manusia setengah siluman tidak pernah ingin membebaskan manusia dari penindasan siluman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kisah Inuyasha mungkinkah relevan dengan yang terjadi di Yunani? Pemberontakan para kelas menengah di yunani hingga hari ini. Apakah yang dilakukan para Insurgen yang sebagian besar mahasiswa di yunani itu demi para proletar. Penghancuran property, penyerangan polisi itu untuk membebaskan kelas pekerja. Ataukah hanya untuk memenuhi hasrat dekonstruktifnya. Kalau pun itu ke depanya menjadi ajang pembebasan untuk kelas pekerja, kenapa tidak? Memuaskan Hasrat adalah hal yang terpenting dengan meninggalkan slogan usang tentang “Bunuh diri kelas”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam salah satu adegan inuyasha bersama seorang anak setengah siluman dari pulau hore yang terpanggang di Tungku pembakar jiwa didatangi oleh jiwa pendeta wanita. Dia akan diberikan kekuatan oleh pendeta wanita itu, asalkan mau membebaskan anak-anak itu dari kekuasaan siluman yang menguasai pulau hore. Inuyasha tidak mau membebaskan anak itu tapi dia hanya mau bertarung dengan Siluman penguasa pulau. “Takdir anak-anak tersebut ditentukan oleh mereka sendiri”,lanjutnya. Setelah anak yang ditemaninya dalam tungku siuman, lalu berkata “Aku masih hidup”. “Kamu tidak perlu izin siapa-siapa untuk hidup”, balas Inuyasha. Penyerahan otoritas yang dilakukan oleh Siluman Anjing ini terhadap kepada setiap individu untuk menetukan hidupnya adalah sebuah kritik tersendiri kepada para Martir dan Patriotisme revolusioner hari ini, yang merasa berhak mengatur hidup orang-orang yang pernah dianggapnya dibebaskan didupnya. Walau itu hanya ilusi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;(by Subcomandante Irsyanomics)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-1238970505860176863?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/1238970505860176863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=1238970505860176863' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1238970505860176863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1238970505860176863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2009/06/inuyasha-mengkritik-bunuh-diri-kelas.html' title='Inuyasha Mengkritik ‘Bunuh Diri Kelas’'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/Sj-gWvTH4vI/AAAAAAAAADU/l5dsFCsELBs/s72-c/Inuyasha.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-3784919448380473242</id><published>2009-03-21T04:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T05:10:50.988-07:00</updated><title type='text'>BERBAHAYANYA IDEOLOGI KIRI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="font-family: trebuchet ms;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/ScTX92jtX5I/AAAAAAAAADM/abWLhSaaYlI/s1600-h/left.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/ScTX92jtX5I/AAAAAAAAADM/abWLhSaaYlI/s320/left.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5315610917821308818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Karena kebutuhan mereka untuk memberontak dan keanggotaan dalam sebuah gerakan, kaum Kiri atau orang-orang yang memiliki tipe psikologis yang mirip seringkali tak tertarik pada sebuah gerakan pemberontakan atau pada para aktifis yang memiliki tujuan-tujuan dan syarat keanggotaan yang tak dapat dikategorikan Kiri. Hasil dari perilaku tipe-tipe Kiri ini yaitu bahwa mereka dapat dengan mudah menggeser gerakan non-Kiri menjadi gerakan Kiri, sehingga tujuan-tujuan kaum Kiri tersebut akan mengganti atau mendistorsikan tujuan-tujuan gerakan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari hal ini, sebuah gerakan yang memuliakan alam dan menentang teknologi harus memiliki sikap anti-Kiri dan menghindari kolaborasi apapun dengan para kaum Kiri. Ideologi Kiri dalam jangka panjangnya bersikap tak konsisten dengan alam liar, dengan kebebasan manusia dan dengan pengeliminiran teknologi modern. Ideologi Kiri adalah kolektifis; ia berusaha mempersatukan seluruh dunia (baik alam maupun ras manusia) ke dalam satu kesatuan yang menyeluruh. Tetapi hal ini akan berdampak pada pengaturan alam dan hidup manusia oleh masyarakat yang terorganisir, dan hal tersebut membutuhkan teknologi maju. Engkau tak akan dapat memiliki sebuah dunia yang bersatu tanpa adanya transportasi dan komunikasi yang gencar, engkau tak dapat membuat semua orang saling mencintai tanpa adanya teknik-teknik psikologis yang mapan, engkau tak akan dapat memiliki sebuah “masyarakat yang terencana” tanpa mendasarinya dengan teknologi. Dalam kesimpulannya, ideologi Kiri digerakkan oleh kebutuhan akan kekuasaan, dan kaum Kiri mengupayakan kekuasaan dalam basis kolektif, melalui pengidentifikasian dengan sebuah gerakan massa atau sebuah organisasi. Ideologi Kiri biasanya tak akan menentang teknologi, karena teknologi adalah sebuah sumber daya yang sangat berguna bagi pendukung kekuasaan kolektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anarkis juga mengupayakan kekuasaan, tetapi ia mengupayakannya dalam basis individual atau kelompok kecil; ia ingin agar para individual dan kelompok-kelompok kecil mampu mengontrol keadaan hidup mereka sendiri. Ia menentang teknologi karena hal tersebut membuat kelompok-kelompok kecil jadi sangat tergantung pada organisasi besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa dari kaum Kiri mungkin akan menentang teknologi, tetapi mereka akan menentangnya sepanjang mereka tidak menjadi bagian di dalamnya dan sistem teknologi tidak berada di bawah kontrol kaum Kiri. Apabila ideologi Kiri menjadi dominan di tengah masyarakat, maka sistem teknologi akan menjadi sebuah alat di tangan kaum Kiri, mereka akan menggunakannya dengan antusias dan mempromosikan pertumbuhannya. Dalam melakukannya mereka akan mengulangi kembali alur yang dilakukan oleh kaum Kiri sebelumnya. Saat Bolshevik di Russia masih berada di luar masyarakat, mereka luar biasa menentang badan sensor dan polisi rahasia, mereka menyokong hak-hak kaum etnis minoritas untuk menentukan nasibnya sendiri, dan demikian seterusnya; tetapi begitu mereka mendapatkan kekuasaan bagi diri mereka sendiri, mereka menerapkan penyensoran yang lebih ketat dan menciptakan sebuah badan polisi rahasia yang lebih tak punya rasa kasihan dibandingkan dengan yang pernah eksis di bawah kekuasaan Tsar, dan mereka juga mulai menindas kaum etnis minoritas kurang lebih sama seperti yang dilakukan oleh Tsar. Di Amerika Serikat, beberapa dekade ke belakang saat kaum Kiri menjadi minoritas di universitas-universitas kita, para profesor Kiri adalah pendukung yang luar biasa atas kebebasan akademik, tetapi dewasa ini, di universitas-universitas di mana kaum Kiri menjadi dominan, mereka memperlihatkan bagaimana diri mereka siap mengambil kebebasan akademik dari setiap orang. (di sana hal ini dikenal sebagai “political-correct”). Hal yang sama akan terjadi dalam konteks kaum Kiri dan teknologi: mereka akan menggunakannya untuk menindas siapapun apabila mereka berhasil mendapatkan kontrol atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam revolusi-revolusi sebelumnya, kaum Kiri dari tipe yang paling haus kekuasaan, secara berulang, adalah yang pertama melakukan kompromi dengan para revolusioner non-Kiri, sebagaimana dengan kaum Kiri yang memiliki kecenderungan lebih libertarian, dan selanjutnya mengkhianati diri mereka sendiri demi mendapatkan kekuasaan bagi mereka sendiri. Robespierre melakukan hal ini dalam Revolusi Perancis, para Bolshevik melakukannya dalam Revolusi Russia, para komunis melakukannya di Spanyol tahun 1938 dan Castro bersama para pengikutnya melakukannya di Kuba. Merunut pada sejarah ideologi Kiri, akan sangat tolol bagi para revolusioner non-Kiri dewasa ini untuk berkolaborasi dengan kaum Kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pemikir telah menunjukkan bahwa ideologi Kiri adalah sejenis agama. Ideologi Kiri memang bukan agama dalam artian baku karena doktrin kaum Kiri tersebut tidaklah berupa hasil dari eksistensi hal-hal supranatural. Tetapi bagi kaum Kiri, ideologi Kiri memainkan sebuah peran psikologis jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dimainkan oleh agama pada para pengikutnya. Kaum Kiri PERLU meyakini ideologi Kiri; hal tersebut memainkan sebuah peranan yang sangat penting dalam ekonomi psikologisnya. Keyakinannya tak akan mudah termodifikasi oleh logika ataupun fakta. Ia memiliki sebuah pendirian yang mendalam bahwa ideologi Kiri secara moral adalah sesuatu yang Benar dengan B huruf besar, dan ia bukan saja merasa memiliki hak, melainkan juga kewajiban untuk menerapkan moralitas Kiri tersebut pada setiap orang. (Tetapi bagaimanapun juga, banyak orang yang kami golongkan sebagai “kaum Kiri” tidak merasa diri mereka Kiri dan tak akan mendeskripsikan sistem yang mereka yakini sebagai ideologi Kiri. Kami menggunakan terminologi “ideologi Kiri” karena kami tidak tahu apa kata yang lebih tepat untuk menggambarkan berbagai keyakinan yang saling berhubungan tersebut, termasuk di dalamnya kaum feminis, pendukung hak bagi kaum homoseks, kaum political-correct, dsb., juga gerakan-gerakannya, dan juga karena gerakan-gerakan tersebut memiliki kaitan yang kuat dengan ideologi Kiri lama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi Kiri adalah kekuasaan totaliter. Di manapun juga ideologi Kiri berkuasa, ia cenderung akan menginvasi setiap sudut privat dan memaksakan setiap pikiran ke dalam sebuah cetakan Kiri. Di satu sisi hal ini terjadi karena karakter agama palsu dalam ideologi Kiri; setiap hal yang berbeda dengan keyakinan kaum Kiri adalah sesuatu yang dianggap sebagai Dosa. Lebih pentingnya lagi, ideologi Kiri adalah sebuah kekuasaan totaliter karena dorongan-dorongan kaum Kiri atas kekuasaan. Seorang Kiri berusaha memenuhi kebutuhannya akan kekuasaan melalui pengidentifikasiannya dengan sebuah gerakan sosial dan mereka berusaha untuk melalui proses penguasaannya dengan menolong gerakan di mana ia terlibat untuk meraih dan mendapatkan tujuan-tujuannya. Tetapi tak peduli seberapa jauh gerakan tersebut melangkah dalam meraih tujuan-tujuannya, seorang Kiri tak akan pernah terpuaskan, karena aktifismenya adalah aktifitas sampingan. Dengan demikian, motif sesungguhnya seorang Kiri bukanlah tujuan-tujuan ideologi Kiri yang baginya adalah kepalsuan; kenyataannya ia lebih termotifasi oleh sensasi kekuasaan yang ia dapatkan dalam perjuangan dan saat meraih sebuah tujuan sosial. Konsekuensinya, seorang Kiri tak akan pernah terpuaskan dengan tujuan-tujuan yang telah tercapai; kebutuhannya akan proses penguasaan mengarahkan dirinya untuk selalu mencapai tujuan-tujuan baru. Seorang Kiri mengingnkan kesempatan yang sama bagi kaum minoritas. Saat hal ini tercapai ia menuntut agar kaum minoritas juga meraih pencapaian yang secara statistik sama. Dan selama setiap orang di sudut pikirannya memiliki sebuah pandangan negatif terhadap beberapa minoritas, seorang Kiri akan berusaha melakukan pendidikan atasnya. Dan kaum etnis minoritas saja tidak cukup; tak seorangpun akan diijinkan untuk memiliki pandangan negatif terhadap homoseksual, orang cacat, orang gemuk, orang tua, orang jelek, dan lain-lainnya. Sekedar memberi informasi pada publik tentang bahayanya merokok; sebuah peringatan juga akan ditempelkan di setiap kemasan rokok. Maka iklan rokok akan dibatasi apabila tidak dilarang sama sekali. Para aktifis tak akan pernah merasa puas sampai seluruh tembakau dianggap barang terlarang, dan bahkan setelahnya alkohol, kemudian makanan cepat saji, dsb. Para aktifis telah memerangi tindak kekerasan terhadap anak, yang tentu memiliki alasan kuat. Tetapi kini mereka tak ingin menghentikan semua bentuk pemukulan. Saat mereka berhasil melakukannya, mereka akan mulai melarang hal lain yang mereka anggap berkaitan, kemudian hal lain lagi dan lainnya lagi. Mereka tak akan pernah terpuaskan hingga mereka memiliki kontrol penuh atas segala macam praktek membesarkan anak. Dan kemudian mereka akan terus bergerak pada hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggap engkau meminta kaum Kiri untuk membuat daftar SEMUA hal yang salah dengan masyarakat, maka anggap engkau telah membuat SEMUA perubahan sosial yang mereka tuntut. Bisa dikatakan bahwa dalam waktu beberapa tahun mayoritas dari mereka akan menemukan sebuah hal baru untuk dikeluhkan, beberapa “kejahatan” sosial untuk dibetulkan karena, sekali lagi, seorang Kiri tidak begitu termotifasi oleh tekanan akibat penyakit-penyakit sosial, melainkan oleh kebutuhan pemuasan dorongan kekuasaannya yang dilakukan dengan cara mengajukan berbagai solusi bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena beberapa aturan telah ditempatkan dalam pikiran dan kebiasaan mereka melalui sosialisasi tingkat tinggi mereka, banyak kaum Kiri dari tipe yang telah tersosialisasi secara berlebihan, tak dapat meraih kekuasaan sebagaimana yang dilakukan oleh orang lainnya. Bagi mereka, dorongan atas kekuasaan hanya memiliki satu penyaluran yang dapat diterima secara moral, dan hal tersebut yaitu perjuangan untuk menerapkan moralitas mereka pada setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Kiri, khususnya mereka dari tipe yang telah tersosialisasi secara berlebihan, adalah True Believers (mereka yang benar-benar yakin—Ed.) seperti artian dalam buku Eric Hoffer, “The True Believers”. Tetapi tidak semua True Believer memiliki tipe psikologis yang sama dengan kaum Kiri. Ambil contoh seorang Nazi yang berkeyakinan penuh, jelas ia secara psikologis sangat berbeda dengan seorang Kiri yang berkeyakinan penuh. Karena kapasitas mereka untuk merengkuh sebuah tujuan secara sepihak, para True Believer menjadi unsur yang sangat berguna, bahkan mungkin sangat penting, bagi sebuah gerakan revolusioner. Hal ini menghadirkan sebuah masalah yang mana kami harus nyatakan bahwa kami tak tahu bagaimana cara berurusan dengan hal tersebut. Kami tidak yakin bagaimana memanfaatkan energi-energi yang dimiliki para True Believer tersebut dalam sebuah revolusi melawan teknologi. Saat ini kami hanya dapat berkata bahwa tak ada True Believer yang akan mampu direkrut ke dalam revolusi kecuali komitmen utamanya secara ekslusif adalah penghancuran teknologi. Apabila ia juga berkomitmen pada ideal-ideal lain, ia mungkin akan menggunakan teknologi sebagai alat pencapai ideal lainnya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pembaca mungkin akan berkata, “Tulisan mengenai ideologi Kiri ini adalah sampah. Aku tahu John dan Jane yang termasuk ke dalam tipe Kiri dan mereka tidak memiliki seluruh kecenderungan totalitarian tersebut.” Memang benar apabila banyak kaum Kiri, bahkan mungkin sejumlah besarnya, adalah merupakan orang-orang yang jujur yang benar-benar percaya dalam mentoleransi nilai-nilai orang lain (dalam beberapa poin) dan tak akan menggunakan metoda-metoda diktatorial dalam meraih tujuan resmi mereka. Kata-kata kami mengenai ideologi Kiri tidak berarti lantas dapat diterapkan pada setiap individual seorang Kiri melainkan untuk mendeskripsikan karakter umum ideologi Kiri sebagai sebuah gerakan. Dan karekter umum atas sebuah gerakan tidak selalu berarti ditentukan oleh sejumlah proporsi dari berbagai jenis orang yang terlibat dalam gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang bangkit meraih berbagai posisi kekuasaan dalam gerakan-gerakan Kiri cenderung menjadi orang-orang Kiri dari tipe-tipe yang paling haus kekuasaan karena orang yang haus akan kekuasaan adalah mereka yang berjuang paling keras untuk mendapatkan berbagai posisi kekuasaan. Sekali saja tipe-tipe yang haus kekuasaan tersebut mendapatkan kontrol atas gerakan, akan banyak kaum Kiri yang terlahir dengan lebih baik yang terang-terangan tidak menyetujui banyak aksi yang dilakukan oleh para pemimpinnya, tetapi tak dapat menghadirkan diri mereka sebagai lawan bagi para pemimpin tersebut. Mereka MEMBUTUHKAN kepercayaan mereka atas gerakan, dan karena mereka tak dapat meninggalkan kepercayaannya maka mereka akan terus berjalan bersama para pemimpin mereka tersebut. Memang benar bahwa BEBERAPA orang Kiri memiliki keberanian untuk melawan kecenderungan-kecenderungan totalitarian yang muncul, tetapi umumnya mereka kalah, karena tipe-tipe yang haus kekuasaan terorganisir dengan lebih baik, lebih tak memiliki rasa kasihan dan Machiavellian serta harus berhati-hati dalam membangun basis kekuasaan yang kuat bagi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena-fenomena tersebut tampak dengan jelas di Russia dan beberapa negara yang berhasil diambil alih oleh kaum Kiri. Kemiripannya, sebelum runtuhnya komunisme di Republik Uni Soviet, berbagai tipe kaum Kiri di Barat jarang mengkritisi negara tersebut. Apabila terdesak mereka akan menyatakan bahwa memang Republik Uni Soviet melakukan banyak kesalahan, tetapi mereka juga akan berusaha untuk menemukan berbagai alasan bagi para komunis tersebut dan mulai berbicara mengenai kesalahan-kesalahan di Barat. Mereka selalu menentang perlawanan militer Barat terhadap agresi komunis. Berbagai tipe kaum Kiri di seluruh dunia dengan luar biasa keras, memprotes aksi militer Amerika di Vietnam, tetapi saat Republik uni Soviet menginvasi Afghanistan mereka tak melakukan apapun. Bukan karena menyetujui aksi-aksi Uni Soviet tersebut; melainkan karena kepercayaan Kiri mereka, mereka sekedar tak berani memposisikan diri mereka untuk beroposisi dengan komunisme. Dewasa ini, di universitas-universitas di mana “political correct” menjadi dominan, mungkin akan banyak tipe kaum Kiri yang secara pribadi tidak menyetujui diberlakukannya penindasan atas kebebasan akademik, tetapi mereka tetap membiarkannya terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian fakta bahwa banyak individual-individual kaum Kiri yang secara personal tenang dan merupakan orang yang sangat toleran berarti akan menghindarkan ideologi Kiri yang secara keseluruhan memiliki kecenderungan totalitarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi kami mengenai ideologi Kiri memiliki sebuah kelemahan serius. Masih jauh dari jelas apa yang kami maksud dengan kata “orang Kiri”. Tak banyak yang dapat kami lakukan dalam hal ini. Dewasa ini ideologi Kiri telah terpecah ke dalam sebuah spektrum besar gerakan-gerakan aktifis. Memang tidak semua aktifis gerakan tersebut adalah orang Kiri, dan beberapa aktifis gerakan (environmentalis radikal misalnya) tampaknya merengkuh kedua kepribadian baik dari tipe Kiri maupun kepribadian dari tipe yang sama sekali tidak Kiri, yang sebaiknya dikenali dengan lebih baik dibandingkan harus berkolaborasi dengan para kaum Kiri. Berbagai macam kaum Kiri secara berangsur-angsur melenyap ke dalam berbagai macam kaum non-Kiri dan kami sendiri akan sering terpaksa untuk memutuskan apakah seorang individual yang ditunjuk adalah seorang Kiri atau bukan. Atas apa yang telah kami definisikan secara keseluruhannya, konsepsi kami mengenai ideologi Kiri didefinisikan melalui diskusi-diskusi mengenainya, yang telah kami paparkan dalam artikel ini, dan kami hanya dapat menyarankan para pembaca agar memutuskan sendiri siapa yang termasuk orang Kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi akan sangat membantu apabila dibuat daftar beberapa kriteria dalam mendiagnosa ideologi Kiri. Kriteria-kriteria tersebut tak dapat diaplikasikan langsung begitu saja. Beberapa individual mungkin akan cocok dengan beberapa kriteria yang bukan Kiri, sementara beberapa orang Kiri mungkin akan sama sekali tak cocok dengan kriteria apapun. Lagi, engkau harus menentukan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Kiri memiliki orientasi menuju kolektifisme skala besar. Ia menekankan kewajiban individual dalam melayani kepentingan masyarakat dan kewajiban masyarakat untuk mengurus individual tersebut. Ia memiliki pandangan negatif terhadap individualisme. Ia seringkali mengambil sebuah alasan yang bernada moralistik. Ia cenderung mendukung kontrol senjata, pendidikan seks dan beberapa metoda pendidikan “yang mencerahkan” secara psikologis, untuk merencanakan, untuk melakukan aksi yang telah disepakati bersama, untuk multikulturalisme. Ia cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan para korban. Ia cenderung menentang kompetisi dan kekerasan, tetapi seringkali ia menemukan alasan-alasan atas beberapa orang Kiri yang melakukan kekerasan. Ia juga gemar menggunakan frasa-frasa yang umum digunakan kaum Kiri seperti “rasisme”, “seksisme”, “homofobia”, “kapitalisme”, “imperialisme”, “neokolonialisme”, “genosida”, “perubahan sosial”, “keadilan sosial”, “tanggung jawab sosial”. Mungkin cara mendiagnosa ciri pembawaan orang Kiri adalah dengan melihat kecenderungannya dalam bersimpati terhadap beberapa gerakan berikut: feminisme, hak-hak bagi kaum homoseksual, hak-hak bagi kelompok etnis, hak-hak bagi penyandang cacat, hak-hak binatang, political-correct. Setiap orang yang dengan sangat kuat bersimpati dengan SELURUH gerakan tersebut dapat dipastikan sebagai seorang Kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Kiri yang lebih berbahaya yaitu mereka yang paling haus kekuasaan, yang seringkali berkarakter arogan atau yang memiliki pendekatan yang dogmatik terhadap ideologi. Bagaimanapun juga, orang-orang Kiri yang paling berbahaya di atas semuanya mungkin adalah tipe-tipe yang telah tersosialisasi paling banyak yang menghindari menunjukkan agresifitas yang berlebihan ataupun mengulang-ulang mengiklankan ideologi Kiri mereka, tetapi mereka bekerja diam-diam dan tak menonjol dalam mempromosikan nilai-nilai kolektifis, teknik-teknik psikologis “yang mencerahkan” dalam mensosialisasikan anak-anak, individual yang sangat tergantung pada sistem, dan begitu selanjutnya. Orang-orang Kiri yang memiliki agenda tersembunyi tersebut (crypto-leftist) dalam aksi-aksi praksis yang sejauh ini telah mereka lakukan, kurang lebih sama dengan beberapa tipe borjuis, tetapi berbeda dengan mereka dalam tataran psikologis, ideologi dan motivasi. Borjuis biasa berusaha untuk merangkul orang-orang ke bawah kontrol sistem dalam upayanya untuk melindungi gaya hidupnya, atau ia sekedar melakukannya dikarenakan perilakunya yang memang konvensional. Sementara orang-orang Kiri yang memiliki agenda tersembunyi tersebut berusaha untuk merangkul orang-orang ke bawah kontrol sistem karena ia adalah seorang True Believer dalam ideologi kolektifis. Seorang Kiri tipe ini berbeda dari orang-orang Kiri kebanyakan yang berasal dari tipe yang telah terlalu banyak tersosialisasi, dalam fakta bahwa impuls pemberontakannya lebih lemah dan ia juga jauh lebih tersosialisasikan lagi. Ia berbeda dengan seorang borjuis kebanyakan dalam fakta bahwa ada sebuah kekurangan yang mendalam dalam dirinya yang membuat dirinya merasa perlu untuk mendedikasikan dirinya pada sebuah nilai perjuangan dan membenamkan dirinya sendiri dalam sebuah kolektifitas. Dan mungkin dorongan kekuasaan dalam dirinya (yang telah tersublimasi) yang telah begitu membatu dibandingkan rata-rata kaum borjuis.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(tulisan ini adalah sebuah bab yang dicuplik dari Manifesto Unabomber, ditulis oleh FC dan Ted Kacyinzky)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-3784919448380473242?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/3784919448380473242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=3784919448380473242' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/3784919448380473242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/3784919448380473242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2009/03/berbahayanya-ideologi-kiri.html' title='BERBAHAYANYA IDEOLOGI KIRI'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_o2RCOh9qN9k/ScTX92jtX5I/AAAAAAAAADM/abWLhSaaYlI/s72-c/left.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-8684102110419512663</id><published>2008-12-16T19:30:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T19:44:38.500-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>PERKAWINAN DAN CINTA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.treaclewebs.co.uk/kasamba/isabelle/married.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 233px; height: 345px;" src="http://www.treaclewebs.co.uk/kasamba/isabelle/married.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canugerah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canugerah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canugerah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627400839 -2147483648 8 0 66047 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"   lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Emma Goldman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canugerah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canugerah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Canugerah%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627400839 -2147483648 8 0 66047 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Pengertian yang paling populer dan sering didengungkan di kepala kita adalah perkawinan dan cinta merupakan satu hal yang sinonim, seakan kedua-duanya berasal dari motif yang sama, serta dalam lingkup kebutuhan manusia yang sama. Faktanya kedua hal ini tidak mempunyai kesamaan sama sekali. Seperti halnya dua kutub yang ada di bumi kita, cinta dan perkawinan adalah antagonis satu sama lain. Saya tidak meragukan adanya perkawinan adalah karena cinta; tetapi hal ini bukan berarti cinta hanya ada karena perkawinan. Adanya perkawinan dapat dilihat sebagai sebuah konvensi yang dibuat oleh manusia. Di dunia sekarang ini banyak pria dan wanita menganggap perkawinan adalah pemerasan, mereka menjalani perkawinan hanya demi opini publik. Ketika mencoba membandingkan kedua hal ini, harus saya akui bahwa dalam kebanyakan kasus cinta diteruskan dalam perkawinan, tetapi saya tetap mempertahankan bahwa cinta juga dapat terus berjalan tanpa perkawinan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Pada sisi yang lain adalah sangat salah mengatakan cinta lahir dari perkawinan. Saya pernah mendengar kasus-kasus yang sangat jarang dimana orang jatuh cinta setelah menikah, tetapi setelah diteliti lebih jauh hal tersebut merupakan penyesuaian akan hal-hal yang tidak terhindar. Saya pribadi merasa kebiasaan yang dibangun satu sama lain jauh berbeda dengan spontanitas, intensitas dan keindahan cinta. Tanpa keintiman dapat dipastikan perkawinan hanyalah neraka bagi pria dan wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Perkawinan secara umum adalah tentang pengaturan ekonomi, sebuah perjanjian asuransi. Perbedaannya dengan asuransi dalam kehidupan keseharian adalah: perkawinan lebih mengikat, lebih memeras. Keuntungan yang didapat dari perkawinan lebih sedikit dari investasi yang ditanam. Bila dalam asuransi biasa seseorang membayar polis asuransi dengan sejumlah uang, dan selalu bebas untuk melakukan atau menghentikan hal tersebut, maka dalam perkawinan seorang wanita adalah jaminan pria, dimana wanita membayar dengan menggunakan nama pria tersebut, privasinya, harga diri, dan hidupnya. "Until death do us part". Lebih jauh asuransi perkawinan membuat wanita menjadi parasit, menjadi sama sekali tidak berguna dalam lingkup individual maupun sosial. Pria juga membayar karcis perkawinan, tetapi lingkup pergaulannya lebih luas. Perkawinan tidak membatasi pria sebagaimana ini membatasi wanita. Pria hanya merasa lebih terikat dalam pengertian ekonomi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Kekuatan motto Dante dalam Inferno berlaku juga dalam perkawinan: "Dia yang masuk ke sini, meninggalkan semua harapan di belakang". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Perkawinan adalah sebuah kesalahan, dan ini hanya dapat ditolak oleh orang yang benar-benar bodoh. Seseorang hanya harus melirik statistik perceraian untuk menyadari bagaimana pahitnya kesalahan perkawinan. Fakta bahwa setiap satu dari dua belas perkawinan berakhir dengan perceraian sejak 1870 telah berkembang dari rentang 28 hingga 73 untuk tiap-tiap seratus ribu populasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Dapat ditambahkan bahwa pada figur-figur material yang lain serta yang mendukung seperti drama atau literatur pada subjek perkawinan ini: Robert Herric dalam "Together", Pinero dalam "Mid Channel", Eugene Walker dalam "Paid in Full" dan banyak lagi penulis-penulis yang membahas kekosongan, kemonotonan, kemesuman, dan ketidakcukupan perkawinan akan faktor pengertian dan harmoni. Para pelajar tidak akan mendapatkan alasan superfisial bagi fenomena ini. Mereka harus terjun langsung dalam kehidupan tiap-tiap jenis kelaminnya untuk mengetahui mengapa perkawinan sangat berbahaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Edward Chapter mengatakan bahwa dibelakang perkawinan terbentang lingkungan kehidupan pelakunya; lingkungan yang sangat berbeda satu sama lain hingga pria dan wanita selamanya asing satu sama lain. Diliputi kabut tebal tahyul, tradisi dan kebiasaan, perkawinan tidak memiliki potensi untuk menjadi ilmu pengetahuan yang dapat dihormati pelakunya satu sama lain, dimana tanpa ini semua maka setiap usaha persatuan hanya akan mengalami kegagalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Henrik Ibsen, sang pembenci segala jenis kepura-puraan sosial, dapat dipastikan sebagai salah satu orang pertama yang menyadari kebenaran ini. Nora meninggalkan sang suami bukan karena apa yang kritisi-kritisi bodoh katakan sebagai kebosanannya pada kewajiban atau perasaan keinginan hak-hak wanita, tetapi karena Nora sadar bahwa selama delapan tahun ia hidup bersama orang asing yang dianggap suaminya serta memberinya seorang anak. Adakah hal lain yang lebih memalukan dan rendah daripada seumur hidup kepalsuan antara dua orang asing? Tidak ada yang perlu diketahui seorang wanita akan pria selain menabung penghasilannya. Dimana sepengetahuan wanita , apalagi yang diharapkan pria kecuali penampilannya tetap menarik? Belum lagi mitos-mitos yang berkembang akan wanita, dimana kita tidak memiliki jiwa karena dibuat dari tulang rusuk pria dan teman bagi seorang yang gagah tetapi takut akan bayangannya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Diberikan materi-materi yang jelek selama hidupnya, wanita diberi tanggung jawab akan ketidakberjiwaannya, apa yang harus diketahui wanita? bahkan tentang dirinya sendiri? Karena lebih sedikit jiwa yang dimiliki wanita maka semakin besar asetnya sebagai seorang istri, semakin siap dia masuk ke dalam diri suaminya. Hal ini merupakan suatu perbudakan yang membuat superioritas pria bertahan sedemikian lama. Sekarang sudah waktunya wanita menentukan nasibnya sendiri, sekarang saatnya ia menyadari dirinya tidak lagi berada dibawah kebaikan tuannya. Institusi perkawinan yang suci secara perlahan mulai diruntuhkan dan tidak ada ratapan-ratapan sentimentil yang dapat mencegah hal tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Sedari kecil seorang wanita telah diberitahu bahwa tujuan utamanya adalah perkawinan; oleh karena itu pendidikannya harus diarahkan pada tujuan tersebut. Seperti binatang yang akan dipotong wanita dipersiapkan untuk hal ini. Yang membedakannya, wanita tidak banyak diberitahu tentang fungsinya sebagai istri dan ibu sebagaimana pria diberitahu akan perannya sebagai seorang calon pedagang tentang perdagangan. Adalah tidak patut bahkan kotor jika seorang wanita mengetahui tentang perkawinan serta relasi-relasinya. Dengan tidak konsisten sumpah perkawinan membuah hal-hal yang kotor tersebut menjadi pengaturan paling suci yang tidak berani dikritik oleh siapapun. Inilah yang sebenarnya dari sikap perkawinan. Prospek-prospek wanita tetap tidak diperdulikan karena asetnya hanyalah untuk lapangan kompetisi seks. Wanita menemukan dirinya berada dalam hubungan seumur hidup dengan seorang pria hanya untuk menemukan dirinya dikejutkan, dipukul mundur, dihina diluar perkiraannya oleh insting sehat yang paling alami, seks. Dapat dibilang pada saat ini persentasi tinggi akan ketidakbahagiaan, kesedihan dan penderitaan fisik dalam perkawinan adalah akibat ketidakperdulian kriminal dalam masalah seks yang dianggap sebagai sesuatu yang memiliki nilai-nilai tinggi. Tidak berlebihan bila saya katakan lebih dari sebuah keluarga hancur berantakan akibat fakta ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Jika misalnya seorang wanita bebas dan mengurus dirinya sendiri untuk mempelajari misteri seks tanpa sanksi-sanksi yang diberikan oleh negara dan agama, maka ia berada dalam kutukan dan dianggap tidak layak menjadi istri pria "baik-baik", ke'baik'annya biasanya adalah kepala kosong dan kantung penuh uang. Apakah ada yang lebih menghina dari ide seorang wanita dewasa yang sehat, penuh kehidupan, penuh semangat, harus menolak keinginan alaminya dan patuh pada hal-hal yang dibuat oleh konvensi untuk mematahkan semangatnya, visinya dan tidak mengalami keindahan pengalaman seks hinggak seorang pria "baik-baik" datang dan mengambilnya sebagai istri? Ini adalah maksud sebenarnya dari perkawinan. Bagaimana tidak perjanjian-perjanjian ini berakhir dengan kegagalan? Ini adalah salah satu pemikiran yang cukup penting akan faktor-faktor pernikahan, yang membedakannya dengan cinta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Kita hidup di zaman yang praktis. Zaman ketika Romeo dan Juliet mengambil resiko akan kemarahan orang tua mereka demi cinta, sudah tidak ada lagi. Pada kesempatan-kesempatan yang langka anak-anak muda membiarkan diri mereka diberi kemewahan roman oleh orang-orang yang lebih tua, dicecoki hingga mereka menjadi "bijaksana".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Ajaran moral yang ditanamkan pada wanita muda bukanlah apa yang membuat seorang pria membuatnya jatuh cinta, tetapi ?seberapa banyak? sang pria membuatnya jatuh cinta? Hal yang paling penting dalam kepraktisan Amerika adalah ?seberapa banyak??: dapatkah orang tersebut menghidupi dirinya? Dapatkah ia men-support seorang istri? Ini adalah satu-satunya hal yang menjadi justifikasi perkawinan. Perlahan-lahan hal ini tidak terpisahkan dalam pemikiran setiap wanita. Impiannya bukanlah ciuman dibawah bulan; ia memimpikan shopping tour dan menawar barang. Kemiskinan jiwa ini merupakan elemen inheren dalam institusi perkawinan. Negara dan agama menyetujui ideal-ideal perkawinan sesederhana ide bahwa sangat perlu untuk mengontrol pria dan wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Tidak diragukan terdapat orang-orang yang terus-menerus menganggap cinta berada jauh diatas dolar. Secara khusus hal ini terjadi dalam kelas-kelas yang keperluan ekonominya memaksa mereka untuk mensuport diri mereka sendiri. Perubahan pada wanita dimulai ketika mereka secara fenomenal masuk dalam arena industri dengan jumlah 6 juta wanita pencari upah; 6 juta wanita yang memiliki hak yang sama dengan pria untuk dieksploitasi, dirampok, dan untuk melakukan pemogokan; juga untuk kelaparan. Hal lain lagi Tuan? ? Ya, 6 juta pekerja dalam segala segi kehidupan, dari pengguna otak hingga pekerja tambang yang sulit dan di pembuatan rel-rel kereta api, bahkan detektif dan polisi. Dengan pasti emansipasi akan komplit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Dengan semua ini, hanya sedikit dari kekuatan wanita yang bekerja demi upah - melihat kerja sebagai isu permanen, dalam pandangan yang sama dengan pria. Tidak terkecuali bagaimana rendahnya pria, ia telah diajarkan untuk menjadi independen, men-support dirinya sendiri, meski saya tahu tidak ada satu orangpun yang benar-benar independen dalam lingkup ekonomi zaman ini. Meskipun demikian spesies terendah dari pria membenci jadi parasit, atau untuk dikenal sebagai parasit dengan alasan apapun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Wanita selalu berada dalam posisi transit sebagai pekerja, untuk dibuang pada kesempatan pertama. Hal ini yang membuat sangat sulit untuk mengorganisasi wanita daripada pria. ?Kenapa saya harus bergabung dengan serikat-serikat pekerja? Saya akan menikah dan punya rumah. Dan bukankah hal ini yang telah diajarkan pada wanita sejak masa kanak-kanak sebagai panggilan utama? Wanita akan belajar dengan cepat bahwa rumah, meskipun tidak sebesar penjara atau pabrik, memiliki lebih banyak pintu-pintu besi dan jeruji. Rumah memiliki penjaga yang sangat setia hingga kesia-siaan pun tidak dapat lolos darinya. Hal yang sangat tragis, rumah tidak membebaskan wanita dari perbedaan upah, tetapi malah semakin menambah tugas-tugasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Menurut data statistik terakhir yang diserahkan komite ?pekerja buruh dan upah,serta kepadatan populasi? sepuluh persen dari pekerja yang tinggal di New York saja yang telah menikah, dan mereka harus hidup di dunia dengan upah terendah. Ditambah lagi dengan pekerjaan membosankan di rumah, jadi apa yang tertinggal dari keamanan dan kenyamanan rumah? Dapat ditambahkan disini bahwa seorang wanita kelas menengah tidak dapat menyebut ia mempunyai rumah, karena pria yang mengawininyalah yang membuatkan lingkungan bagi dirinya. Tidak perlu diperdulikan lagi apakah suaminya seorang brengsek atau penyayang. Apa yang saya coba buktikan adalah perkawinan menggaransi wanita akan rumah, belas kasih sang pria, kemudian ia pindah kesana tahun demi tahun hingga semua aspek kemanusiaannya serata, sependek, dan semembosankan lingkungan sekelilingnya. Dapat dipastikan wanita menjadi manja, cerewet, senang menggosip, tidak tertahankan sehingga diusir dari rumah oleh sang pria. Wanita tidak dapat pergi, bahkan jika ia ingin pergi; tidak ada tempat lain untuk dituju. Selain itu dalam periode perkawinan yang singkat dimana seorang wanita menyerahkan hidupnya dari hampir semua kesulitan, sehingga kapasitasnya menghadapi dunia di luar rumahnya tidak dimilikinya lagi. Ia menjadi ceroboh dalam penampilan, kagok dalam gerakan, tidak memiliki kemampuan mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, penakut untuk menjalani keputusan yang diambilnya, membosankan, dan hal-hal lain yang biasanya dibenci oleh pria. Bagaimana? Apakah ini merupakan gambaran atmosfir yang menarik bagi suatu kehidupan, atau bukan? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Tetapi bagaimana dengan anak, bagaimana ia dilindungi, jika bukan demi perkawinan? Hei, bukankah ini merupakan perhatian penting akan perkawinan? Kesia-siaan, kemunafikan! Perkawinan melindungi anak? Bagaimana dengan ribuan anak tidak keruan di jalan dan tuna wisma. Perkawinan melindungi anak-anak sementara rumah-rumah panti asuhan dan sosial bagi anak-anak kepenuhan, organisasi serta grup-grup pencegahan kekejaman akan anak-anak sibuk menyelamatkan anak-anak dari orang-tua yang ?mencintai? mereka, yang seharusnya menempatkan mereka dalam kasih sayang dan perhatian? inilah masyarakat lelucon kita! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Perkawinan mungkin memiliki kekuatan untuk ?membawa kuda ke air?, tetapi apakah ia mempunyai kekuatan memaksanya untuk minum? Hukum akan menempatkan sang ayah ditangkap, dikenakan pakaian penjara. Apakah hal ini dapat memuaskan rasa lapar sang anak? Jika sang ayah tidak memiliki pekerjaan, atau jika ia memang menutupi identitas dirinya apakah arti perkawinan? Memohon pada hukum membawanya pada ?keadilan?, untuk mengamankannya dibalik terali besi dimana didalamnya ia bekerja atau dipaksa bekerja sebagai buruh yang upahnya tidak diberikan pada awaknya, melainkan pada negara. Sang anak hanya mendapatkan bayangan kelebat pakaian kerja sang ayahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Sebagai pelindung wanita! Satu lagi kebohongan dari kutukan perkawinan. Karena pada intinya ia tidak melindungi wanita; ide yang sebenarnya adalah sangat menghina, menyia-nyiakan, serta merendahkan hidup, yang paling bawah dari harga diri manusia, dan pada institusi parasit ini sudah waktunya dihancurkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Perkawinan adalah sebagaimana juga perjanjian patrilinear kapitalisme. Merampok seseorang dari hak hidupnya, menyengatnya, meracunnya, tidak memperdulikannya, membuatnya miskin dan bergantung untuk kemudian menawarkan kebaikan hati yang membuat seorang manusia merasa tidak memiliki harga diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Institusi perkawinan membuat wanita seakan-akan parasit, sangat tergantung karena tidak memiliki kapasitas bagi hidupnya sendiri, menghapus kesadaran sosialnya, mematahkan imajinasi untuk lari pada perlindungan-perlindungan yang realitanya adalah jerat-jerat dari berbagai karakter manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Jika keibuan merupakan pemenuhan tertinggi pagi kealamian seorang wanita, perlindungan bagaimana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan kebebasan dan cinta? Pernikahan? Hanya mengotorkan, menghina dan merendahkan serta mengkorupsi pemenuhan kebutuhannya. Bukankah hal yang sering dikatakan pada wanita adalah, hanya jika kalau mengikuti saya maka kamu mendapatkan kehidupan? Bukankah hal ini yang membawa wanita pada kebuntuan, bukankah hal ini yang merendahkan dan memalukan dirinya sehingga ia harus menjual keibuannya dengan menolak hal tersebut hanya bagi dirinya? Bukankah perkawinan sebuah sanksi bagi keibuan, dimana disusun berdasarkan kebencian dan paksaan? Bagaimana jika keibuan adalah PILIHAN BEBAS dari cinta, kesenangan dan nafsu kehidupan serta tidak ditaruh di bawah mahkota dan huruf-huruf darah julukan-julukan seram para bajingan? Perkawinan, yang didalamnya seakan-akan berisi kebaikan-kebaikan yang sebenarnya merupakan kejahatan pada keibu-an dan menjauhkannya dari cinta yang sesungguhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Cinta merupakan elemen terkuat dalam hidup, pertanda akan harapan, kegembiraan, kesenangan; cinta pembangkang dari semua hukum, semua konvensi, cinta adalah yang paling bebas; cetakan terkuat yang menentukan nasib manusia. Bagaimana mungkin semua hal yang hidup ini merupakan sinonim bagi kemiskinan agama dan negara? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Cinta bebas? Seakan-akan cinta adalah segalanya kecuali bebas! Manusia telah membeli otak, tetapi bilyunan uang di dunia tidak mampu membeli cinta. Manusia telah menaklukkan tubuh-tubuh, tetapi semua singa-singa ini gagal membeli cinta. Manusia telah merantai semangat, tetapi manusia tidak berdaya dihadapan cinta. Manusia telah mengalahkan dan menguasai seluruh negara, tetapi semua tentara mereka tidak bisa mengalahkan dan menguasai cinta. Jauh tinggi diatas tahta, dengan segala kebesarannya cinta dapat menguasai manusia tetapi manusia terisolasi dan miskin untuk menyentuhnya, dimana ketika seorang manusia mencoba untuk berusaha maka ia akan merasakan hangatnya hidup dengan warna-warnanya. Cinta mempunyai kekuatan mengubah seorang pengemis menjadi raja. Ya betul, cinta adalah bebas; ia tidak ada dalam atmosfir lain. Dalam kebebasan, cinta membuka, menerangi menyeluruh hingga semua hukum atau aturan-aturan, semua pengadilan dalam alam semesta tidak dapat mencabutnya. Ketika ia telah menjadi akar di tanah yang steril, cinta dapat membuahkan sesuatu seperti perkawinan? Hal ini sama saja mencoba menghidupkan rumput mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Cinta tidak butuh pelindung; cinta adalah pelindung dirinya sendiri. Sepanjang cinta menurunkan seorang anak maka cinta tidak akan meninggalkannya atau membiarkannya lapar, atau tidak peduli akan kebutuhannya akan kasih sayang. Saya tahu hal ini benar-benar terjadi. Saya kenal wanita yang menjadi ibu serta terbebas dari pria yang mereka cintai, dibandingkan anak-anak dalam tali perkawinan menikmati perlindungan serta perhatian bebas yang diberikan ibu mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Para pendukung otoritas sangat ketakutan dengan adanya kebebasan keibu-an yang diupayakan sendiri oleh wanita. Siapa yang akan melakukan perang bagi mereka? Siapa yang akan membuat mereka kaya? Siapa yang akan menjadi polisi, sipir ? jika wanita menolak indiskriminasi membuat anak? Ras manusia! Ras manusia teriak sang raja,presiden, kapitalis, pendeta, ulama, dll. Ras manusia harus dijaga sehingga wanita direndahkan hanya sebagai mesin serta institusi perkawinan sebagai anjing-anjing penjaga yang membuat wanita terjaga kesadarannya sebagai budak seks yang dirampok oleh institusi-institusi ini. Dengan sia-sia usaha untuk mempertahankan keadaan mengikat ini, dengan sia-sia pula usaha-usaha agama untuk ?menyadarkan?. Serangan dari penguasa bahkan senjata-senjata hukum jadi sia-sia. Wanita tidak mau lagi menjadi pesta produksi sebuah ras yang sakit, penipu dan menghancurkan dimana ia tidak memiliki kekuatan atau keberanian moral untuk menghacurkan penindasan yang menyebabkan kemiskinan dan perbudakan. Wanita lebih memilih untuk memiliki lebih sedikit anak, dilahirkan dan diarahkan untuk cinta serta kebebasan memilih; bukan dengan paksaan seperti yang dianjurkan perkawinan. Para moralis palsu belum mempelajari perasaan tanggung jawab mendalam terhadap anak-anak bahwa cinta dalam kebebasan adalah yang membuat wanita. Dimana hal ini adalah keibuan yang sebenarnya dibanding membawa sebuah napas baru dalam atmosfir kehancuran dan kematian. Dan bila seorang wanita wanita ingin menjadi ibu bagi seorang anak adalah untuk memberikan dirinya yang terbaik sebagai tempat belajar. Untuk berkembang bersama dengan anaknya menjadi mottonya; karena hanya dengan cara itu ia dapat mengembangkan kewanitaannya, kepriaan anak-anaknya, dan ia mengetahui hal ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Ibsen mungkin pernah mempunyai visi, dimana dengan goresan seorang maestro, ia menggambarkan Mrs. Alvin yang merupakan ibu ideal karena memahami perkawinan dan melihat horor didalamnya, karena ia telah melepaskan ikatan-ikatan dan membiarkan spiritnya terbang bebas untuk kembali menjadi seorang manusia, lahir kembali dan kuat. Meskipun terlambat untuk menyelamatkan hidupnya sendiri, bagian dari dirinya mati bersama Oswald; tetapi belum terlambat untuk menyadari cinta dalam kebebasan adalah satu-satunya yang terindah dalam hidup. Mereka-mereka yang menjalani hidup seperti Mrs.Alvin telah membayar dengan darah dan air mata bagi kebangkitan spiritual mereka, membuat perkawinan sebagai beban, kedangkalan dan penghinaan. Mereka sadar, meskipun cinta hanya bertahan dalam periode yang pendek atau selamanya, ia adalah satu-satunya basis bagi inspirasi, kreatif sebuah ras baru, sebuah dunia baru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:85%;"&gt;Dalam keadaan primitif kita sekarang, cinta adalah hal yang benar-benar asing bagi kebanyakan orang, tidak dimengerti dan tertutup kabut, serta sama sekali tidak memiliki akar; atau tertiup angin dan mati. Material cinta pada saat ini belum bisa menahan tekanan dan bantingan kehidupan keseharian. Cinta menangis dan merintih serta menderita, jiwanya terlalu kompleks untuk masuk dalam keadaan sosial kita yang menjijikkan. Cinta menderita bersama-sama dengan mereka yang membutuhkannya tetapi tidak memiliki kapasitas untuk menjangkaunya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="IN"&gt;Suatu hari nanti pria dan wanita akan bangkit. Mereka akan mencapai puncak gunung, mereka akan saling bertemu sama kuat dan sama bebas,siap untuk mengambil bagian, menerima, dan hidup dalam sinar cahaya cinta. Sebuah ideal, sebuah imajinasi, kejeniusan puitis yang melihat potensial kekuatan dalam kehidupan pria dan wanita. Jika dunia melahirkan pertemanan sejati dan kesatuan? bukan perkawinan, tapi cinta yang menjadi orang tuanya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:85%;" &gt;- diposting dengan backsound Desember | Efek Rumah Kaca -&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-8684102110419512663?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/8684102110419512663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=8684102110419512663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/8684102110419512663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/8684102110419512663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/12/perkawinan-dan-cinta.html' title='PERKAWINAN DAN CINTA'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-3179513021824490925</id><published>2008-07-24T10:01:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T10:23:54.490-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>KAPALNYA ORANG-ORANG TOLOL</title><content type='html'>&lt;p align="left"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SIi5hnY93VI/AAAAAAAAAB8/MMNeSGbZ1Ew/s1600-h/ted.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226631354723982674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SIi5hnY93VI/AAAAAAAAAB8/MMNeSGbZ1Ew/s320/ted.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;oleh : Ted Kaczynski (1999)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada suatu ketika, seorang kapten dan para perwira dari sebuah kapal merasa yakin atas perjalanan mereka mengarungi lautan, penuh percaya diri dan bangga dengan diri mereka sendiri, sehingga mereka menjadi gila. Mereka membelokkan kapal mereka ke utara dan berlayar hingga mereka berpapasan dengan gunung-gunung es dan gumpalan-gumpalan es terapung yang berbahaya, dan mereka tetap berlayar ke utara menuju perairan yang semakin berbahaya, semata-mata demi memberikan kesempatan pada diri mereka sendiri untuk melakukan perbuatan-perbuatan pelayaran yang jauh lebih brilian.&lt;br /&gt;Sebagaimana kapal tersebut mencapai garis lintang yang semakin tinggi, para penumpang dan awak kapal semakin merasa tak nyaman. Mereka mulai berselisih di antara mereka sendiri dan mengeluhkan kondisi-kondisi hidup mereka.&lt;br /&gt;“Aku menggigil,” ujar seorang jurumudi, “Seakan inilah pelayaran terburuk yang pernah aku lakukan. Dek penuh dengan es; saat aku melongok keluar, angin menusukku seperti pisau menembus jaketku; setiap saat aku menghindari karang aku harus menggerakkan seluruh jemariku yang membeku; dan untuk semua itu aku hanya mendapatkan lima shilling per bulan yang menyedihkan!”&lt;br /&gt;“Kau pikir apa yang kamu terima itu buruk!” ujar seorang penumpang perempuan, “Aku tidak bisa tidur di malam hari karena dingin. Para perempuan di kapal ini tidak mendapatkan selimut sebanyak yang didapatkan para lelaki. Hal ini tidak adil!”&lt;br /&gt;Seorang kelasi Meksiko menimpali, “¡Chingado! Aku hanya mendapatkan setengah dari upah para pelaut Anglo. Kami membutuhkan banyak makanan agar menjaga tubuh kami agar tetap hangat di tengah iklim seperti ini, dan aku tidak mendapatkan jatahku; para Anglo mendapatkan lebih banyak. Dan yang paling buruk dari semua hal tersebut adalah bahwa mereka selalu memberi perintah padaku dalam bahasa Inggris, bukannya Spanyol.”&lt;br /&gt;“Aku memiliki lebih banyak alasan untuk mengeluh dibanding siapapun juga,” ujar seorang kelasi Indian Amerika, “Apabila para muka pucat tidak merampok tanah-tanah leluhurku, aku tak akan berada di atas kapal ini, di sini di antara gunung es dan angin Arctic. Aku akan hanya mendayung kano di sebuah danau yang indah dan tenang. Aku layak diberi kompensasi. Dan pada akhirnya, sang kapten harus membiarkanku ikut bermain judi agar aku bisa mendapatkan uang.”&lt;br /&gt;Seorang homoseks turut berkata, “Kemarin seorang perwira pertama menghinaku karena aku melakukan oral seks. Aku berhak melakukan oral seks tanpa harus mendapatkan penghinaan.”&lt;br /&gt;“Bukan hanya manusia yang diperlakukan tak adil di atas kapal ini,” seling seorang penyayang binatang yang berada di antara para penumpang, suaranya gemetar penuh kemarahan, “Kenapa, minggu lalu aku melihat perwira kedua menendang anjing kapal ini dua kali.”&lt;br /&gt;Salah seorang dari para penumpang adalah seorang profesor universitas. Dengan meremas-remas tangannya, ia menyatakan, “Semua ini mengerikan! Tak bermoral! Rasisme, seksisme, homofobia dan pengeksploitasian kelas pekerja! Ini adalah diskriminasi! Kita harus memiliki keadilan sosial: upah yang setara bagi kelasi Meksiko, upah lebih tinggi bagi semua kelasi, kompensasi bagi Indian, jumlah selimut yang sama bagi para perempuan, sebuah hak yang dijamin untuk melakukan oral seks, dan tak ada lagi tendangan terhadap anjing.”&lt;br /&gt;“Ya, ya!” seru para penumpang. “Aye-aye!” seru para awak kapal. “Ini semua adalah diskriminasi! Kita harus menuntut hak-hak kita!”&lt;br /&gt;Seorang awak kabin berdehem.&lt;br /&gt;“Ehm. Kalian semua memiliki alasan-alasan yang bagus untuk dikeluhkan. Tetapi bagiku tampaknya apa yang harus kita lakukan adalah memutar kapal ini dan berlayar kembali menuju selatan, karena apabila kita terus berlayar ke utara sudah pasti cepat atau lambat kita akan tenggelam, dan kemudian, upah kalian, selimut kalian, hak kalian untuk melakukan oral seks, tak akan berguna lagi, karena kita semua tenggelam.”&lt;br /&gt;Tetapi tak seorangpun yang memperhatikan dirinya, karena ia hanyalah seorang awak kabin.&lt;br /&gt;Sang kapten dan para perwira, dari stasiun mereka di atas dek buritan, telah melihat dan mendengarkan. Kini mereka tersenyum dan berkedip pada sesamanya, dan dengan satu gerakan saja dari sang kapten, seorang perwira ketiga turun dari atas dek buritan, melangkah menuju ke tempat di mana para penumpang dan awak kapal berkumpul, sambil menembus kerumunan. Ia memasang mimik muka serius di wajahnya dan lantas berkata, “Kami para perwira menyatakan bahwa beberapa hal yang tak termaafkan sedang terjadi di kapal ini. Kami tidak menyadari seberapa buruk situasinya hingga kami mendengar keluhan-keluhan kalian. Kami adalah orang-orang yang beritikad baik dan ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar bagi kalian. Tetapi, yah, sang kapten cenderung konservatif dan melakukan caranya sendiri, dan mungkin harus sedikit didorong dulu sebelum ia membuat beberapa perubahan-perubahan yang substansial. Menurut pendapatku pribadi, apabila kalian memprotes dengan giat-tetapi dengan tetap damai dan tanpa melanggar aturan-aturan di atas kapal ini-kalian akan menggoyangkan sang kapten dari kebekuannya dan memaksanya agar mengurusi masalah-masalah yang baru saja kalian keluhkan.”&lt;br /&gt;Setelah mengatakan hal tersebut, perwira ketiga tersebut kembali ke atas dek buritan. Sebagaimana ia pergi, para penumpang dan awak kapal berseru kepadanya, “Moderat! Reformis! Liberal yang sok baik! Kakitangan kapten!” Tetapi mereka melakukan juga apa yang diucapkan sang perwira. Mereka berkumpul di sebuah sisi kapal di hadapan dek buritan, meneriakkan hinaan-hinaan terhadap para perwira dan mengajukan tuntutan untuk hak-hak mereka, “Aku ingin upah lebih tinggi dan kondisi-kondisi kerja yang lebih baik,” seru jurumudi. “Jumlah selimut yang sama bagi perempuan,” seru sang penumpang perempuan. “Aku ingin menerima perintah dalam bahasa Spanyol,” seru sang kelasi Meksiko. “Aku ingin mendapatkan hak untuk mengikuti permainan judi,” seru sang kelasi Indian. “Aku tidak ingin dihina,” seru sang homoseks. “Tak ada lagi yang menendang anjing,” seru sang penyayang binatang. “Revolusi sekarang juga,” seru sang profesor.&lt;br /&gt;Sang kapten dan para perwira berkumpul dan melakukan rapat selama beberapa menit, saling berkedip, mendengus dan tersenyum beberapa saat antara satu sama lain. Kemudian sang kapten melangkah ke depan dek buritan dan, dengan memperlihatkan itikad baiknya, menyatakan bahwa upah sang kelasi yang cakap akan dinaikkan sebanyak enam shilling per bulan; upah kelasi Meksiko akan dinaikkan sebanyak dua pertiga dari kelasi Anglo, dan perintah untuk menjalankan kapal akan diucapkan dalam bahasa Spanyol; para penumpang perempuan akan menerima tambahan satu selimut; kelasi Indian akan diperbolehkan untuk bermain judi setiap Sabtu malam; sang homoseks tak akan dihina selama ia tetap melakukan oral seks di tempat yang tertutup; dan anjing tak akan ditendang kecuali anjing tersebut melakukan tindakan yang benar-benar nakal, seperti mencuri makanan dari dapur.&lt;br /&gt;Para penumpang dan awak kapal merayakan keputusan-keputusan tersebut sebagai sebuah kemenangan besar, tetapi keesokan harinya mereka kembali merasa tak puas.&lt;br /&gt;“Enam shilling per bulan itu terlalu sedikit, dan jari-jariku masih membeku saat aku menjalankan kapal,” umpat sang juru mudi. “Aku masih tidak mendapatkan upah yang sama dengan para kelasi Anglo, ataupun makanan yang cukup untuk iklim yang seperti ini,” ujar sang kelasi Meksiko. “Kami perempuan masih tidak mendapat cukup selimut untuk membuat badan kami hangat,” ujar sang penumpang perempuan. Para kelasi dan penumpang lain menyuarakan keluhan-keluhan yang serupa, dan sang profesor mengambil kesimpulan dari semuanya.&lt;br /&gt;Saat mereka semua telah selesai berbicara, sang awak kabin berkata-kali ini dengan suara lebih keras sehingga yang lain tak akan lagi tak memperhatikannya.&lt;br /&gt;“Memang sangat buruk apabila anjng tersebut ditendang hanya karena mencuri sedikit roti dari dapur, dan apabila para perempuan tidak mendapatkan jumlah selimut yang setara, dan sang jurumudi membeku jemarinya, dan aku juga tidak melihat alasan mengapa homoseks tidak boleh melakukan oral seks kapanpun ia mau. Tetapi perhatikan seberapa tebal gunung-gunung es sekarang, dan bagaimana hembusan angin semakin kencang dan semakin kencang! Kita harus mengubah arah kapal ini kembali ke selatan, karena apabila kita tetap meluncur ke utara kita akan menabrak dan tenggelam.”&lt;br /&gt;“Oh ya,” ujar sang homoseks, “Bukankah mengerikan apabila kita terus berlayar ke utara. Tetapi mengapa aku harus melakukan orang seks di tempat tertutup? Mengapa aku harus mendapat penghinaan? Bukankah aku setara dengan orang lainnya?”&lt;br /&gt;“Berlayar menuju utara memang mengerikan,” ujar sang penumpang perempuan, “Tetapi tidakkah kau lihat? Itu alasannya mengapa perempuan membutuhkan lebih banyak selimut agar tetap hangat. Aku menuntut jumlah selimut yang setara bagi perempuan, sekarang juga!”&lt;br /&gt;“Cukup benar,” ujar sang profesor, “Bahwa berlayar ke utara memberikan kesulitan-kesulitan pelayaran yang lebih besar bagi kita semua. Tetapi mengubah arah haluan ke selatan jelas tidak realistis. Engkau tak dapat mengembalikan waktu. Kita harus bersikap dewasa dalam berurusan dengan situasi seperti ini.”&lt;br /&gt;“Lihat,” ujar sang awak kabin, “Apabila kita membiarkan empat orang gila di dek buritan itu menjalankan apa yang mereka mau, kita semua akan tenggelam. Apabila kita dapat membawa kapal ini keluar dari bahaya, maka barulah kita bisa mulai khawatir tentang kondisi-kondisi kerja, selimut bagi para perempuan, hak untuk melakukan oral seks. Tetapi pertama-tama kita harus membuat kapal ini berbalik arah. Apabila beberapa dari kita bekerjasama, membuat rencana dan memperlihatkan sedikit keberanian, kita dapat menyelamatkan diri kita semua. Tidak perlu terlalu banyak-enam atau delapan orang saja cukup. Kita dapat mengambil alih buritan, menyingkirkan mereka dari posisinya, dan membelokkan kapal ke arah selatan.”&lt;br /&gt;Sang profesor mendenguskan hidungnya dan bersuara keras, “Aku tidak percaya pada kekerasan. Itu tak bermoral.”&lt;br /&gt;“Sangat tidak etis untuk menggunakan kekerasan,” ujar sang homoseks.&lt;br /&gt;“Aku takut pada kekerasan,” ujar sang penumpang perempuan.&lt;br /&gt;Sang kapten dan para perwira telah melihat dan mendengarkan selama beberapa saat. Dengan sebuah sinyal dari sang kapten, perwira ketiga melangkah turun ke dek utama. Ia melangkah menuju ke arah para penumpang dan awak kapal, berkata pada mereka bahwa masih juga banyak masalah di atas kapal.&lt;br /&gt;“Kita telah membuat beberapa kemajuan,” ujarnya, “Tetapi masih banyak yang harus dilakukan. Kondisi-kondisi kerja bagi jurumudi masih sulit, kelasi Meksiko masih mendapat upah yang tak setara dengan kelasi Anglo, para perempuan masih juga tidak mendapatkan selimut yang sama banyak dengan para lelaki, permainan judi Sabtu malam bagi sang Indian juga masih berupa kompensasi yang jauh dari cukup atas tanahnya yang hilang, sama sekali tak adil bagi homoseks apabila ia hanya boleh melakukan oral seks di tempat tertutup, dan anjing itu masih juga ditendang.&lt;br /&gt;“Aku pikir sang kapten harus didorong lagi. Akan sangat membantu apabila kalian menyelenggarakan protes lagi-selama tidak dengan kekerasan.”&lt;br /&gt;Sebagaimana sang perwira ketiga berjalan kembali ke buritan, para penumpang dan awak kapal mengeluarkan hinaan-hinaan padanya, tetapi mereka juga tetap menjalankan apa yang sang perwira katakan dan berkumpul di depan buritan untuk melakukan protes lagi. Mereka berseru dan mengoceh serta mengacungkan kepalan tangan mereka, dan bahkan mereka juga melemparkan sebuah telur busuk pada sang kapten (yang mana dengan lihai dielakkannya).&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan keluhan-keluhan mereka, sang kapten dan perwira berkumpul dan melakukan sebuah rapat, yang mana selama rapat mereka saling berkedip dan meringis dengan sesamanya. Kemudian sang kapten melangkah ke depan dek buritan dan menyatakan bahwa sang jurumudi akan diberi sarung tangan agar jemarinya tetap hangat, kelasi Meksiko akan menerima upah yang setara dengan tiga per empat upah kelasi Anglo, para perempuan akan mendapatkan tambahan selimut, kelasi Indian diperbolehkan berjudi pada Sabtu malam dan Minggu malam, sang homoseks diperbolehkan melakukan oral seks di manapun setelah hari gelap, dan tak ada seorangpun yang boleh menendang anjing tanpa seijin kapten kapal.&lt;br /&gt;Para penumpang dan awak kapal bergembira atas kemenangan revolusioner besar ini, tetapi keesokan harinya mereka kembali merasa tak puas dan mulai menggerutu atas kesulitan-kesulitan yang sama dalam pelayaran tersebut.&lt;br /&gt;Kali ini sang awak kabin menjadi marah.&lt;br /&gt;“Kalian tolol!” teriaknya, “Tidakkah kalian lihat apa yang sang kapten dan para perwiranya lakukan? Mereka terus membuat kalian berpikir pada kesialan-kesialan tak penting seperti selimut dan upah dan anjing yang ditendang sehingga kalian tidak akan berpikir tentang apa yang sebenarnya salah dengan kapal ini-bahwa kapal ini terus berlayar semakin dan semakin jauh ke utara dan kita semua akan tenggelam. Apabila saja beberapa dari kalian sadar, bekerjasama, dan mengambil alih buritan, kita dapat memutar arah kapal ini dan menyelamatkan kita semua. Tapi semua yang kalian lakukan hanyalah mengeluhkan isu-isu remeh seperti kondisi-kondisi kerja dan permainan judi dan hak untuk melakukan oral seks.”&lt;br /&gt;Para penumpang dan awak kapal mulai naik darah.&lt;br /&gt;“Menyedihkan!” seru sang Meksiko, “Apakah pikirmu memang wajar kalau aku hanya mendapatkan tiga per empat upah seorang kelasi Anglo? Bukankah itu menyedihkan?”&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa engkau menyebut kesialanku ini tidak penting?” seru sang homoseks, “Tidakkah engkau tahu bahwa dihina itu sangat menyakitkan?”&lt;br /&gt;“Menendang anjing itu bukanlah sebuah isu yang remeh!” seru sang penyayang binatang, “Hal tersebut tak berperasaan, kejam dan brutal!”&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu,” jawab sang awak kabin, “Isu-isu tersebut tidak remen dan penting. Menendang anjing adalah tindakan yang kejam dan brutal, serta sangat menyakitkan kalau dihina. Tetapi dibandingkan dengan masalah utama kita-dibandingkan pada fakta bahwa kapal kita masih mengarah ke utara-kesialan-kesialan kalian menjadi sesuatu yang remeh dan tak penting, karena apabila kita tidak sesegera mungkin mengubah arah kapal ini, kita semua akan tenggelam.”&lt;br /&gt;“Fasis!” ujar sang profesor.&lt;br /&gt;“Kontra-revolusioner!” ujar sang penumpang perempuan. Dan seluruh penumpang serta awak kapal saling berbicara di antara mereka sendiri, menyebut sang awak kabin sebagai seorang fasis dan kontra-revolusioner. Mereka mendorong sang awak kabin ke pinggir dan kembali menggerutu tentang upah, tentang selimut bagi para perempuan, dan tentang hak untuk melakukan oral seks, dan juga tentang bagaimana anjing harus diperlakukan.&lt;br /&gt;Kapal tersebut tetap berlayar ke arah utara, dan setelah beberapa saat, kapal tersebut terjepit hingga hancur di antara dua buah gunung es dan semua orang tenggelam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-3179513021824490925?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/3179513021824490925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=3179513021824490925' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/3179513021824490925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/3179513021824490925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/07/kapalnya-orang-orang-tolol.html' title='KAPALNYA ORANG-ORANG TOLOL'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SIi5hnY93VI/AAAAAAAAAB8/MMNeSGbZ1Ew/s72-c/ted.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-153355455115064114</id><published>2008-06-16T11:25:00.000-07:00</published><updated>2008-06-16T12:10:39.176-07:00</updated><title type='text'>KEMISKINAN KEHIDUPAN SEKSUAL</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perjuangan proletariat melawan kapitalisme yang paling &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212550262049524418" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 281px; CURSOR: hand; HEIGHT: 204px; TEXT-ALIGN: center" height="104" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SFay2JdUysI/AAAAAAAAAB0/BFEi8VqFg1c/s320/relation.jpg" width="144" border="0" /&gt;kontemporer tidak terbatas hanya dalam tataran produksi dan berhenti pada sebentuk kejijikan terhadap kondisi yang eksis tersebut yang terekspresikan dalam terminologi ekonomis dan politis saja. Dewasa ini, tanda-tanda pemberontakan yang muncul lebih banyak menekankan pada sisi social dalam karakter yang diembannya melebihi porsi lainnya, dan sebagai konsekuensinya, kritik teoritis mengenai kehidupan harian dalam tataran masyarakat borjuis, yang dimulai dengan analisa Marx mengenai pengalienasian pekerja, harus dikembangkan untuk meliputi bentuk-bentuk baru sebagai ekspresi praksis. Oposisi yang samar-samar terhadap kehidupan spektakular menjadi semakin terlihat, tidak hanya dalam poin-poin produksi, melainkan juga melalui setiap faset dari realitas yang dihadapi setiap hari. Tampaknya aspek-aspek yang paling signifikan dari pemberontakan ini telah berkembang melalui penolakan secara luas terhadap struktur dasar masyarakat borjuis, keluarga, pernikahan, moralitas, dsb.; kolapsnya bentuk-bentuk dan nilai-nilai yang saling terpisah tersebut telah menjadi bagian dari pemberontakan yang menyeluruh melawan definisi konvensional atas seksualitas yang 'diperbolehkan'. Dalam konteks yang lebih luas lagi, devaluasi masyarakat borjuis secara implicit adalah sebuah bentuk penolakan atas kondisi survival yang dipaksakan. Walaupun pada saat yang sama, bagaimanapun juga, oposisi ini tidak tampil sebagai sebuah ancaman yang menyentuh pengkelasan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Norma yang secara social diruntuhkan melalui kebiasaan seksual telah lama menjadi bentuk penyerangan terhadap batu fondasi masyarakat hirarkis. Sudah menjadi tradisi bahwa karakter represif dari masyarakat borjuis memang terlegitimasikan, tidak hanya terepresentasikan dalam penggunaan kekerasan melawan proletariat, tetapi juga penindasan terhadap seksualitas. Telah berabad-abad lamanya, negerinegeri dimana sistem birokratisasi negaranya sangat sukses, menerapkan moralitas yang asketis dan berbagai variannya sebagai sebuah mekanisme yang sangat efektif untuk membuat regulasi sosial: misalnya Russia (yang kini telah ambruk), Cina, Kuba, Afghanistan di bawah Taliban, dlsb., menerapkan ideologi moral yang mirip dengan efek yang juga mirip. Sementara itu di negeri-negeri yang secara terangterangan mengadopsi system kapitalisme sebagai bagian dasar dari tatanan masyarakatnya, bagaimanapun juga, bentuk yang paling advance dari masyarakat spektakularnya tidak menggunakan metoda-metoda yang vulgar seperti beberapa contoh Negara di atas dalam mengontrol penduduknya, walaupun tujuan yang ingin dicapai jelas tak berbeda. Dalam kasus ini, seperti di Indonesia sendiri misalnya, Dunia Tontonan telah bergerak jauh dan justru secara aktif mempromosikan dekomposisi bagi bentuk-bentuk yang selama ini memperkuat posisinya: nilainilai moralitas dan keluarga. Seksualitas yang sebelumnya menjadi batasan-batasan masyarakat borjuis kini mulai ditoleransi, yang dimana secara terbuka dan agresif terekspresikan oleh mereka yang selama ini 'dipinggirkan' seperti kaum gay, pekerja seks, dibantu oleh ekspos berbagai media, walaupun hal tersebut tetap menjadi bagian dari kultur spektakular yang begitu menyeluruh. Sebagai contoh, dapat dilihat presentase jumlah karya literer yang ditulis oleh para penulis muda, sebagian besar mengambil seks sebagai tema intinya, atau setidaknya seks menjadi bagian yang kental dan tak terpisahkan dari keseluruhan karya; belum lagi fenomena 'goyang Inul' yang sempat menjadi bahan pergunjingan nasional mengalahkan fenomena Perang Teluk II.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apa yang dulu dianggap tabu dalam masyarakat borjuis telah melenyap di hadapan konflik moral yang menghadirkan standar-standar baru. Berbagai suri tauladan dalam kehidupan yang telah lalu (virginitas, monogami, 'straight sex', dsb.), yang memang tidak lebih dari sekedar mitos, telah tergantikan oleh 'petualangan' modern yang penuh intrik dan sebelumnya dianggap kekufuran. Dari gedung-gedung perkantoran hingga ke daerah pinggiran, 'keterbukaan' telah diproklamasikan dalam berbagai affair seksual; tuntutan-tuntutan yang 30 tahun lalu dianggap radikal seperti perlunya edukasi seks, kini mulai diterima sebagai sebuah program khusus dalam berbagai institusi publik. Di bidang sastra, libertinisme radikal seperti Leopold von Sacher-Masoch, justru menjadi sebuah kekuatan dalam ritual kontemporer perayaan 'kebebasan seksual'--yang terbukti hal-hal yang menjadi skandal di masa lalu, kini tak lebih selain sebuah stimulant yang memberi sedikit warna lain dalam kehidupan sehari-hari. Keterbukaan tersebut bahkan juga telah menyelusup pada media-media konvensional; ibu-ibu rumah tangga kini dapat 'berpartisipasi' dalam talk-show di berbagai radio dimana aktifitas seksual, persenggamaan, penyimpangan, menjadi topik utama yang dibicarakan dengan terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menengok pada era tahun 1960an di Barat yang banyak didiskusikan dan menjadi acuan hingga saat ini tentang kebebasan seksualnya, Bagaimanapun juga, justru melandaskan dirinya pada sebuah dominasi seksual. Dalam usahanya untuk membuat seksualitas menjadi hal yang dapat diakses umum, Dunia Tontonan justru tersembunyi dalam tingkat kecabulannya. Kapitalisme bertransformasi dengan terus membuat generalisasi-generalisasi atas imaji seksual, yang sejauh apapun disingkirkan dari puritanisme, tetap hanya dihadirkan sebagaimana sebelumnya: sebagai sekedar imaji, menggantikan realitas sesungguhnya. Seksualitas yang 'baru' ini, tetap seperti esensi lamanya, telah menjadi senjata dalam perjuangan kelas, tidak hanya dalam relasi di kehidupan harian. Pornografi spektakular dalam penggunaan seksualitas mereduksi seks itu sendiri menjadi hanya sekedar bentuk dalam film, majalah, dsb., serta iklan yang sugestif dimana perempuan dan laki-laki dianggap tak lebih dari obyek dalam dunia konsumer. Pendangkalan nilai-nilai hidup oleh kapitalisme telah mencapai poin dimana seksualitas itu sendiri juga tak lebih dari sekedar ladang baru. Prinsip nyata yang dikedepankan oleh kapitalisme atas kenikmatan seksual tak lebih dari sebuah komoditi realitas; seksualitas mendapat lahan dalam pasar ekonomi modern, tidak hanya sebagai sebuah komoditas, tetapi juga sebagai sesuatu yang saling menjual. Voyeurisme hadir dalam setiap aspek Dunia Tontonan, yang kini menemukan tempatnya dalam konsumsi seksual.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akumulasi spektakular atas seksualitas adalah hanya akumulasi penderitaan dan reifikasi pengalaman erotis yang memproduksi pelengkapnya dalam bentuk nihilisme seksual yang semakin merajalela. Disini, seluruh kenikmatan justru lenyap—kebebasan yang disuguhkan oleh kapitalisme modern memberikan kebebasan untuk bertemu, bersenggama, tetapi tak lebih sebagai sebuah obyek. Situasi ini, bagaimanapun juga, tidak dihitung sebagai apa, yang oleh Marcuse disebut sebagai 'desublimasi represif', dimana alienasi justru semakin hadir melalui pelepasan gairah seksual. Seksualitas spektakular jelas adalah bentuk kompensasi atas kemiskinan dalam kehidupan spektakular—alienasi seksual adalah momen lain dari alienasi total dan penindasan seksual tetap menjadi bagian dari penindasan sector terbesar dari proletariat. Sebuah kritik baik atas seksualitas yang lama maupun yang 'baru' dalam tatanan masyarakat borjuis dikembangkan oleh gerakan para aktifis feminis dan gay. Dalam penolakannya terhadap peran seksual yang dituntut oleh kapitalisme, gerakan-gerakan tersebut telah membuka tabir reifikasi seksual--dalam masyarakat borjuis, relasi personal ditentukan oleh relasi sosial. Tetapi saat mengekspos hirarki dan dimensi sosial dari relasi seksual saat ini, gerakan-gerakan tersebut ratarata gagal dalam mengembangkan sebuah kritik atas dominasi spektakular secara menyeluruh. Termasuk dalam terminologi seksualitas, kritik mereka sangat terbatas dan tidak merengkuh peran-peran yang juga dipaksakan pada yang lain (laki-laki, 'straight'); dan yang lebih pentingnya lagi, bagaimanapun juga, gerakan tersebut tidak menyentuh berbagai mistifikasi yang meliputi kontradiksi sosial yang cukup 'esensial' yang dihadirkan oleh perbedaan seksual. Dari ketaklengkapan ini, gerakan feminis dan gay serta sejenisnya justru mengkonstruksi ideologi-ideologi separatis dimana kritik atas kehidupan harian terkubur di bawah slogan reformis 'kesejajaran seksualitas'.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ruang yang ditinggalkan oleh gerakan para feminis dan lainnya adalah justru tempat dimana kritik radikal dari keterlibatan-keterlibatan sosial atas perilaku seksual dapat bermula. Adalah alienasi dalam sebuah totalitasnya, dan bukan semata-mata hanya dalam aspek seksual, yang harus diluluhlantakkan oleh proletariat; penolakan atas ikatan-ikatan pelengkapnya (pernikahan yang dilembagakan, pekerjaan rumah tangga) hanya memiliki arti jika hal tersebut menjadi bagian dalam penolakan akan seluruh ikatan. Dalam dua abad lampau sebelum kritik atas seksualitas borjuis muncul, Fourier mendemonstrasikan bahwa perubahan kualitatif dalam relasi seksual hanya dapat dilakukan dalam konteks social yang benar-benar berbeda. Semua eksperimen 'radikal' yang sifatnya abstrak, seakan dikutuk untuk mengalami kegagalan: subkultur. Ia hanya menjadi sebuah ilusi tentang pemberontakan. Disini, seksualitas spektakular diproduksi pada tingkat yang 'hip': dari voyeurisme murahan ala buku karya Moammar Emka hingga 'keluarga' dari sekte aktifis Kiri hingga komunitas-komunitas subkultur, seluruh nilai-nilai lama dimunculkan kembali.&lt;br /&gt;Melawan Dunia Tontonan dalam hal seksualitas, adalah penting untuk mengeksplorasi 'keinginan bebas' dari tiap individual--sebuah kekuatan radikal yang belum eksis dan memang tak dapat, sesuai fakta yang ada, eksis terpisah dari aksi revolusioner kolektif. Untuk keluar dari lingkaran spektakular, hasrat individu untuk melawan kehidupan harian yang mirip penjara dalam masyarakat borjuis tidaklah dengan sekedar menentang seksualitas spektakular, sebab ideologi 'kebebasan seksual' juga terbukti dapat dengan mudah terkooptasi. Perbincangan mengenai kebebasan seksual memang tidak semestinya keluar dari kerangka pemikiran mengenai kebebasan social dalam skala yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hal ini pernah dikembangkan oleh gerakan Reimut Reich di awal abad lalu, yang mengajukan teori-teori, terlepas dari usia gerakan yang begitu pendek, lebih radikal dibandingkan dengan ideologi-ideologi 'modern'. Bagaimanapun naifnya asumsi yang muncul saat itu (seperti kebingungan Lenin dalam menanggapi gerakan tersebut), gerakan Sex-Pol dari Reich di tahun 1920 tersebut merepresentasikan salah satu dari usahausaha pertama untuk mengembangkan sebuah oposisi radikal terhadap masyarakat borjuis yang berada dalam tataran kehidupan harian. Berbeda dengan para klinikal atau psikologis-psikologis 'radikal' dewasa ini, Reich tidak memfokuskan baik pada soalan analis ataupun seksualitas itu sendiri: analisis Reich justru membawa pada sebuah jalur pemberontakan yang konkrit melawan seksualitas borjuis melalui perjuangan kelas secara keseluruhannya. Visi Reich atas 'revolusi seksual' dewasa ini hanya merupakan bagian dari proyek revolusioner yang dihadapi oleh proletariat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyikapan atas seksualitas adalah salah satu aspek dari sebuah penyikapan total. Pencarian akan kehidupan dan komunikasi yang otentik, walaupun termistifikasi, berada di akar seluruh pengalaman seksual yang hanya akan terpuaskan melalui transformasi seluruh relasi sosial. Gairah revolusioner merengkuh segala macam hasrat dalam sel-sel dimana kita semua terperangkap, yang hanya dapat dihancurkan dengan melakukan abolisi terhadap Dunia Tontonan secara keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;________________&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Catatan :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;a. Dunia Tontonan yang dimaksud adalah term spectacle sebagaimana Guy Debord dalam Society of Spectacle. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;b. Artikel ini diposting tanggapan atas beberapa masukan yang dikirim kepada kami. Masukan tersebut juga sebagai tindak lanjut dari diskusi Malam Jumatan Idefix, minggu lalu bertemakan “Seks, Tatanan Sosial dan Kekuasaan”. Semoga perbincangan soal seks tidak lagi banal, tabu dan 'mistis' sebagaimana asumsi umum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-153355455115064114?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/153355455115064114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=153355455115064114' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/153355455115064114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/153355455115064114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/06/kemiskinan-kehidupan-seksual.html' title='KEMISKINAN KEHIDUPAN SEKSUAL'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SFay2JdUysI/AAAAAAAAAB0/BFEi8VqFg1c/s72-c/relation.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-1176159655936521779</id><published>2008-05-11T20:48:00.002-07:00</published><updated>2008-05-11T21:24:59.277-07:00</updated><title type='text'>SUBLIMASI PARODI RUTINITAS</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SCfGDa4XsYI/AAAAAAAAABs/wnod9f66ePs/s1600-h/alienation.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199342056880189826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SCfGDa4XsYI/AAAAAAAAABs/wnod9f66ePs/s400/alienation.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;“The individual, in our society, worksfor profit; but the social purpose of his worklies in the consumption of what he produces.It is this divorce between the individual andthe social purpose of production that makesit so difficult for men to think clearly in aworld in which profit-making is the incentiveto industry.”-- Bertrand Russell (1872-1970)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rekreasi, berlibur dan meluangkan waktu bersama teman atau mungkin kekasih kalian,setelah merasakan kepenatan dalam rutinitas kerja. Tentu saja, hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat dirindukan dalam eramodernitas saat ini. Para pekerja seakan menganggap hal ini, layaknya sebuah momendi mana mereka dapat terlepas dari“lingkaran setan” rutinitas kerja. Suatu momen di mana mereka menganggap bahwa waktu luang tersebut seakan-akan menjadi sebuah masa kebebasan dari “rantai-rantai” dunia kapital yang membelenggu hidup,walaupun mereka sendiri sadar bahwa haltersebut hanyalah untuk sementara saja.Sebab esok hari mereka harus kembali lagi melakukan rutinitas yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita seakan melihat bahwa semuarutinitas ini menjadi satu hal yang wajar. Seorang teman malah pernah bilang sepertiini,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p align="justify"&gt;“yah...rutinitas ini memang membosankan, tapi toh...saya kan nggak kerja terus-terusan, waktu libur saya, kan,tetap bisa saya manfaatin buat ngehilangin kebosanan yang kamu maksud. Saya bisa pergi rekreasi, tetap bisa hang out, nonton, belanja ke mall, atau pergi ke diskotik bersama teman saya.”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ho-ho-ho... what a beautyfull world that we live in. Hal ini seakan menjelaskankondisi yang ada pada saat ini, bahwa kitamelihat seakan-akan segala rutinitas membosankan yang dilakukan sebagai sebuah kewajaran. Sekalipun pada dasarnya kita sadar bahwa semua itu memang amatlah sangat membosankan. Namun, mekanisme dunia industrialisasi serta komoditas selalu punya sejuta cara menggiurkan untukmengaburkan kemerosotan yang terjadi pada saat ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Roda dari dinamika internal dunia produksi dan konsumsi selalu punya cara untuk membuat “hewan-hewan gembalaannya” tetap berada di jalur dunia kapital. Waktu luang yang ada dalam rutinitaskerja tak pernah menjauhkan para pekerjadari dunia komoditas. Pada kenyataannya,waktu luang ditransformasikan lagi menjadisebuah bentuk komodifikasi. Dengan kata lainwaktu luang itu sendiri adalah merupakanproduk dari mekanisme produksi dan konsumsi, sebuah blueprint bagi kehidupanmanusia yang dimateraikan oleh perputaranroda dunia kapital.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebosanan yang dirasakan olehseseorang dalam lingkungan kerjanya, tentusaja menjadi sebuah isyarat yang buruk bagimekanisme pasar, dan salah satu cara untukmengaburkan hal tersebut adalah denganmenggiring mereka (pekerja) dalam “mimpi-mimpi”komoditas dengan segala hal yangbegitu “berkilauan” yang ada di dalamnya.“Ilusi” akan waktu luang merupakan carauntuk menghipnotis setiap pekerja, sehinggajika mereka kembali melakukan rutinitaskerja yang (tentu saja...!) telah dijadwalkan,mereka tetap berada dalam kondisi yangsegar, sehat, dan ceria. Perputaran dan setiapperulangan ini tentu saja tak pernah lepas darimekanisme komoditas. Semua ini seakanmembuat kita berpikir bahwa tak pernah adajalan untuk keluar dari perputaran rutinitasini, bahwa kita harus menerima semua inisemata-mata sebagai suatu kewajaran. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan kehidupan yangmengisolasi ini menjadi suatu hal yang patutuntuk disakralkan, adalah sebuah sejarahyang muram dari peradaban manusia. Dimana setiap orang memainkan peranan yangsama dan dalam arahan yang sama pula,dalam sebuah mekanisme perbudakan duniakomoditas. Dalam kondisi schizofrenik ini,aktifitas kerja dari para pekerja itu sendirimemiliki satu substansi tertentu. Namun,mereka tak memiliki kebebasan, sebaliknyadalam waktu luangnya, mereka memilikikebebasan, namun tanpa substansi apa pun.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Waktu luang yang diperuntukkan bagipara pekerja untuk menghilangkan kelelahanserta mereduksi seminimal mungkin rasabosan yang dialami, merupakan waktu kosongyang diperuntukkan bagi kepentingan kerjaitu sendiri. Satu-satunya perbedaan antarabekerja dengan waktu luang adalah, bahwajika bekerja paling tidak kamu dibayar untukketerasingan dan rasa lelah yang kamu alami.&lt;br /&gt;Kesenangan yang didapatkan di dalammekanisme pasar dan komoditas menjadijauh lebih membosankan daripada rasa bosanyang didapatkan pada waktu memproduksiproduk-produk tersebut. Hasrat untukbersenang-senang didefenisikan dalam duniakomoditas sebagai kesenangan dalammengonsumsi. Sebuah kebebasan abstrakdalam wilayah orbit suatu perolehan profitmaksimum. Efek yang mengerikan, kinimenyebar dan memasuki setiap “celah-celah”mimpi sekalipun, mereduksi setiap gairahuntuk bersenang-senang menjadi “sesosokmonster” yang bernama komoditas. Orientasipasar yang berupa profit menciptakan peranbagi “parodi” ini. Mentransformasikan hidupsetiap pelakunya dalam bentuk komoditas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rutinitas kerja keseharian yang kompleks, terutama yang terjadi dalammasyarakat di kota-kota besar, tentu dirasakan sangatlah membosankan. Dan dalam waktu luangnya, maka para pelaku mekanisme pasar ini memanfaatkan waktu yang tersedia tersebut untuk menghilangkankepenatan mereka dengan mencari kesenangan. Namun, kesenangan tersebutmelahirkan bentuk komodifikasi yang lainlagi: setelah memproduksi maka selanjutnya mengonsumsi. Inilah mata rantai yang demikian eratnya membelenggu keseharian hidup manusia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lihat saja di sekeliling kalian, industrialisasi hiburan kini makin menjamur di mana-mana, menjadi satu lahan bisnis yang sangat menarik. Mulai dari para investor asing hingga birokrat-birokrat lokal punberamai-ramai mulai “menambatkanjangkarnya” di lahan bisnis industri hiburan ini. Hal ini tentu tak pernah lepas dariperanan media yang dengan sangat gencar mempropagandakan “parade” komoditas ini. Memberikan standarisasi nilai hidup yangsangat menggiurkan, yang pada kenyataannya hanya menjadi satu bentuk kebosanan yanglain lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap pilihan yang ada dalam kilaudunia komoditas, menyediakan setiap pilihanyang pada intinya merupakan manifestasikehidupan manusia yang pasif, danmematikan setiap gairah hidup manusia. Kiniapa yang menjadi pilihan kalian?Menghabiskan waktu di depan televisi selamaseharian di waktu libur; mengisolasi dirisendiri di depan layar kaca sambil menelanmentah-mentah setiap propaganda iklan yangada di dalamnya; atau malah menghabiskanratusan ribu; atau lebih untuk bersenang-senang bersama teman dan relasi bisnis;ngobrol hal-hal yang masih juga berhubungandengan urusan bisnis di dalam diskotik, danpulang ke rumah masing-masing dalamkeadaan mabuk parah. Tertidur hingga esok hari untuk kemudian memulai rutinitas kerja,yang masih saja sama dengan hari-harisebelumnya: dengan kelelahan, kepenatan,dan tentu saja, masih dengan rasa bosan yangtetap saja sama.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semua aktivitas yang dilakukan dalamdunia komoditas ini memang memilikiperbedaan dalam pelaksanaannya namunesensinya tetap saja sama, yaitu kebosanandan keterasingan yang abadi. Dalam duniakomoditas kebebasan hanyalah suatu ilusi,yang memparodikan sebuah ilusi akankebebasan dengan mengonsumsi. Jika gairahhidup manusia telah mati, maka kini apa lagi yang masih berarti dari kehidupan itusendiri? []&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Thomas - partisipan Idefix)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-1176159655936521779?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/1176159655936521779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=1176159655936521779' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1176159655936521779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1176159655936521779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/05/sublimasi-parodi-rutinitas.html' title='SUBLIMASI PARODI RUTINITAS'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SCfGDa4XsYI/AAAAAAAAABs/wnod9f66ePs/s72-c/alienation.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-8801776289406639783</id><published>2008-04-12T10:08:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T19:25:34.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>GONGGONGAN ANJING LIAR</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SADuLYTI_cI/AAAAAAAAABU/k_OesO386PU/s1600-h/anjing.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188408649999515074" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SADuLYTI_cI/AAAAAAAAABU/k_OesO386PU/s400/anjing.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang Diogenes, mungkin seorang yang cukup banyak dikenal dalam masa Yunani Kuno: dikisahkan bahwa suatu hari ia sedang berendam di bak mandi yang ia sebut sebagai rumahnya, saat Alexander Agung datang dan berkata kepadanya. Sang raja diraja ini berkata padanya dengan tegas, “Akulah Alexander, pangeran Makedonia dan seisi dunia. Aku mendengar bahwa engkau adalah seorang filsuf yang hebat. Apakah engkau memiliki sebuah kata-kata bijak untukku?” Merasa terganggu ketenangannya berendam, Diogenes hanya menjawab, “Ya. Engkau berdiri menghalangi sinar matahariku. Sekarang minggir!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Walaupun kisah ini memang tidak dapat diyakini ke-asliannya, ia merefleksikan bagaimana pada era tersebut, orang-orang terang-bersikap dan otoritas melecehkan Kuno Yunani terangan dalam mengekspresikan pele-cehan tersebut. Dalam masa itu pula diproklamirkan sebutan “anjing” (anjing liar tentu saja) bagi mereka yang menolak hirarki, keterikatan sosial dan kebutuhan akan hukum, serta menyambut kehadiran itu semua dengan ejekan-ejekan sarkastik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Betapa berbedanya kesinisan pada era tersebut dengan apa yang disebut kesinisan sekarang ini. Beberapa tahun lalu, sebuah grup radikal di Inggris yang menamakan dirinya Pleasure Tendency mempublikasikan sebuah pamflet berjudul “Tesis Melawan Kesinisan”. Dalam pamflet ini, mereka mengkritisi sebuah perilaku yang seakan menjadi trend disana, perilaku frustrasi yang sarkastik—yang menyedihkannya, perilaku ini justru merebak di kalangan anti-otoritarian dan revolusioner.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Para pendukung sinisme modern sekarang ini ada dimana-mana. Komedi sarkastik yang menjadi trend ini masalahnya tidak merepresentasikan tantangan yang sesungguhnya pada kekuatan dominan. Dalam faktanya, mereka para pelakunya yang bertingkah seakan telah mengerti segala isme dan ideologi, malah tak ada bedanya dengan perilaku para yuppies yang mereka klaim juga mereka lecehkan. Mereka tak memiliki terjadi yang apa tentang mendalam yang pemahaman sesungguhnya, mereka hanya membuat pembenaran atas konformitas mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Yayaya, kami sudah tahu apa jadi tujuan para politisi dan eksekutif korporat. Kami juga sudah tahu kalau itu semua cuman permainan yang busuk. Tapi nggak ada yang bisa kami lakukan, jadi ya kami lakuin apapun yang kami suka. Toh nggak ada bedanya.” Perhatikan kalimat di atas yang tentu sering diluncurkan oleh mulut-mulut pendukung sinisme. “Tapi nggak ada yang bisa kami lakukan.”—ini adalah pesan utama yang dikembangkan oleh para sinistik modern. Mereka tidak menyerang otoritas, melainkan malah menyerang siapapun yang masih berani menantang sistem yang seakan tak mungkin yang mereka konformitas bagi Pembenaran ini. Dilawan ditutup-tutupi oleh kesinisan yang seakan telah tahu segala hal dan bahwa segala usaha mengubah dunia adalah usaha yang tolol.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perilaku ini masuk ke dalam lingkar kaum revolusioner melalui pintu belakang dari filsafat posmodern dimana ironi hiper-konformitas dijadikan sebuah strategi revolusioner. Dengan wajah dan senyuman sinis, kebanyakan para radikal dari filsafat posmodern mengatakan kepada kita semua bahwa yang sebuah adalah sekarang butuhkan kita kapitalisme terhadap logis dorongan hingga ke taraf skizofrenia terekstrimnya, sesuatu yang akan menghancurkan dirinya 'radikal' sinistik para Bagi sendiri. modern ini, seluruh usaha untuk menghancurkan masyarakat tatanan saat ini dinilai tolol, tidak membuang-dan efektif buang waktu; sementara usaha-usaha untuk menciptakan sebuah hidup individu pada level terekstrim dan beroposisi dengan moralitas masyarakat juga dinilai sebagai sebuah Semua kuno. Individualisme dinilai sebagai sebuah usaha yang sia-sia, sementara mereka sendiri kembali pada hidup mereka yang dapat menyenangkan hati semua otoritas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sarkastik mereka meruntuhkan seluruh ide insurgensi, bahkan yang paling signifikan sekalipun, juga termasuk sejarah-sejarah lampau soal insurgensi; sementara di saat yang sama mereka mempromosikan eklektisme liberal yang menyedihkan yang kadang juga merayakan seni-seni kontemporer memalukan sebagai sesuatu yang 'revolusioner' atau 'ikonoklastik'. Pada intinya, para yuppies tersebut—yang seringkali mengklaim hanya umumnya nilai—pada segala menolak Dirinya mempromosikan dirinya sendiri dan proyek-proyek menyedihkan mereka. Kita hanya perlu memperhatikan bahwa band xAnjingtanahx yang sinistik sebenarnya adalah band Seringai dengan dandanan a la skate-boarder/thrasher dan musik yang lebih keras. Sesuatu yang tak pernah diperhatikan oleh para anggota barisan pengikut isme xAnjingtanahx yang bermunculan di berbagai kota di sepanjang Indonesia. Para seniman avant-garde juga tak ubahnya Bill Gates yang pintar melukis atau bermain teater.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mungkin efek terburuk dari penetrasi posmodern ke dalam lingkar revolusioner ini adalah dorongan atau kecenderungan memahami untuk usaha Seluruh teori. menolak untuk seluruh dengan berjalan ini saat masyarakat bagaimana totalitasnya agar dapat mencari cara paling efektif untuk menghancurkannya, disebut sebagai sesuatu yang ketinggalan jaman, dogmatis, ataupun kaum naif yang tak punya harapan dari kompleksitas masya-rakat pos-industrial 'posmodern'. Tentu saja, tesis 'pema-haman yang sangat bijak' anti-teoris ini tak lebih dari sebuah sikap ketidakmampuan mereka untuk menga-nalisa dan memahami apa yang sedang terjadi, sebuah sikap yang membenarkan mereka untuk melanjutkan ritual aktifisme harian mereka yang sejak jauh-jauh hari telah terbukti tak membawa mereka semua kemana-mana. Sementara mereka yang terus melanjutkan pemahaman akan teori-teori insurgensi juga dikritisi sebagai para aktifis yang hanya duduk di menara gading, tak peduli seberapa banyak konsep mereka pada akhirnya juga diaplikasikan dalam praktek nyata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saat seseorang mau memperhatikan sinisme yang berkembang di era Yunani Kuno, seharusnya seseorang tersebut juga mampu untuk mencari esensi dan signifikansinya dalam kehidupan modern. Sementara sisnisme dewasa ini tak ubahnya seperti anjing domestik yang sering kita lihat di rumah tetangga kita: menyedihkan, tergantung pada sang majikan, terdomestikasi. Seperti juga anjing yang penurut, mereka hanya berani berlari di halaman rumah sang majikan menyalak, lantas kembali berlari mencari perlindungan sang majikan. Anjing tersebut juga biasanya meyalak pada setiap melihat anjing-anjing liar yang hidup di luar pagar domestik, ia juga mau menjilati tangan sang majikan demi mendapatkan sepiring susu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kami memilih untuk tetap berada di antara para anjing liar, menggonggongi setiap orang yang berusaha menjadi majikannya, siap menggigit setiap tangan yang secara sembarangan berani menyentuh dirinya. Kami menolak untuk sarkastisme frustatik yang menjalari sinisme moder, demi usaha kami merengkuh dan menjadikannya senjata sinisme kuno yang berani berkata pada penguasa: “Engkau berdiri menghalangi sinar matahariku. Sekarang minggir!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(Jurnal Anarki 5)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-8801776289406639783?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/8801776289406639783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=8801776289406639783' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/8801776289406639783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/8801776289406639783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/04/gonggongan-anjing-liar.html' title='GONGGONGAN ANJING LIAR'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/SADuLYTI_cI/AAAAAAAAABU/k_OesO386PU/s72-c/anjing.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-1103455631748676144</id><published>2008-03-17T20:31:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T21:24:56.645-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang kita'/><title type='text'>K. I. T. A.</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tak ada isak tangis malam itu. Namun anasir-anasir serupa berhamburan di ruang tengah. Setiap orang yang menyisakan harapan pada ruang itu, akan merasakan hal yang sama. Mengapa mesti bertemu saat seperti ini? Setelah pertemuan tak lagi pernah intim, dihajar aktifitas, diremukkan suasana, digulung badai berturut-turut, kita seharusnya merayakan pertemuan dengan masakan dari aktifitas yang tadi siang dijalankan. Disajikan di ruang tengah, dicicipi dengan gelak tawa, ejekan dan kelakar membahagiakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Nampaknya malam ini menjadi anomali. Setelah beberapa minggu--mungkin bulan, kesunyian menganiaya tempat itu... menggusur seluruh mimpi dan harapan yang pernah dihamili di tempat itu, tepat setelah semua penghuni yang meninggalkannya. Tidak semua. Tapi apa bedanya semua dengan tidak semua? Saat tempat itu hanya bidang rawa, menjadi tempat resapan atas residu-residu harian, menjadi sandaran untuk menerima keluh kesah, menampung semua spirit liar, memendam rasa lelah dan takut, menerima semua dendam pada dunia. Tapi kita tidak menghajarnya. Kita tidak menghalaunya. Kita tidak menyerang dunia kosong hampa dan banal ini. Kita larut dan mapan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ruang dan waktu telah menjadi penjara ... untuk tidak percaya dunia ini bisa dirubah. Keadaan telah sampai pada bab terakhir, bahwa kita tidak sedang berlari kencang ke arah depan, namun kadang berbalik atau melambat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Jeda beberapa detik ... saat suara yang terdengar hanya deru pompa air yang berusaha untuk terus memfungsikan diri meski kerusakannya tak pernah dihirau oleh penggunanya. Kita belum memutuskan apa-apa. Kita masih takut mengambil arah, saat kita tahu tak ada lagi pilihan tersisa. Saat kita tahu, kita semua telah membuktikan kegagalan demi kegagalan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sudah menjelang empat tahun. Perjalanan tanpa bahan bakar ini mesti mencari stasiun pemberhentian. Mengisi bahan bakarkah, melihat kembali peta untuk memastikan tujuan, atau bahkan mungkin berbalik arah. Namun pastinya, sebuah "Komunike Terakhir" mestinya ditulis dengan senyuman terhangat dari penulisnya.][&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-1103455631748676144?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/1103455631748676144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=1103455631748676144' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1103455631748676144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/1103455631748676144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/03/k-i-t.html' title='K. I. T. A.'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-7144196543275310255</id><published>2008-03-09T20:40:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T21:38:22.963-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang kita'/><title type='text'>Reaksi atas diam</title><content type='html'>&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;Do what you wanna do, say what you wanna say , NOW! Don’t be affraid.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;Entah kenapa beberapa hari ini, kejadian demi kejadian datang bergantian dan begitu dekatnya. Sebuah resiko dari aktivitas yang tak biasa akhirnya menemukan waktunya. Sebuah bentuk resistensi dari kungkungan yang tak hentinya meremukkan banyak kehidupan, reaksi kecil atas segala alienasi dan kebodohan yang telah menidurkan banyak orang ataupun sedikit sentilan atas kemapanan yang telah melaparkan banyak manusia. Dan kemarin, apa yang terjadi di gerai-gerai ilusi pusat perbelanjaan, dan pesan-pesan yang terbaca dalam perjalanan hanyalah sebuah bentuk ketidak tahanan akan hidup yang tak pernah berputar ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;Lalu, apakah ini adalah sebuah kesalahan ataukah penyesalan saat sesuatu yang tak terbayangkan, akhirnya terjadi? Saat kita harus melalui bagian-bagian menyulitkan dan mendebarkan dibalik ruang-ruang menyesakkan, di antara zombi-zombi pelindung kejayaan. Menyembunyikan diri, menjadi biasa, menurunkan suara, dan bermuka manis dalam kebencian demi kebebasan yang tak akan pernah mereka beri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;Ini hanya sentilan kecil teman, betapa lemahnya kita untuk menjadi rapuh karenanya. Tanyakan kepada mereka yang tertawa dan menyengir, bisakah mereka melihat rasa dosa dan taubat?. Masih banyak jalan yang bisa dilalui untuk disusuri. Katakan sia-sia bagi mereka yang mengasihani, tutup telinga bagi mereka yang terus meneriakkan utopis. Impian telah memberikan peta untuk keluar dalam labirin. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm" align="justify"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;Namun tak bisa dipungkiri, kejutan yang mendebarkan ini tetaplah menjadi sebuah sandungan dalam perjalananan kita yang mungkin sangat terburu-buru. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;Salut buatmu teman !!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;Mata terlalu lama terjaga biarkan ia tidur sejenak. Kita butuh energi baru untuk memulainya lagi..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0cm" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic, sans-serif;"&gt;(Elh:)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-7144196543275310255?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/7144196543275310255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=7144196543275310255' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/7144196543275310255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/7144196543275310255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/03/reaksi-atas-diam.html' title='Reaksi atas diam'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-7370279907501957360</id><published>2008-03-05T20:30:00.000-08:00</published><updated>2008-03-05T20:58:01.061-08:00</updated><title type='text'>DONGENG SISIFUS DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT MODERN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Ali Topan Marsono*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Manusia modern bangun pagi, bekerja sepanjang hari hingga matahari terbenam, beranjak pulang dalam keadaan lelah, beristirahat, dan bangun di pagi hari untuk kembali bekerja. Liburan/bersantai tidak jauh berbeda dengan ilusi rasa tanggung jawab atas keluarga. Seolah bersantai menikmati kehidupan dan tanggung jawab hanya diperlukan disaat-saat tertentu bukan setiap saat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kehidupan perpolitikan manusia modern tak jauh berbeda dengan dengan kehidupan pribadi manusia modern. Mendorong salah seorang elit menjadi penguasa/pemerintah yang kemudian kembali dituntut mundur untuk mendorong seorang elit baru untuk menjadi penguasa/pemerintah baru yang kelak juga akan diturunkan untuk mendorong lagi yang baru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Inilah dua fragmen minimal dari kehidupan manusia modern. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jika kau pernah membaca dongeng-dongeng yunani atau romawi maka tentu kau akan mengenal sisifus. Sisifus sebagai dongeng bagi kita saat ini mungkin hanyalah sebuah cerita irasional warisan masa lalu. Namun sisifus bagi kehidupan adalah cermin minor dari kehidupan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sisifus adalah manusia yang dihukum oleh dewa untuk mendorong batu hingga kepuncak lalu menggelindingkannya kembali ke bawah untuk didorongnya lagi ke puncak. Sebuah aktifitas absurd yang terus dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sisifus tak akan pernah terbebas dari mendorong batu ke puncak yang kemudian digelindingkan kembali ke bawah setelah sampai dipuncak untuk kembali didorong ke pucak. Atas kehendak pemberi hukuman, sisifus mungkin dapat terbebas dari hukumannya namun hanya bersifat sementara karena kemungkinan untuk dihukum lagi tetap ada sebab alat penghukum tetap ada. Sisifus hanya akan terbebas jika batu yang didorong dan digelindingkannya yang merupakan alat penghukum dihancurkan hingga tak ada lagi batu yang dapat didorong dan digelindingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan manusia modern, kapankah manusia modern dapat betul-betul memperoleh kebebasannya seperti sisifus yang terbebas dari mendorong dan menggelindingkan batu ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;* Penulis adalah salah satu manusia dari sekian banyak manusia yang saat ini masih aktif menjalani dan menikmati absurd-nya kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-7370279907501957360?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/7370279907501957360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=7370279907501957360' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/7370279907501957360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/7370279907501957360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/03/dongeng-sisifus-dan-kehidupan.html' title='DONGENG SISIFUS DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT MODERN'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-5153798545613124652</id><published>2008-02-05T19:46:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T21:32:31.577-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='(anti)-konsumerisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>MENAWARKAN HASRAT PEMBANGKANGAN PADA SELEMBAR KAIN KATUN</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;MENAWARKAN HASRAT PEMBANGKANGAN PADA SELEMBAR KAIN KATUN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Resistensi dan Rekuperasi dalam Industri Cetak Saring [1]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;oleh : Irfan Saputra [2] &lt;a href="http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6lFg2-jtpI/AAAAAAAAAAk/M1cB8Ls2lNo/s1600-h/ingsoc.jpg"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163734878573016722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6lFg2-jtpI/AAAAAAAAAAk/M1cB8Ls2lNo/s400/ingsoc.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Kapitalisme bukanlah sistem sempurna tanpa borok, namun justru mengandung cacat bawaan. Sebagai sistem yang sangat kompleks dan rumit, penghisapan dan eksploitasinya hampir-hampir tak terlihat. Dengan logika dan otomatisasinya, kapitalisme memiliki kemampuan dalam menyembunyikan dan membalik logika-logika umum sehingga eksploitasi yang dioperasikan selalu tampak logis, direproduksi, sehingga membuatnya terus berdiri tegak. Namun bukan berarti kapitalisme tidak bisa diruntuhkan. Potensi-potensi keseharian kita adalah bibit revolusioner dan subversif yang dapat menggoyahkan sistem ini. Mulai dari hal-hal kecil seperti protes personal dalam coretan dinding, kaos sablonan, hingga gerilyawan bersenjata atau bom bunuh diri yang menyasar target vital dalam mensabotase sistem ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun bagaimana bila hal-hal subversif tersebut dapat dijinakkan, bahkan dijual kembali menjadi sebuah komoditi? Atau bahkan lebih jauh, bagaimana potensi revolusioner tersebut terus menerus diselubungi sebuah mitos seakan-akan sistem yang diusung adalah oposisi dari sistem dominai bernama kapitalisme? Maka marilah kita mengenal Spectacle, sebuah terma yang sayangnya tidak memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Spectacle dan Kapitalisme&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam The Society of Spectacle (1994), Guy Debord menguraikan sebuah analisa modern tentang perkembangan mutakhir kapitalisme yang beranjak hingga pada level abstraksi paling radikal. Tesisnya melampaui argumen-argumen klasik tahapan perkembangan kapitalisme tertinggi. Spectacle adalah terma sentral yang dikembangkan oleh Situasionis International dengan mengadopsinya dari George Baitalle, yang dalam bahasa Perancis berarti ‘pertunjukan’. Situasis International, sebuah organisasi teoritis dan radikal pada dekade 60-70-an, satu-satunya grup ‘ultra-kiri’ yang kemudian berhasil mendorong revolusi paling fundamental dalam era kapitalisme lanjut (Paris ’68). Mereka memformulasikan sebuah teori tentang bagaimana kapital memproduksi spectacle. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;SI menggunakan terminologi ini untuk menyatakan sebuah cara pandang baru dalam masyarakat, dimana ditegaskan bahwa tatanan masyarakat yang berdiri direpresentasikan melalui sekumpulan imaji atau ilusi. Dalam spectacle satu hal yang terpenting adalah imaji, kesan, atau ilusi. Untuk membuat diri tampak lebih Muslim, misalnya, kita dapat memakai simbol-simbol seperti sorban, kerudung atau baju koko. Dalam hal ini nilai sesuatu didapat dari imaji yang ditampilkannya, dan bukanlah hal tersebut secara ontologis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dijelaskan oleh Debord bahwa “spectale bukanlah kumpulan dari imaji-imaji, tetapi sebuah relasi sosial dalam masyarakat yang dimediasi oleh imaji” (1984). Artinya masyarakat berkomunikasi menggunakan imaji sebagai alat komunikasi sekaligus alat mediasinya. Kalau kita berbicara tentang Islam, maka yang dibicarakan sesungguhnya adalah kesan Islami. Begitupun bila mendiskusikan komunisme, yang sebenarnya kita maknai adalah citraan-citraan tentang komunisme. Dan sialnya, pada tahapan abstraksi tertinggi, keseluruhan hidup yang kita jalani ini hanyalah imaji atas hidup belaka! Atau dalam kapitalisme lanjut yang mutakhir ini, keseluruhan hidup yang kita jalani tersebut tidak lain hanyalah sekumpulan imaji-imaji yang merepresentasikan hidup yang sesungguhnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Resistensi dan Rekuperasi dalam Dunia Tontonan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kapitalisme menghadapi rongrongan di sana-sini. Dari sikap subversif dan membangkang secara individu, komunitas kecil, hingga dalam bentuk gerakan sosial yang lebih luas dalam menjatuhkan pemerintahan terjadi dimana-mana. Di berbagai penjuru dunia terbangun kolektif-kolektif otonomis, yang membangun kehidupan lepas dari hegemoni kapital. Mereka saling bekerja sama dalam prinsip mutual aid, membentuk tatanan sosial yang lebih adil dari bawah. Serta fenomena yang populer di Amerika Latin dimana beberapa negara melangkah progresif dalam menggantikan kapitalisme lalu menjanjikan apa yang disebutnya sosialisme. Kesemuanya memiliki tipikal yang sama : menolak kapitalisme dan menawarkan sebuah alternatif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme juga diwarnai konfigurasi lain dalam era mutakhirnya ini. Apapun yang berkembang dalam Dunia Tontonan (Spectacle) tidak akan melampaui toleransi dari kemampuan spectacle sendiri untuk merawat dirinya. PT. Newmount akan berupaya untuk tampil ramah lingkungan untuk menghilangkan kesan/imaji buruk atas tindakan-tindakannya yang mencemari lingkungan. Nike akan berupaya untuk menghadirkan kesan sportif di balik pengoperasian pabrik-pabriknya yang mengeksploitasi buruh berusia muda (sweatshops). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Naomi Klein dalam No Logo (2002) buku yang disebut-sebut orang sebagai Das Capitalnya abad 21 (dimana karya Debord adalah Das Capital abad 20), mengatakan bahwa hal tersebut tidak dilakukan untuk sekedar membersihkan, menelikung atau merubah imaji atas profil korporasi. Namun pembangunan sebuah corporate brand adalah tindakan terencana secara ekonomis dan terukur secara strategis, yang berhubungan erat dengan bagaimana eksistensi sebuah kapital. Jangan heran, sektor periklanan (advertising) menjamur dimana-mana dalam rangka membangun sebuah infrastruktur kapitalis dalam menawarkan, dan mengelola imaji dan hasrat.&lt;br /&gt;Dalam spectacle, kita bisa saja menolak atas sistem yang eksis saat ini. Akan tetapi pilihan-pilihan yang akan hadir hanyalah representasi, bukan subjek dari alternatif yang kita kehendaki. Misalnya mengapa kita dirancang menjadi masyarakat konsumtif? Karena konsumerisme adalah sebuah pilihan atas bentuk kehidupan yang memungkinkan dari konsepsi hidup itu sendiri. Hanya dengan berbelanja kita terwakili oleh bentuk kehidupan yang dipilih. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka Situasionis juga melengkapi analisa mereka dengan memperkenalkan ‘rekuperasi’. Rekuperasi singkatnya adalah proses penyembuhan bagi sistem kapitalisme, yang mengkooptasikan proses pertukaran yang dideterminasikan oleh nilai mata uang atas kreatifitas manusia yang telah muncul akibat sistem yang tidak stabil. Proses inkorporasi dan komodifikasi menyebabkan hal-hal subversif (tidak terbatas dalam makna politik saja) akan menemukan ajalnya menjadi sekedar proses pertukaran kapital. Hal tersebut terjadi sebagai sebuah rencana yang dikalkulasikan oleh beberapa industrialis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam spectacle, proses rekuperasi adalah logika dasar dalam mempertahankan dominasinya. Kapitalisme adalah sistem yang paling luwes, dan fleksibel. Kamu dapat saja menilai Venezuela, Rusia, atau China maupun Kuba sebagai negara sosialis. Karena dalam spectacle, sebuah istilah tidak akan berpengaruh besar semenjak substansinya terkungkung sebuah mitos berdasarkan pemaknaan kita dari sebuah kata/istilah. Menilai negara-negara tersebut sosialis, tentu adalah tindakan gegabah semenjak para rekuperator di tempat-tempat tersebut mempertahankan fitur-fitur utama dalam kapitalisme (kepemilikan, ketiadaan kontrol kelas pekerja atas faktor produksi, demokrasi representatif, dan sentralisasi urusan-urusan publik) lalu kemudian memitoskan sosok-sosok tertentu sebagai simbol untuk mengakumulasi hasrat-hasrat anti-kapitalisme. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bila memakai pola pikir klasik, apapun yang bukan Amerika, apapun yang berjargon Kiri dan revolusioner pastilah anti-kapitalisme. Sayangnya argumen-argumen standar tersebut haruslah dilampaui sedemikian jauh. Dalam spectacle, semua pihak dibolehkan untuk mengambil sikap beroposisi (lihat saja kerumunan sub-kultur anak muda yang dibolehkan memberontak entah kepada apa dan siapa, dan mereka disuplai kebutuhan-kebutuhan habitusnya dalam komoditi-komoditi sub-kultur). oposisi terhadap kapital adalah oposisi yang dapat ditoleransi, dan bahkan memberikan surplus kapital secara resiprokal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oposisi palsu selalu menawarkan hasrat radikal yang berbeda dari kapital. Namun sekali lagi tidak lebih sebagai representasi atas hal-hal radikal, bukan ke-radikal-an itu sendiri. Jika kita memahami tentang sesuatu yang memiliki kesan yang baik, maka tentu bukan ke-baik-annya yang kita maksud. Tapi era kapitalisme mutakhier ini kesan, imaji, citra lebih telah lebih dipercayai ketimbang substansi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menawarkan Hasrat Pembangkangan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada pertanyaan dasar, apakah kaos-kaos subversif yang dicetak dan beredar adalah bentuk resistensi ataukah rekuperasi? Ada banyak fenomena yang serupa dengan bahasan kita dalam diskusi ini. Tidak sekedar kaos sablonan yang berskala rumahan, tapi hasrat-hasrat yang terwakili oleh ikon-ikon populer yang ‘berniat’ menawarkan sebuah geliat pembangkangan tapi justru jatuh dalam perangkap spectacle. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Misalnya bagaimana seorang Kate Moss mempromosikan t-shirt Che Guevara dalam salah satu pameran busananya, atau Prada (perancang busana terkenal Italia yang juga anggota aktif Partai Komunis Italia) yang menggunakan citraan-citraan seorang revolusioner Marxis Jerman, Ulrike Meinhof, sebagai model bagi gaya busana mereka yang dinamai Prada-Meinhof. Bahkan sebuah pabrik parfum terkenal Inggris merilis produk barunya yang diberi titel ‘Anarchy’, dengan beberapa pilihan aroma bernama ‘riot’ dan ‘rebellion’. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perusahaan clothing kecil atau seorang tukang sablon yang mencetak secara mandiri desain-desain yang menampilkan imaji-imaji revolusioner, subversif, dan menjualnya untuk keuntungan personal, tidaklah lebih baik dari seorang broker pilkada atau salesman produk multilevel marketing. Dalam skala paling kecil ini, terlihat skema menakjubkan bagaimana proses kapitalisme menggandakan diri secara otomatis. Inilah batasan tipis dari sebuah proses kreasi atas resistensi dengan rekuperasi. Jika produsen bertindak dalam rangka membangun imperium bisnisnya, tidak peduli skala kecil-kecilan maupun home industry yang massif, yang akan terjadi adalah komodifikasi, karena selembar kaos berdesain subversif memang memiliki pasarnya tersendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu jalan keluar dari Spectacle, yakni membongkar relasi representasi dengan sebuah tujuan-tujuan anti-kapital. Sebuah clothing, atau tukang sablon independen (hmmm?) hanya bisa keluar dari spectale, dan berhenti bertindak sebagai rekuperator ketika usaha-usaha kreatifnya tersebut didedikasikan pada pengembangan komunitas atau aktifitas yang memutus rantai relasi kapital. Kolektif Taring Babi di Jakarta misalnya, yang juga memproduksi kaos propaganda dan membangun komunitasnya dalam garis tegas terhadap kapitalisme, tentu berbeda dengan Chambers dan puluhan tukang sablon independen yang menawarkan hasrat pembangkangan, hasrat berbeda, hasrat unik, hasrat pemberontakan, hasrat perdamaian, hasrat keren, dalam rangka mengantongi akumulasi dari penjualan produk-produknya tersebut. Hanya hal tersebut yang membedakannya! Karena apa yang kita kenal sebagai pembangkangan, unik dan berbeda, pemberontakan, perdamaian, aktifis, saleh dan beriman, gaul atau keren adalah hal-hal yang hendak direpresentasikan dalam bentuk imaji-imaji yang berakhir sebagai komoditi.  Seperti tagline sebuah merk clothing : You Are What You Wear!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]. Disampaikan dalam diskusi "Resistensi dalam Baju Kaos" 28 September 2007, SekolaHI &amp;amp; Komunitas Idefix&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]. Partisipan 'Idefix Makassar', juga mendesain untuk "INGSOC", sebuah mini clothing yang dioperasikan secara mandiri oleh komunitas, untuk menghidupi Idefix dari serangan uang kontrakan dan tagihan listrik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Daftar Referensi :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Klein, Naomi. 2000. No Logo. Flamingo&lt;br /&gt;Debord, Guy. 1984. The Society of Spectacle. Zone Books&lt;br /&gt;Andre F; Muhammad Dahu. 2005. Jeune, Prada-Meinhoof, Rekuperasi – News From Nowhere 0.1&lt;br /&gt;Pam. 2006. Aku Membeli Maka Aku Ada - Konsep Do It Yourself Dalam Kasus Distro : Antara Community Empowerment dan Dependensi Konsumen, Beyond The Barbed Wire Issue No 02&lt;br /&gt;DPK Team. 2006. Krisis Representasi dan Pertukaran Kapital dalam Jurnal Nihilis Vol 01. Bandung&lt;br /&gt;Kolektif Kontra Kultura. 2003. Jurnal Odyssey. Bandung 2003 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-5153798545613124652?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/5153798545613124652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=5153798545613124652' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/5153798545613124652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/5153798545613124652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/02/menawarkan-hasrat-pembangkangan-pada.html' title='MENAWARKAN HASRAT PEMBANGKANGAN PADA SELEMBAR KAIN KATUN'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6lFg2-jtpI/AAAAAAAAAAk/M1cB8Ls2lNo/s72-c/ingsoc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-8661984557077372566</id><published>2008-02-04T00:06:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T19:36:36.602-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Mimpi Seusai Kerja</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6kqQW-jtnI/AAAAAAAAAAU/AQ22FVTZFeI/s1600-h/photo_walkingMan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163704908291225202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6kqQW-jtnI/AAAAAAAAAAU/AQ22FVTZFeI/s320/photo_walkingMan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;(oleh : Herman Hesse) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pos sekretariat deputi sebuah kementrian, saya mendapati diri berada dalam situasi yang sama mengesankannya seperti mereka yang beberapa tahun lalu harus melepaskan kebiasaan lama dalam melayani masyarakat. Kerja seharian memaksa kami hidup dalam ketegangan. Kami tidur dengan beban kerja dan bangun untuk kembali bekerja. Kami mengkhawatirkan urusan departemen, kami mencari ide supaya lebih baik, memakai metode paling sederhana, dan menceburkan seluruh aspek kepribadian kami dalam waktu-waktu kritis itu. Dan tiba-tiba kesempatan itu datang saat diri kami yang sejati-”Adam yang lampau” dalam konteks teologi-keluar bersama kami, lesu dan ragu-ragu seperti seorang laki-laki yang mencoba tersadar dari pembiusan dan telah sekian lama tidak memiliki kontrol penuh atas anggota tubuh maupun pikiran. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang saya rasakan beberapa hari yang lalu sepulang ke rumah dengan sebundel dokumen dalam genggaman. Matahari bersinar hangat. Udara menyebarkan aroma awal musim semi seakan-akan Hazelnut sedang berkembang di suatu tempat. Hanya beberapa saat sebelumnya dalam perjalanan pulang, pikiran saya dipenuhi persoalan tawanan perang. Saya mempertimbangkan surat dan memorandum yang rencananya akan ditulis setelah makan malam. Sekarang saya dalam perjalanan menuju luar kota dan dalam sekejap pikiran saya tidak lagi tertuju pada para taanan perang, penyensoran, makalah singkat, atau kesulitan dalam pengajuan kredit. Selama semenit ke depan saya melihat dunia seperti sebuah tampat yang bebas dari rasa takut. Burung hitam terbang melintas dengan cepat melewati pagar tanaman dan pohon limau yang membatasi perkebunan, menggores dahan lalu menukik menuju langit musim semi yang berawan tipis. Di sana-sini di pinggiran ladang terdapat sebidang tanah sempit yang ditumbuhi pepohonan dengan dedaunan hijau berkilauan dan sinar matahari menembus pohon Walnut yang rimbun. Saya melupakan apa yang ada dalam kepala dan segala sesuatu yang saya bawa dalam kopor untuk seperempat jam. Ketika perjalanan berakhir, saya tidak hidup dalam situasi yang kita sebut ’realitas”, melainkan dalam keindahan realitas otentik yang menderita bersama kita. Saya berbuat seperti anak kecil, seperti yang dilakukan oleh sepasang kekasih maupun seorang penyair. Saya melupakan sebuah maksud dan keinginan. Saya membiarkan diri ini hanyut dalam keindahan mimpi aneka warna. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Impian khayalan! Impian melitas di mata dan saya menyaksikan segala sesuatunya menjadi baru, terjadi untuk pertama kalinya di hari itu. Saya melihat sesuatu yang murni, tak bernoda, egoisme, sebuah lingkaran, dunia puas diri yang egoistik, amoral, hasrat asosial, dan bayangan masa depan. Tidak ada yang namanya perang dan perdamaian, tidak ada yang harus dilakukan untuk menebus tawanan perang, tidak ada yang harus dilakukan terhadap seni, sosial, sistem pendidikan, atau agam di masa depan. Semacam perhatian yang tidak menyentuh kedalamannya, hanya wilayah permukaan. Hanya sekali saja Adam yang lampau menyibakkan cadarnya. Dia masih anak-anak dan semua hasratnya terkait dengan diri sendiri dan dan kemauan azalinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya telah bermimpi, mimpi yang menakjubkan. Saya mimpi perdamaian datang menjelang. Kita semua digantikan generasi baru, matahari bersinar dan saya tidak bisa bertindak sesuka saya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam mimpi itu, saya melakukan tiga hal. Pertama , saya baring di pantai dengan kaki berjuntai menyentuh air. Saya mengulum setangkai ilalang dengan mata setengah terpejam dan menyenandungkan sebuah lagu. Untuk beberapa saat saya mencoba menerka nada lagu apa yang saya senandungkan itu, tapi itu tidak terlalu mengganggu. Lagi pula siapa peduli? Saya terus bersenandung sampai bosan dan menceburkan kaki ke dalam air. Saya hampir jatuh tertidur dalam kehangatan mentari, tetapi tiba-tiba semua kembali pada saya : saya bebas dan menjadi tuan atas diri sendiri, saya dapat berbuat sesuka saya, saya berbaring di pantai yang jauh dan luas dan tak ada seorang pun selain saya. Saya loncat-loncat seperti Indian yang memperagakan tarian perang, saya menceburkan tubuh saya ke air yang biru. Saya mengelepar-gelepar di air, berenang menuju ke pantai, merasa lapar, berlari ke pantai, mengibaskan air dari rambut, kemudian berbaring di samping ransel yang terbuka. Perlahan saya mengeluarkan sepotong roti, roti hitam yang telah ada sebelum perang, dan selai – sejenis selai yang biasa kita bawa saat piknik di sekolah sewaktu kita kecil-sekerat keju Swiss, sebutir apel dan sepotong coklat. Saya membentangkan kain dan meletakkan semuanya lantas menatap takjub sampai tak dapat menahan lapar lebih lama lagi. Kemudian saya melahap semuanya. Dan ketika saya mengunyah, kebahagiaan masa kecil yang terlupakan mengalir dari roti dan selai yang saya makan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak lama. Pemandangan segera berganti. Sekarang saya berpakain formal dan lengkap. Duduk dalam ruangan yang nyaman dengan jendela menembus taman. Bayangan ranting tergerai di jendela. Di pangkuan saya tergenggam buku dan saya terbenam dalam bacaan. Saya tidak tahu buku apa itu. Yang saya tahu temanya filsafat-tetapi bukan Kant atau Plato, barangkali Angelus Silesius-dan saya membaca dan terus membaca, menyelami diri sendiri dalam kebahagiaan tak terlukiskan karena sepenuhnya bebas dan tak ternganggu, tanpa kemarin maupun hari esok, di laut ini, dalam keindahan ini, lautan perhatian dan pengagungan yang tak pernah habis, dari antisipasi tak sabar yang akan membenarkan pemikiran saya. Saya membaca dan merenung, perlahan saya membalik halaman baru, di jendela seekor tawon berwarna coklat emas berdengung sementara keadaan sekitarnya sunyi, saya tidak menginginkan apa pun selain mengungkapkan hal yang sungguh mencukupi kepuasan batin.&lt;br /&gt;Dari waktu ke waktu, tampaknya dekat rumah atau dari dalam rumah, saya mendengar suara syahdu yang lembut dari sebuah biola atau mungkin cello. Perlahan suaur itu terdengar lebih keras dan lebih nyata, bacaan maupun pikiran saya sepenuhnya beralih. Saya mendengarkan musik, lebur dalam gairah tak sudah. Mozart mempengaruhi ketenangan dunia yang murni. Saya pikir telah berada di sana seumur hidup. Saya duduk di kursi antai di samping dinding yang rendah di sudut sebuah kebun anggur di lembah selatan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di atas lutut saya terdapat sebuah bingkai media lukis tangan kiri saya memegang palet dan di tangan kanan sebuah kuas. Di samping saya tergeletak tongkat penyangga tubuh, ransel saya terbuka, dan saya bisa melihat tube mungil untuk melukis. Saya mengambil satu, melepas tutupnya dan dengan kegembiraan amat sangat saya menekan tube biru kobalt termurni dan mengoleskannya pada palet, kemudian warna putih dan hijau kebiru-biruan untuk melukiskan udara pagi. Untuk waktu lama saya menatap pegunungan dan arakan awan coklat emas, dan mencampurkan biru laut dengan merah, menahan nafas sejenak sebab pemandangan menjadi tak terhingga lembutnya, bercahaya dan penuh khayal. Setelah ragu-ragu sejenak, kuas dengan coretan melingkar yang cepat melukiskan awan berkilauan menjadi biru dengan bayangan berwarna kelabu dan ungu, latar depan berwarna hijau dan guguran pohon Cheznut memainkan harmoni satu sama lain dengan warna merah dan latar belakang yang berwarna biru. Nuansa persahabatan dan kasih sayang yang terpancar, warna-warni menarik dan nuansa kebencian yang meledak dan segera kehidupan terkonsentrasikan dalam media lukis persegi tersebut. Segala yang ada di dunia ingin berbicara, mengaku dan meminta maaf-begitu juga saya pada dunia-menyatakan keinginannya untuk dilukis dengan warna putih dan biru dan kuning cerah yan ceria dan dalam hijau lembut yang manis. Dan saya rasa inilah kehidupan! Inilah yang dapat saya bagi dengan dunia, kebahagiaan dan sekaligus beban-beban saya. Di sinilah sayam merasa berada di rumah. Di sinilah kebahagiaan disimpan untuk saya, di sini saya menjadi raja, di sini saya bisa kembali ke masa lalu dengan mengabaikan dunia pegawai negeri yang menyesakkan.&lt;br /&gt;Sebentuk bayangan jatuh di atas lukisan saya, saya mendongak-saya sedang berdiri di luar rumah dan mimpi pun usai sudah.][&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;---&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;(Diambil dari kumpulan esai Herman Hesse ”Seandainya perang terus berkecamuk sebuah refleksi tentang perang dan politik” Jalasutra 2005) diposting oleh : Elha (Komunitas Idefix Makassar)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tentang Herman Hesse dan Esainya …&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Mimpi sesuai kerja ”adalah salah satu esai yang menggambarkan bagaimana kehidupan dunia kerja di masa perang, tentang beban dan keterpurukan serta mimpi-mimpi dan kerinduan akan sebuah kebebasan. Pencarian akan sebuah arti kehidupan. Menakjubkan, esai ini ditulis lebih dari setengah abad silam, namun gagasan-gagasan nya masih relevan dengan situasi dunia saat ini. Benar bukan? lihat apa yang digambarkan Herman Hesse tentang sebuah dunia kerja, bandingkan dan kita akan menemukan banyak kesamaan. ”Dunia kerja” yang terus mengalienasi manusia dari hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Herman Hesse (1877-1946) lahir di Calw, Jerman. Pernah menempuh pendidikan pada sekolah misionaris sebagai calon pendeta. Namun, ia mengalami krisis spiritual dan berusaha menjalani pengobatan spritual oleh seorang teolog ternama. Upaya itu gagal. Ia sempat berusaha bunuh diri, tetapi masih terselamatkan. Akhirnya ia keluar dari seminari Maulbronn tahun 1892. Setelah drop-out dari sekolah, ia lalu bekerja di toko buku selama beberapa tahun-sebuah tradisi pembelajaran yang memuluskan kariernya sebagai pengarang Jerman terkemuka. Perang dunia I muncul sebagai kejutan mengerikan. Hesse bergabung bersama seorang pasifis dan penulis benama Romain Rolland- selain menulis esai antiperang, dia juga menjadi editor surat kabar yang ditujukan bagi tawanan perang Jerman. Dan kemudian menekuni karya-karya Freud dan Jung saat menjadi pasien di sebuah sanatorium. Tahun 1919 dia menetap di Swiss. Dan kemudian hidup mengasingkan diri di Montagnola, Swiss sampai ia meninggal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karya-karyanya: Peter Camenzind (1904), Beneath the wheel (1906), Deman (1919), Siddhartha (1922), Steppenwolf (1927), Narcissus and Goldmund (1930), The Journey to the east (1932), Magister Ludi (1943), sebuah karya yang menghantarkan Hesse meraih hadiah Nober Sastra tahun 1946.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;”Dalam setiap esai, saya berusaha menuntun pembaca untuk tidak hanyut dalam panggung dunia dengan persoalan politiknya, melainkan mengajak para pembaca pada persoalan mendasar kemanusiaan, sebelum penilaian sepihak menduduki suara hati pribadi masing-masing...” &lt;/strong&gt;(Hesse)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-8661984557077372566?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/8661984557077372566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=8661984557077372566' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/8661984557077372566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/8661984557077372566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/02/mimpi-sesuai-kerja.html' title='Mimpi Seusai Kerja'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6kqQW-jtnI/AAAAAAAAAAU/AQ22FVTZFeI/s72-c/photo_walkingMan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-4130860330417940462</id><published>2008-02-03T23:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T19:07:37.320-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang kita'/><title type='text'>Saatnya akan tiba lagi teman.....</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6kjtG-jtmI/AAAAAAAAAAM/dNfQ8bHOKyQ/s1600-h/billbore.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163697705631069794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6kjtG-jtmI/AAAAAAAAAAM/dNfQ8bHOKyQ/s320/billbore.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;Februari 2008, artinya 3 bulan lagi idefix harus hengkang dari rumah indahnya, jika saja syarat untuk tetap di sana tidak dapat terpenuhi. Selama kurang lebih 7 bulan mengisi sebuah kehidupan yang benar-benar nyata di sana. Saat-saat seperti inilah keluarga kecil yang bernaung mulai diserang sedikit kegelisahan. Perasaan yang terulang setahun, dua tahun yang lalu. Berpikir dan berusaha agar tetap berteduh di bawah atap. Perjuangan untuk tetap merasakan hidup. Hidup yang tak dilihat dari sebungkus nasi atau sebatang rokok, bukan. Ia tak mampu memberikannya, mungkin belum saat ini. Tapi hidup yang ia berikan adalah lewat senyuman dan tawa keluarga kecilnya saat mereka berkumpul disana, atau juga bagi mereka yang berkunjung kesana. Lewat petualangan-petualangan seru menjelajahi buku. Lewat sebuah film yang ditonton bersama. Lewat diskusi dan obrolan santai. Lewat cerita dan romantisme 80 an serta secangkir teh yang menghangatkannya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Lewat petikan gitar dan suara sumbang yang mengiringinya. Lewat bait-bait puisi bulan purnama. Lewat kritikan dan celaan atas semua bentuk pembodohan. Lewat tingkah kocak para penghuninya. Lewat irisan wortel, kentang dan ramai tabling FNB tiap bulannya. Lewat karya-karya spektakuler sekolah menulis dan lewat semua ide dan mimpi-mimpi utopisnya. Semua adalah tentang hidup Walaupun permasalahan kecil adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari namun ia akhirnya mampu menyelesaikan diriya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p lang="sv-SE" style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lalu.. apa yang akan terjadi padanya 3 bulan akan datang?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Tiba masa tiba akal, mungkin itu yang akan terjadi. Seperti juga tah&lt;/span&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;un tahun yang lalu. Dan ataukah mungkin ini saat terakhirnya? Lebih baik tak memikirkan hal itu. Idefix tak akan pernah kehabisan ide dan imajinasi. Hidup akan terus berlanjut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Memanfaatkan waktu yang masih tersisa dalam rumah indah adalah hal mungkin yang dapat dilakukan. Toko buku mungkin akan memperbanyak jadwal lapakannya, perpustakaan akan menata dan memperbaharui kembali ruangan dan buku-bukunya, kinetik mungkin menambah jadwal tayangnya, FNB akan terus merayakan tablingnya. Halaman, dapur, dan kamar dan setiap ruang akan selalu bersih. Anak-anak kecil akan terus berayun di bawah pohon, mereka terus mengisi kertas – kertas kosong dengan gambar dan warna. Teman-teman akan terus memperbanyak ketikannya di jalan. Idefix akan terus menambah temannya, Blog ini akan terus menambah catatannya dan semua aktivitas keseharian akan berjalan baik-baik saja. Sekali lagi hidup akan terus berlanjut. Life goes on and on.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p lang="fi-FI" style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah itu? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Cerita ini akan berlanjut nanti tiga atau empat bulan yang akan datang. Saat semua kegelisahan dan ketakutan terlewatkan. Ada bagian yang terloncatkan dan mungkin tidak akan tercatat di sini. Ini adalah saat dimana kita sedang menarik nafas panjang dan sedang menuju pada bagian untuk mengembuskannnya dan terus bernafas lega...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Semoga semua terlewatkan dengan senyum dan keceriaan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;Ayo tetap &lt;b&gt;samanga’&lt;/b&gt; teman-teman...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p lang="fi-FI" style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;bersambung...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p lang="fi-FI" style="MARGIN-BOTTOM: 0in" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="fi-FI"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(oleh : Elha)&lt;/span&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-4130860330417940462?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/4130860330417940462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=4130860330417940462' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/4130860330417940462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/4130860330417940462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/02/saatnya-akan-tiba-lagi-teman.html' title='Saatnya akan tiba lagi teman.....'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_o2RCOh9qN9k/R6kjtG-jtmI/AAAAAAAAAAM/dNfQ8bHOKyQ/s72-c/billbore.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-5301487666102751981</id><published>2008-01-01T07:59:00.000-08:00</published><updated>2008-01-01T08:12:29.230-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='event'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reportase'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskusi'/><title type='text'>Catatan Diskusi Akhir Tahun Idefix Mini Bookshop - KONTINUM</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Indonesia 2008 dan Tantangan Gerakan Sosial.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 27 Desember 2007. Diskusi yang seyogyanya dilaksanakan pukul 16.00, ini harus tertunda karena beberapa hal. Beberapa panitia terlambat datang—kurang lebih setengah jam—dari acara undangan wisuda seorang teman. Ditambah kondisi hujan yang tiada henti dari pagi hari. Peserta undangan pun belum ada yang datang, sementara seorang pemateri telah hadir tepat waktu.&lt;br /&gt;Setelah menunggu persiapan serta peserta sejenak, pada pukul 17.30, acara diskusinya pun dilaksanakan. Acara diskusi akhir tahun yang bertema ” Indonesia 2008 dan Tantangan Gerakan Sosial”, dihadiri sedikitnya 20-an peserta. Diskusi berjalan lancar dengan peserta yang khidmat mendengar pemaparan materi dari panelis.&lt;br /&gt;Diskusi ini dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama mengambil sudut pandang ”Neo-liberalisme dan Eksistensi Indonesia sebagai Negara Bangsa”. Sesi kedua mengambil sudut pandang ”Peluang dan Tantangan Gerakan Sosial Sulawesi Selatan 2008”.&lt;br /&gt;Pada sesi pertama, permasalahan yang menyeruak adalah perdebatan nasionalisme sebagai sebuah ide untuk melawan. Menit-menit awal panelis pertama, Anto Mappenawwang, S.Ip, M.Si, Dosen Ilmu Politik Unhas, banyak menyinggung fenomena rasa nasionalisme masyarakat Indonesia yang mulai pudar, tergantikan ekspansi/imperialisme budaya luar, yang perlahan namun pasti mengaburkan makna hakiki nasionalisme. Sementara panelis kedua, M. Taufik Kasaming, Direktur Walhi Sulsel, banyak menjelaskan tentang skenario-destruktif-global yang mencoba mencengkeram bangsa Indonesia untuk masuk ke dalam genggamannya. Watak destruktif ini dinamakan dengan sebuah istilah yang sangat ’cantik’, globalisasi atau globalisme. Panelis kedua ini lebih senang menyebutnya sebagai ’GURITANISME’.&lt;br /&gt;Pada kesempatan sesi kedua, panelis pertama, M. Nawir dari Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM)/Up Link Makassar, dan panelis kedua, Muchtar Guntur, Kordinator Aliansi Buruh Menggugat Sul-sel, menyinggung tentang fenomena gerakan sosial, global dan lokal, dari segi ideologi, tantangan-tantangan yang beragam, serta konflik internal dalam tubuh gerakan itu sendiri.&lt;br /&gt;Untuk lebih lengkapnya, proses berlangsungnya perbincangan diskusi disajikan di bawah ini. Penyajian proses diskusi telah melalui pengeditan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Sesi I&lt;br /&gt;”Neoliberalisme dan Eksistensi Indonesia sebagai Negara-bangsa (sesi I)”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Alan (moderator): diskusi ini mengangkat tema Indonesia 2008 dan tantangan gerakan social.&lt;br /&gt;Anto: panelis I&lt;br /&gt;Taufiq : panelis II&lt;br /&gt;Panelis I: Indonesia sebagai negara bangsa msih menjadi perdebatan. Negara bangsa mensyaratkan adanya homogenitas etnik. Indonesia tidak punya itu. di eropa itu ada. Kedua adalah rasa loyalitas dan memiliki. Kesadaran sebagai bagian dari negara bangsa telah dimulai masa Soekarno dan terputus pada masa reformasi. Identintas bangsa yang dilanda oleh neo-liberalisme.&lt;br /&gt;Pengaruh neoliberalisme ada 3 yaitu:&lt;br /&gt;1. Liberalisasi ekonomi.&lt;br /&gt;Melalui beberapa sektor-sektor sehingga publik/negara tidak bisa mengontrol naiknya harga, ex: BBM, beras, minyak dst.&lt;br /&gt;2. Desentralisasi negara.&lt;br /&gt;      Diadakannya otonomi. Papua yang tipis rasa nasionalismenya, penjajahan terhadap Indonesia; menguatnya identitas lokal, sedangkan identitas nasional akan hilang.&lt;br /&gt;Adanya pengunduran politik ditandai dengan kurangnya kesadaran dalam politik nasional.&lt;br /&gt;3.pertarungan informasi.&lt;br /&gt;      Apakah kita pernah diajarkan untuk politik indonesia? Apakah kita tahu tentang perjanjian sosial di lontara? Dibandingkan dengan teorinya Karl Marx dan kawan-kawannya, besar peluang ke dapan Indonesia akan terpecah menjadi beberapa negara, bahkan akan hilang dari peta dunia. Sekarang kita pikirkan apa sih identitas bangsa? Adanya keseragaman. contoh: kita malu memakai sarung lebih memilih budaya moderen.&lt;br /&gt;      Identitas seperti apa yang ada di Indonesia?&lt;br /&gt;      Sekarang jelas identitas kita terancam. Tinggal kita pikirkan apakah persoalan ini kita biarkan berlangsung(untuk 2008), lihat life style dalam bingkai media yang membunuh karakter bangsa kita, bersatu untuk menjaga budaya lokalitas kita sebagai identitas bangsa.&lt;br /&gt;Panelis II: Apakah Indonesia masih layak disebut sebagai negara-bangsa di tengah keringnya nilai budaya lokal. Identitas kita sebagai negara-bangsa mulai rapuh.&lt;br /&gt;      Pancasila hanya sebuah simbol. Dalam konteks nasionalisme, apapun namanya, kita dalam sebuah kelompok intelektual, segala kita selalu pertentangkan. Ini sebuah pengantar dulu. Klo kita bicara kebudayaan, ya memang kita telah tercerabut dari akar kebudayaan. Tv adalah sebuah sarana partai politik. Zonasi masyarakat adat, begitu keluar sangat berbeda sekali. Masyarakat orang Kajang mempertahankan kebudayaan itu susah sekali. Kalau malam di Kajang, ada beberapa wacana oleh kelompok ilmuwan. Ada terjadi perubahan kebudayaan pertaruhan kebudayaan. Kebudayaan unggulan untuk kebudayaan baru. Dalam masyarakat Kajang telah terjadi seperti misalnya mereka ketinggalan, keluar takut pada hukum adat. Membentuk masyarakat yang ambigu. Begitu pun di Badui, apakah dengan mempertahankan kebudayaan…banyak analisa..pada tataran yang lebih luas, orang berpikir…ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan, siapa yang mengetahui teknologi dialah yang menguasai dunia. Misalnya dalam masyarakat hedon. Materialsme didasarkan pada materalisme…&lt;br /&gt;      Jangan heran sistem …masyarakat Eropa sangat konsumeristik. Mereka punya kebudayaan yang sangat mereka junjung tinggi. Dalam kelompok agama masih mempertahankan nilai agama jika tercerabut. Dalam konteks inilah yg menjadi dasar berpikir apakah kebudayaan di Indonesia harus tergilas. Ini mirip pertarungan tampil menjadi sebuah pilihan. memang kita harus memilih. Petarungan sosialisme dan kapitalisme. Kekalahan sosialisme...tapi tidak sepenuhnya mati. Apakah kebudayaan kita ...&lt;br /&gt;      Ada kebijakan untuk penyeragaman dalam berbagai hal. Ketika masuk era reformasi, banyak kebudayaan yang mengangkat kembali...kita bersyukur di tempat kita ada budaya siri. Dalam budaya jawa..bugis masyarakat yang pakai ini. Dalam konteks neolib, Indonesia kita ini diserang oleh mahluk besar, yang lebih buruk dari apa pun. Mahluk ini mencengkeram bumi berbetuk gurita, memakai topi dalam bentuk yg namanya globalisasi. sungutnya ada 6, penghisap yang mengisap bumi ini. Dan dia telah masuk dalam tatanan sosial kita. Pasar bebas. Ilham (bapak walikota, red) katanya masih butuh 20 mall lagi di makassar. Utang kita, kemarin kita berutang lagi 13 trilun. Keluar UU penanaman modal, privatisasi air, ...hutan kita habis seharinya sebanding dengan 300 lapangan bola. Kejenuhan reformasi.&lt;br /&gt;Sesi pertanyaan:&lt;br /&gt;Ipang : sehubungan dengan tema. Dari pemaparan tadi tujuan adalah sharing. Tanggapan kawan lain tentang potensi yang kita gali. Kita bicara membuat transformasi sosial, bukan cuma kajian tapi untuk kita gali bersama. Selalu kita sering menganggap kalau Indonesia adalah negara yang belum final. Bahkan belum pernah ada. Keindonesiaan ini untuk menjadi pemersatu. Dlm revolusi fisik, Soekarno memakai nasianalisme untuk melawan. Indonesia dipersempit menjadi struktur ..disubordinasi.&lt;br /&gt;komen :&lt;br /&gt;panelis I :serangan modernisasi mengikis nasionalisme lewat media. Ada keengganan para ... dalam menggali budaya bangsa. Disadari atau tidak, budaya bangsa adalah sosialisme/komunis. Bukan sama sekali bangsa yang liberal. Menghilangkan akar budaya bangsa lewat pendidikan merupakan langkah paling maju imperialisme. Indonesia itu anti individualisme. Tapi dipaksakan oleh imperialisme global, mental itu ditanamkan. Sosialisme local dipaksa tercerabut sebagai salah satu akar budaya bangsa.&lt;br /&gt;Panelis II : dalam memahami nasionalisme, masalah subjektif, awam yang kita perhatikan nasionalisme adalah simbol politik. Dimana-mana, di muka bumi. Sosialis, kapitalis dll. Cina itu sangat nasionalis. Amerika sangat nasionalis, Cuba dengn sosialisme juga sangat nasionalis. Pertarungan adalah nasionalisme kita yg sempit. Paham ideologi sosialisme. Kultur keindonesiaan. Tataran yang lebih luas dengan ungkapan dengan gerakan. Sebenarnya pancasila sebagai ideologi adalah ideologi pro-sosial. Para pendiri bangsa, nasionalisme adalah sebuah identitas. Untuk itu pertanyannya Ipang bisa diperlebar. Apakah nasionalisme sudah tercerabut dalam globalisasi. Memang dunia lagi diekpansi. Dilawan tdk………..dilawan dengan paham identitas. Cara pandang menjadi sebuah semboyan. Tahun2008 tidak banyak perubahan dalam gerakan sosial. Gerakan mahasiswa juga khususnya kelompok masih mewarnai wilayah. Ada juga kelompok yang terkungkung dalam aktivitas akademik.&lt;br /&gt;      Perubahan gerakan social 2008, tapi ada sinyal yg menjadi kontradiksi pokok. Paham kapitalisme, yang selalu menghisap org lain. Di Amerika sangat keras perlawanan, tgl ..kemaren di Fajar (koran lokal di Makassar, redi), diskusi dengan beberapa teman, dia percaya environtalisme bisa menjadi paham baru. Di muka bumi ada 300 orang kaya di dunia. Produk dari tatanan kapitalisme. Kalau 20% yang keluar dari bisa dibayangkan mengurangi orang miskin. Seorang warga negara Indonesia cenderung ke Singapura, menanamkan modalnya di sana. Pertumbuhan kapitalisme, 1920 kolaps 1940 tapi sekarang mampu. Apakah nasionalisme berasal dari dalam, apa landasan fikir, Anderson kita tidak dapat melihat Indonesia bukan dari dalam saja, nasionalisme adalah rasis internasional. &lt;br /&gt;Ippang: Nasionalismeku adalah kemanusiaan menurut Gandhi, apakah nasionalisme harus di belah, Nasion dijelaskan secara gamblang yaitu ikatan emosional yang dilandaskan secara kesamaan fisik. Yang pasti nasionalisme harus dibangun dari dalam. Untuk membangun nasionalisme yang kuat harus dari dalam. Jadi apa bila dari luar itu sama saja dengan doktrin tiap orang mempunyai perspektif yang berbeda sehingga akan ada perbedaan bentuk nasionalisme, harus ada kesepakatan yang harus disepakati bersama yang dapat mengikat kita dalam nasionalisme, batas-batas nasionalisme ini belum ada sepakatan.&lt;br /&gt;Dalam memandang tentang nasionalisme, di Cina sebuah negara komunis, bahwa nasionalisme sebagai landasan politik, dan daya pukul dalam memajukan bangsa, nasionalisme ala sosialisme. Apa landasan kita dalam memandang nasionalisme yang tidak dibatasi oleh etnisitas disisi lain. Kalau berbicara mengenai nasionalisme nilai-nilai universal itu tergantung dari nilai-nilai daerah yang terbungkus secara universal kalau kita berpandangan secara material nasionalisme terbentuk dari dalam, sehingga nasionalisme terbentuk dari kebudayaan daerah yang menjadi universal. Dalam memenangkan pertarungan politik, kita harus dapat memenangkan pertarungan politik&lt;br /&gt;Panelis II: Budayakan kata guritanisme, jangan bereufemisme dengan memakai kata globalisasi. Tentukan pilihan dan menjalankan kekuatan politik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Sesi kedua: Peluang dan Tantangan Gerakan Sosial Sulawesi Selatan 2008. &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Panelis I: Barangkali kita membenci nasionalisme, karena kita melihat bahwa kita ditindas, dilihat pada zaman Sukarno sebenarnya banyak yang terputus. Contohya kalau tidak jelas adanya perlawanan yang berarti, perubahan sosial dari organisasi masyarakat.&lt;br /&gt;      Kita tidak menemukan kpemimpinan rakyat, tapi kpemimpinnan LSM, ORMAS, apakah memang gerakan...kita belum selesai dalam beberapa...ada kontradikisi internal aktivis, bisa jadi potensi tapi bs juga jadi bomerang.&lt;br /&gt;      Membaca peluang dan tantangan agenda global atau neolib mudah masuk. Keberagaman watak dari yang sangat beragam, ada yang gaya liberal, lokal sangat beragam. Bisa menjadi sulit menyatukan gerakan. Tapi, ada juga sebagai tantangan yg bisa mendorong perubahan sosial. Di Indonesia di masyarakat sipil/ormas diidentifikasi sekitar 10000. Setelah reformasi membengkak menjadi partai politik atau, varian yang banyak. Ada semacam perkumpulan aktivis, yang harus bisa dilihat sebagai peluang.&lt;br /&gt;      Karakter dari ormas sipil ada yg konsen pd organizing. Ada juga yang konsen pada analisa yang mempengaruhi konsep kebijakan negara, ada juga yg kerjanya sebagai jaringan atau agen-agen.&lt;br /&gt;      2008 seperti apa? Ini adalah masalah klasik. Misal faktor eksternal. Penetrasi dari agen-neolib semakin massif. Di sul-sel sudah membuat pos-pos ronda. DI tingkat lokal adalah pertarungan politik, yang mempengaruhi, faktor eksternal dari kontradiksi masyarakat sipil adalah organ di tingkat daerah. Seberapa laten sisa dari kelompok lokal. Ini adalah fakta yang sulit diukur untuk melakukan perubahan sosial. Kalau dilihat secara...peluang baik atau tidak? Sulit skali mengukurnya. Sudah berjalan di tempat sudah bagus. Mungkin mpertahankan yang ada saat ini sdh baik. Menelusuri ..saya tidak punya bahan yg cukup. Mungkin mempertahankan yg sudah ada sudah baik. Setahun ke depan karena ada banyak kontradiksi internal yang mempengaruhi itu. Lebih mudah kita melihat sisi ...kita sendiri harus mengubah cara pandang untuk perubahan sosial kt sama-sama mengalami ..itu saja sementara. Mudah-mudahan bisa berkembang dalam diskusi ini.&lt;br /&gt;Panelis II: yang pertama adalah nasionalisme itu sendiri. Kalau perspektif kaum buruh, dari globalisasi hr ini yang tidak bisa terelakkan lagi. Perspektif kami buruh tidak punya negara. Contoh, sekitar ratusan tahun yang lalu buruh dipekerjakan 15 perjam. Solidaritas buruh. Nasionalisme yg digaungkan politisi adalah nasionalisme kamuflase. Mempertahankan RI adalah nasionalisme ini tidak sesuai dengan konsep awal nasionalisme sesungguhnya. Yang paling memahami adalah aktivis gerakan yang mengalami..dgn berbagi teori..masuk pd apa yang disampaikan kawan amin ..ada catatan penting kita di Sul-sel sejarah gerakan sosial di Sul-sel...dampak dari pilkadal yg sampai hari ini terjadi riak-riak. Sejarah paling heroik khususnya manusia, yaitu peristiwa ..yg mampu melakukan gerakan. Peristiwa amarah, terkahir reformasi, hingga ini tidak ada lagi sifatnya mengikat seperti gerakan masa lampau untuk solidaritas.&lt;br /&gt;      Selanjutnya adalah terkait dengan paska pilkada dengan keputusan MA apakah ini dimasukkan dlm gerakan sosial. Kecenderungan masyarakat kita adalah bisa bersatu dalam ikatan emosional tapi sulit disatukan. Yang ada semua punya kepentingan di beberapa NGO terjadi beberapa pengelompokan hingga lemah ideologi ini yg mesti lahir gerakan ke depan pra kondisi gerakan yg dibangun sdh ada. Bibit untuk melanjutkan tidak sulit lagi. Yang ada problem kepentingan. Akhirnya lupa gerakan dan merusak gerakannya. Kondisi gerakan sosial saat ini semakin kabur. Contoh, ketika kita diskusi, makin lama semakin berkurang pesertanya. Itu artinya tak ada keseriusan dalam membicarakan gerakan. Saya tertarik dengan gerakan buruh di peancis yang menytu dengan gerakan mahasiswa. Buruh dan mahasiswa begitu gigih dalam melawan alat refresif negara yaitu polisi. Kita indonesia, gerakan mahasiswa tidak menyatu dwngan gerakan buruh. Kalaupun menyatu, hanya momen tertentu. Jika terjadi penyatuan gerakan buruh dan mahasiswa, itu menandakan gerakan yang luar biasa.&lt;br /&gt;      Di tingkat elit mahasiswa hari ini, baru turun aksi satu kali langsung jadi tim suksesi di daerah. Seluruh entitas di indonesia, dikungkung oleh neoliberalisme/kapitalisme global, maka seharusnya gerakan itu menyatu. Tapi itu tidak terjadi. Tidak hanya terjadi di tingkat lokal, namun juga di tingkat global. (buruh sedunia, saling bersolidaritaslah. Dan tetap santai).&lt;br /&gt;Sesi pertanyaan:&lt;br /&gt;Amin: setiap gerakan sosial yang ada sebenarnya mengingnkan perubahan, namun tersandung di metode gerakan. Ada yang bertindak di tingkat global, ada yang berkeras untuk tingkatan lokal. Kedua, masalah pemimpin yang bisa mengkordinir gerakan. Menurut saya, yang paling bisa ditiru model gerakan kepemimpinsnnys adalah muhammad. Beliau bergerak tidak membawa wacana identitas, namun mengangkat isu keadilan sosial.&lt;br /&gt;Imran: contoh kecil saja untuk fenomena gerakan. Khusus di unhas, jangankan untuk menyatu dengan gerakan buruh, untuk isu di internal kampus saja tidak menyatu. Solidaritas itu harus diperkuat kembali antar entitas gerakan.&lt;br /&gt;Ippang: kalau dibahas kawan Muhtar adalah kita bersatu, klo saya bersatu masih sangat abstrak. Kita jelas hal-hal yg sifat sedemikan rupa mjajah. Jangan fisik pemamahan saja kita tidak ketemu. Tetapi harus merujuk pad hal2 yg konkrit. Buruh slama ini selalu dianggap yang bekerja pada pabrik atau kerah putih. Tapi bagaimana dengan mahasiswa. Pada intinya smua yg kerja di perusahaaan memiliki identitas yg sama seperti hal nasionalisme dalam hal klasifikasi sistem sosial. Kita msulit sesuatu yang dimaksud buruh cuma dianggap yg kerja dipabrik. Bagi saya mahasiswa adalah buruh tepatnya calon buruh, bgitu pula yg kerja di perusahaan yg, contoh BHP. Sulit disatukan jika ide kita bertolak belakang. Maka ada yang disebut mahasiswa itng akhir..yg memiliki ..kontribusi dalam ekonomi politik. perspektif subyek. Atau perspektif korban. Padahal kita sama-sama adalah korban. Jadi mesti ada redefinisi. Umumnya adalah definisi proletar.&lt;br /&gt;Tanggapan&lt;br /&gt;Panelis I: yang BHP tadi, saya juga berpikir betul yang kamu bilang seolah tidak ada orang tua di situ yang mengongkosi sekolah itu. Jadi bagaimana BHP menjadi gerakan masyarakat menolak privatisas pendidikn. Kerja-kerja gerakan yang membangun kerja dengan rakyat, cara pandang kita rakyat hanya menjadi kualitas. Semakin kita ..makanya banyak yang tidak terdapat dalam aktivis non kampus juga. Padahal, jika itu terkonsolidasi, ini akan menjawab yang dikemukakan Muhtar. Kalau kita percaya reformasi ..kita melahirkan banyak sekali aktivis. Banyak sekali.&lt;br /&gt;      Soal identitas saya rasa mengembang. Sejarah identitas menuju integritas atau nilai harus menjadi pembentuk identitas. Di situlah penyatuan gerakan dimungkinkan. Kita masing-masing in...atau kita hanya menjadi identitas saja. Tidak ada integritas gerakan. Dari penyatuan ke integrasi. Kapitalisme memang di Indo melahirkan kemiskinan wilayah perebutan, negara eropa, terputus juga cita-cita itu tentang emansipasi. Konon kalau terjadi perubahan sosial yang dahsyat itu cuma pada Asia. Semakin dia merebut semakin mendorong perlawanan. Sekarang kita tidak membacanya seperti apa.&lt;br /&gt;Panelis II: kalau di Unhas, ada sebenarnya gerakan yang cukup heroik ketika Soharto berkuasa. Itu ada di Catatan Kaki (tabloid pers mahasiswa Unhas, red) Unhas, dan Aliansi Mahasiswa Pro-demokrasi. Sejarah gerakan buruh di indonesia belm terlalu signifikan. Soharto ditumbangkan olrh mahasiswa, bagaimana jika mahasiswa dengan buruh yang menyatu, mungkin bukan rezim yang jatuh, namun tatanan yang ada pun akan runtuh dan berganti. Lalau masalh bhp. Teman-teman buruh pun ad yang anaknya mahasiswa. Nah, ini seharusnya ada penyadaran di tingkat buruh, bahwa isu bhp pun adalah masalah buruh juga. Wacana yang sampai hari ini belum hilang adalah bahwa gerakan buruh itu adalah komunisme. Ini adalah warisan orde baru. Namun, kami yang bergerak di gerakan buruh kami anggap sebagi tantangan. Sebenarnya, buruh itu makna sebenarnya adalah pekerja. Setiap orang yang bekerja untuk mendapatkan upah adalah buruh. Ini yang tidak disadari sepenuhnya.&lt;br /&gt;      Permasalahan hari ini, orang-orang yang dulu melawan, kini mulai masuk dalam tatanan yang dulu mereka lawan. Masalah kepemimpinan. Kondisi kepemimpinan hari ini di tingkatan gerakan sosial menjadi massalah. namun, sikap mereka sangat tidak jelas. Aktifis-aktifisnya tidak bersatu. Yang harus dipikirkan hari ini adalah aktifitas gerakan yang kontinu. Tidak terputus dan tak ada regenerasi.&lt;br /&gt;Abeng: jika tak ada pertanyaan dan tanggapan, kita akan selesaikan.&lt;br /&gt;No name: tahun 2000-an, banyak terbentuk organisasi maasyarakat sipil. Bedanya dengan gerakan muhammad adlah muhammad benar-enar bergerak dari bawah. Banyak organisasi massa yang terbentuk, namun tidak saling bersinergi.&lt;br /&gt;Irsan: tentang 2 mei. Hari pendidikan. Pasti banyak di antara kita trun kemarin. Menjadi masalah jika kepentingan politik tidak menyatu. Sering terjadi pereutan pemimpin aksi.&lt;br /&gt;Haidir: yang saya lihat di internal Unhas adalah perang ideologi. Dan 2 Mei kemaren adalah perang ideologi. Yang jadi korban adalah massa minoritas. Di setiap momen gerkan pasti trjadi perang ideologi. Apa yang seharusnya dilakukan agar kita bergerak dalam satu platform.&lt;br /&gt;Amin: saya tambah sedikit. Banyak kelas lain yang lupa dilirik oleh kelas gerakan. Seperti nelayan dan petani.&lt;br /&gt;Ippang: saya tambah dari Hairil. Fenomena menguasai dan dikuasai terjadi di banyak tempat dan arena.&lt;br /&gt;Panelis I: seharusnya pemerintah mendorong negosiasi(tetapi hal itu tidak mungkin akan terlaksana karena pembahasan tentang masalah tersebut harus dibicarakan pada tingkat internasional karena hal ini tertulis dalam peraturan internasional antar negara).&lt;br /&gt;      Solusinya harus ada tim investigasi yang total yang bergerak pada sektor yang ditentukan. Soal peringatan 1 dan 2 Mei seharusnya terkoordinasi dengan baik. Saya menawarkan seharusnya hal ini dilakukan jauh hari sebelumnya.&lt;br /&gt;      Kita tidak boleh berpikir secara sempit memandang sesuatu. Segala hal yang tidak ketahui seharusnya didiskusikan terlebih dahulu. Persoalan buruh adalah persoalan internasional karena pemerintah tidak pernah memberikan hak-hak buruh masuk kepada model/bentuk kelas baru sebenarnya tidak ada, yang berbeda hanyalah soal upah.&lt;br /&gt;      Kita harus menghilangkan soal identitas dan seharusnya yang dilakukan adalah diskusi lepas dan membentuk sebuah program yang programatis dan melaksanakannya.&lt;br /&gt;Panelis II: Mengoptimalkan yang ada. Yang pertama adalah harus melakukan kerja-kerja organizing. Dibutuhkan pengorbanan dan yang kedua adalah proses ideologisasi. Kita harus menemukan satu kekuatan yang ideologis, termasuk penyadaran diri dan sosial. Kerja-kerja aliansi untuk menemukan formula-formula baru yang sekarang banyak kita lihat contoh persekutuan-persekutuan buruh. Artinya, jika hal ini dipertahankan secara bersama-sama hal ini bisa menjadi hal yang sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;—selesai—  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Catatan: fragmen-fragmen kalimat yang terputus, murni disebabkan kerja notulensi yang tidak maksimal ketika mencatat. Mohon maaf dan harap maklum!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-5301487666102751981?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/5301487666102751981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=5301487666102751981' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/5301487666102751981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/5301487666102751981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2008/01/catatan-diskusi-akhir-tahun-idefix-mini.html' title='Catatan Diskusi Akhir Tahun Idefix Mini Bookshop - KONTINUM'/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4945703291944041088.post-2155978809250863975</id><published>2007-07-26T10:46:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T11:09:13.818-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Halo, halo... semua. Akhirnya halaman ini bisa publish juga setelah sekian lama bersarang di hardisk. Namun, yang anda lihat ini masihlah edisi percobaan, karena masih akan ada satu rekonstruksi lagi sebelum kita semua dapat berkunjung di halaman maya 'rumah idefix'. Ke depannya, anda akan mendapatkan informasi tentang apa saja yang terjadi dan akan menjadi di Idefix....... Salam penuh cinta!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4945703291944041088-2155978809250863975?l=idefixmakassar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/feeds/2155978809250863975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4945703291944041088&amp;postID=2155978809250863975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/2155978809250863975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4945703291944041088/posts/default/2155978809250863975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://idefixmakassar.blogspot.com/2007/07/halo-halo.html' title=''/><author><name>idefixmakassar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17814129265736846587</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
